langit biru cerah, lengkap dengan sinar mentari bulan september yang pucat. angin musim gugur membawa rerontokan daun - daun yang menguning ke pinggiran desa yang sepi, tempat Adrian sedang melangkah dengan santai. dari tadi pagi dia sudah memulai latihannya, dan sekarang dia ingin menikmati waktu istirahatnya yang singkat bersama Sybill, kucingnya.
sybill mengeong pelan. bulu di punggungnya menegang dan dia berhenti dengan sikap waspada. adrian juga berhenti berjalan. bukan saja karena dia mempercayai naluri tajam Sybill, tapi juga karena dia merasa ada seseorang yang mengawasinya dari tadi. adrian menajamkan telinga, meneliti setiap suara yang berdesir di telinganya: suara angin, gesekan daun pinus, helaian ilalang, detak jantungnya sendiri, dengkur pelan sybill di sebelahnya, dan...
derak halus kerikil yang terinjak seseorang.
adrian langsung berbalik, tepat saat sebuah batu melayang ke arahnya. dengan reflex yang sudah terlatih, dia menangkapnya dalam gerakan cepat, sebelum batu itu menghantam hidungnya dengan telak.
" bagus sekali! "
adrian menurunkan tangannya dan melihat seorang laki - laki setengah baya dengan bahu tegap dan lengan kokoh di depannya. wajahnya penuh kerut dimakan usia, tapi semangatnya yang besar masih sama seperti 20 tahun sebelumnya.
" master, " adrian memberi hormat
" sangat penting untuk tdk menanggalkan kewaspadaanmu dimanapun kau berada, " laki - laki itu maju menghampiri adrian, " apa aku mengganggu waktu istirahatmu? "
" tidak, master, " adrian terpaksa berbohong. sebenarnya dia ingin sekali berjalan - jalan seperti ini. hanya dia dan sybill. tanpa harus terganggu oleh waktu latihan.
masternya tersenyum kecil, " aku tidak bermaksud mengganggu. hanya saja terkadang harus ada orang yang menguji reflexmu saat kau beristirahat. hal ini sangat penting untuk memastikan kau tdk akan kehilangan apa yang harus kau jaga saat sedang duduk - duduk di bawah pohon, "
" ya master, "
" aku kesini juag ingin membicarakan sesuatu padamu. topik yang agak sensitif sebenarnya, "
" saya akan kembali ke Ward sekarang, " kata Adrian cepat.
" tidak, jangan menyudahi istirahatmu yang langka ini karena aku, " masternya mengibaskan tangannya dengan cepat, " ini hanya tentang...cuaca, "
" cuaca? " ulang adrian
" ya. tidak kah kau pikir kalau musim gugur sekarang terasa lebih dingin dari biasanya? "
" ya, memang musim gugur kali ini sangat dingin, tapi bukankah itu normal, master? " tanya adrian ragu
" tidak..tidak..ini lain dari biasanya. ada sesuatu yang aneh namun aku tidak tahu apa itu. apa kau benar2 tidak merasakannya, adrian? " tanya gurunya sambil menyisir rambutnya dengan cemas.
adrian hanya menggeleng. dia benar2 tdk tahu. menurutnya musim gugur tahun ini tidak banyak berbeda dari tahun sebelumnya. atau mungkin karena di musim gugur yang sebelumnya dia tidak bisa keluar dari Ward sehingga baginya cuaca kali ini normal2 saja.
" aku mencurigai sesuatu tapi itu belum pasti, " masternya terlihat berpikir keras.
" mungkinkah..mungkinkah ada sesuatu yang buruk menimpa..." adrian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. dia tidak biasa membiacarakan soal gulungan yang harus di jaganya itu di luar Ward.
masternya menggeleng, " tidak, kalau terjadi sesuatu pada gulungan itu, kita pasti akan diberi kabar. ini pasti sesuatu yang lain, "
" apa itu berarti baik atau buruk, master? " tanya adrian
" aku takut ini sesuatu yang buruk, " gumam masternya. pria tua itu menengadah, mengamati langit di atas kepala mereka. adrian mengikuti masternya dan tersentak kaget saat menyadari kalau langit biru yang cerah tadi mulai tertutup awan kelabu. sinar matahari bertambah pucat, sebelum akhirnya menghilang sama sekali tertutup awan tebal. tiba2 saja adrian baru menyadari dingin yang ia rasakan kali ini tidak seperti yang biasanya. ada sesuatu yang aneh. ada sesuatu yang jahat yang dibawa oleh hembusan angin dingin itu.
"adrian, maafkan aku, tapi sepertinya aku harus menyuruhmu untuk kembali ke Ward, " kata gurunya
adrian tahu bahwa waktu istirahatnya kali ini harus di sia2kan kembali. ia hanya mengangguk menyetujui dan menoleh pada sybill dan berkata
" maaf, sepertinya kali ini kita tdk bs bermain lagi, "
dan entah bagaimana, sybill mengerti kata2 yang diucapkan oleh adrian dan setelah menatap adrian dengan marah, yang berubah menjadi tatapan iba, dia meninggalkan adrian. setelah sybill pergi, adrian segera menyusul gurunya.
***



0 komentar:
Posting Komentar