aku melangkah menuju sumur di tengah - tengah hamparan ilalang itu. matahari sudah terbenam dan sinarnya yang temaram membuat pemandangan di depanku terlihat keemasan, sangat indah. aku menghela napas sembari menghela diriku ke sumur itu. embernya tergantung bebas tertiup angin yang semilir. aku menurunkan embernya ke bawah dan menghela ember yang berisi air itu ke atas. rutinitas soreku yang biasa, selalu semembosankan ini sejak dulu kala,
samar - samar diantara suara semilir angin, kecipak air di dalam sumur, dan gesekan ilalang, aku mendengar suara napas dan erangan tertahan. aku menghentikan kegiatanku dan menoleh ke kanan dan ke kiri. aku yakin tidak salah dengar. sudah berbulan - bulan aku mengambil air di sumur ini dan baru kali ini aku mendengar suara asing itu. dengan hati - hati aku meninggalkan sumur itu dan mulai berjalan ke sekeliling sumur, mencari asal suara yang tidak biasa itu.
.....dan aku menemukannya.
***
pemuda itu sepertinya seumuran denganku. dan dia luar biasa tampan. sesuatu pada wajahnya membuatku merasa dia adalah seseorang yang familiar. aku bertanya - tanya apa warna matanya dibalik kelopak matanya yang tertutup dan bagaimana suaranya saat dia bicara. siapa dia? darimana asalnya?
terdengar suara ketukan keras di pintu kamarku, membuatku terlonjak.
" hei gadis muda! aku tahu kau di dalam! lebih baik kau keluar sebelum aku mendobrak pintu ini! "
aku memutar mataku dan beranjak ke pintu, membukanya perlahan dan mengganjal daun pintunya agar si tukang daging yang menyewakanku kamar ini bisa melihat wajahku tapi tidak bisa melihat siapa yang berbaring diatas tempat tidurku.
" apa yang kau lakukan di sini, pemalas?! "
" dengan segala hormat, bisakah kau berhgenti berteriak - teriak? " aku menggertakkan gigi, " aku sudah mengambil air di sumur dan menaruhnya di dapurmu! "
" kau pikir pekerjaanmu selesai sampai di situ?! bagaimana dengan tumpukan - tumpukan piring itu?! kau pikir mereka bisa mencuci dirinya sendiri?! kau pikir aku menyewakan kamar ini dengan gratis hah?! " pria itu, bau dan kotor dengan segala noda - noda darah dan daging di celemeknya, memelototiku dengan galak.
aku tahu aku sudah kalah telak saat dia menyebut - nyebut tentang kamar yang sekarang aku tempati ini. aku menghela napas tanda kalah, " aku akan mencucinya setelah ganti baju. pakaianku basah saat mengambil air tadi, "
pria besar itu memberiku sumpah serapah dan beranjak meninggalkan pintu kamarku. aku menutup pintu dan berbalik, lalu terlonjak.
pemuda yang tadi berbaring tak sadarkan diri di tempat tidurku sekarang sedang duduk sambil memegangi kepalanya. dia mengerang pelan. dia menoleh perlahan padaku yang menatapnya sambil mematung.
" siapa....? "
aku berjalan mendekatinya dengan hati - hati, membiarkan pertanyaannya tergantung di udara diantara kami.
" aku menemukanmu di dekat sumur di padang rumput. aku yang harusnya bertanya. kau siapa? "
dari dekat aku bisa melihat pemuda itu memiliki mata berwarna coklat tua. suaranya berat dan agak serak. dan dia menatapku dengan memicingkan mata.
" aku...tidak ingat.. "
" apa maksudmu dengan...tidak ingat? " aku merasakan jantungku berdebar - debar.
" apa kau tahu siapa aku? "
" kalau aku tahu aku tidak akan bertanya, " jawabku hati - hati.
pemuda itu mengeluh dan memegang kepalanya, " aku tidak ingat... "
aku beringsut dan duduk di kaki tempat tidur, " namamu? tempat tinggalmu? "
" ...tidak ingat "
aku menatapnya dengan perasaan campur aduk, "oh "
" kau siapa? " sekarang pemuda itu menatapku dengan pandangan ingin tahu. mata coklatnya terlihat besar dan berair. memberi kesan kekanak - kanakan di wajahnya.
aku tertawa serak, " lucunya, aku juga tidak tahu siapa aku "
" apa maksudmu? "
aku tersenyum masam, " aku ditemukan di tempat aku menemukanmu dalam keadaan seperti ini, " aku mengangkat bahu " seperti kau, aku tidak ingat apapun, sama sekali. "
***
aku menunggu sampai pak tua penjaga perpustakaan merapikan barang - barangnya dan bersiap menutup perpustakaannya, dan menghampirinya dengan cepat.
" selamat malam, "
dia mendongak dari kesibukannya membereskan kacamata dan buku - buku di mejanya. senyumnya terkembang saat melihatku.
" ah nona muda, senang sekali melihatmu! tidak biasanya kau mengunjungiku malam - malam seperti ini. sayangnya aku harus menutup perpustakaan ini. kau bisa datang kembali besok pagi "
pak tua itu selalu ramah dan menyenangkan, tidak seperti si tukang daging yang menemukanku di samping sumur di padang rumput, membawaku ke rumahnya, menjadikanku pembantunya dengan bayaran sebuah kamar kecil yang lusuh sebagai tempat tinggal.
" maaf mengganggu anda, Pak " aku mengedarkan pandangan gelisah ke sekeliling perpustakaan yang sudah sepi, " saya kesini bukan untuk meminjam buku. saya ingin meminta tolong pada anda, "
" ah? apa yang bisa orang tua ini bantu, anakku? "
" begini, " aku menatapnya gugup, " aku menemukan seorang pemuda di belakang sumur di padang rumput sore ini. dia...dia juga tidak mengingat apapun. sama seperti saya, "
aku melihat ketertarikan di mata sepuh sang penjaga perpustakaan, " lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? "
" saya merasa...mungkin ada keterkaitan antara saya dan dia. kami sama - sama tidak ingat apapun dan kami ditemukan di tempat yang sama. saya tidak bisa membantunya mencari tahu siapa dia karna saya harus bekerja sepanjang hari di rumah tukang daging. bisakah..biasakah pemuda itu bekerja di sini untuk anda? dengan begitu mungkin dia bisa mencari tahu siapa dia...siapa saya...sambil membantu anda di perpustakaan ini "
penjaga perpustakaan itu menatapku, menimbang - nimbang tawaranku, dan menjawab hati - hati, " tapi anakku, aku tidak memiliki appaun untuk ditawarkan sebagai pembayaran untukmu ataupun untuk pemuda ini. tidak seperti tukang daging yang bisa membayarmu dengan sebuah kamar untuk tempat tinggal, aku tidak memiliki apapun untuk ditawarkan kepada kalian "
dia benar, aku tahu itu. tapi menaruh pemuda itu di kamarku pun bukan penyelesaian. entah apa yang akan dikatakan si tukang daging jika dia tahu. tentu saja akan lebih mudah bagiku kalau meminta tukang daging untuk menerima pemuda itu bekerja padanya dengan bayaran sebuah kamar sebagai tempat tinggal. bagaimanapun juga tenaga seorang laki - laki akan lebih dibutuhkan di pasar. tapi aku tidak tega memberikan pemuda itu pada si tukang daging. dia bukan majikan yang baik. hampir setengah tahun aku bekerja padanya dan tidak pernah kudapatkan kenyamanan satu hari pun darinya.
" anda...anda bisa membiarkannya tidur di sini, " aku menatap pria tua itu dengan putus asa. " dia akan bangun pagi - pagi sekali dan memastikan perpustakaan ini sudah rapi. dan dia akan memastikan perpustakaan ini tetap rapi dan aman saat malam datang. biarkan dia tinggal di sini sebagai pembayaran "
pria tua itu menatapku, melihat keputusasaan di wajahku. dia menghela napas, " baiklah. tapi pastikan jangan sampai ada penduduk desa yang tahu kalau aku menjadikan tempat ini sebagai penginapan untuk orang asing "
***
sore itu aku bekerja seperti kesetanan. aku mencuci semua pisau dan parang si tukang daging sampai mengkilat. aku menyapu dan mengepel dapur, memastikan tidak ada noda setetes pun di sana. aku melayani pembeli dengan sangat manis, menyiapkan makanan untuk si tukang daging dengan cepat. hari itu tidak ada satu sumpah serapah pun yang keluar dari mulut kasarnya. dia tampak puas,dan sedikit curiga, tapi tetap enggan memuji atau menanyakan apa itikad dibalik performa kerjaku hari ini.
saat akhirnya kios itu tutup karena semua daging untuk hari ini telah habis dijual, tukang daging itu beringsut kembali ke kamarnya dan meninggalkan sisa - sisa makanan di atas meja untuk kumakan. aku membungkus semua sisa makanan itu dan menyelinap keluar. menuju perpustakaan.
perpustakaan sepi seperti biasa, hanya ada beberapa orang yang melihat - lihat rak - rak berisi buku - buku tipis di sana. tidak ada seorangpun di desa ini yang berminat pada perpustakaan kecil itu. tidak ada juga yang menyadari seorang pemuda asing yang sekarang membantu bersih - bersih di sana. pemuda asing itu memberikan senyum cerah yang menawan saat melihatku datang. aku membawanya menepi ke belakang rak - rak buku dan menunjukkan apa yang kubawa.
" apa kau sudah makan? "
dia menggeleng. "tidak ada yang bisa dimakan di sini selain buku - buku, " dia menjawab geli.
" makanlah, " aku mengangsurkan sisa - sisa makanan yang seharusnya menjadi makan malamku.
pemuda itu meraih makanan yang kubungkus untuknya dalam serbet dan membaginya separuh. dia mengangsurkan separuhnya padaku, " aku tahu kau juga belum makan "
" darimana kau tahu? kau tidak.... " aku menatapnya gelisah.
" memata - mataimu? " dia tampak geli, " kau bisa bertanya pada pak tua penjaga perpustakaan, aku tidak melangkah satu langkahpun dari gedung ini sejak tadi pagi kau membawaku ke sini, "
aku berdehem tidak nyaman, " maaf tentang itu. aku tidak tahu harus kemana lagi aku membawamu. dalam pikiranku, ini adalah tempat yang paling cocok, "
" untuk menyembunyikanku, " pemuda itu mengangguk, " dan untuk mencari tahu siapa aku dan siapa kau. kau benar. ini tempat yang paling cocok, "
" apa kau keberatan bekerja di sini? "
" aku akan melakukan apapun yang kau mau aku lakukan, " jawab pemuda itu
" darimana kau mendapatkan kepercayaan sebesar itu padaku? " aku menatapnya dengan heran.
pemuda itu mengangkat bahu, " aku hanya merasa kau pantas untuk itu, "
terlepas dari kenyataan kalau kami baru saja berkenalan dan kami bahkan tidak saling mengenal satu sama lain, aku merasakan wajahku memerah.
" aku merasa kau memegang kunci yang penting dalam hidupku, " pemuda itu menatapku sungguh - sungguh, " aku merasa ada keterikatan diantara kita berdua, "
" apa...apa yang sudah kau dapatkan hari ini? " aku berdehem, mengabaikan kata - kata intim yang diucapkannya tadi. mungkin dia terlalu banyak membaca buku roman. pasti begitu.
" tidak banyak. aku menumpuk semuanya di sini. kupikir kau akan mau melihatnya saat kau datang, "
kami berjalan melewati beberapa meja dan rak buku, dan sampai pada meja paling belakang, dimana terdapat tumpukan buku di sana. aku menatap tumpukan itu dengan tidak percaya.
" kau sudah membaca sebanyak ini? sejak aku meninggalkanmu tadi pagi di sini? "
" yah...aku tidak punya pekerjaan lain di sini selain membaca, bukan? aku melakukan tugasku dengan baik, " dia menyeringai bangga.
" lalu apa yang kau temukan? "
" belum ada sesuatu yang berarti. tenang saja, aku akan mengabarimu kalau aku menemukan sesuatu, "
" oke, kabari aku terus. kita harus mendapatkan sesuatu dari semua buku ini. pasti ada sesuatu di sini, "
" kuharap juga begitu, "
***
hari berganti dan tidak banyak yang berubah. kami bekerja di tempat kami masing - masing dan makan bersama di sudut perpustakaan setiap malam menjelang waktu tutup perpustakaan. sampai suatu hari, pemuda itu mengajukan suatu pertanyaan.
" apa kau merasakannya? "
" merasakan apa? "
" getaran itu? "
" getaran apa? gempa? "
" bukan. getaran aneh setiap kau menyentuhku, "
aku menatapnya seakan dia gila. apa dia baru saja merayuku?
" aku tahu apa yang kau pikirkan. aku tidak gila, dan aku tidak sedang merayumu. tapi aku benar - benar merasakan sesuatu bergetar setiap kita bersentuhan. "
aku menatap tanganku, lalu menatap tangannya.
" kita tidak pernah bersentuhan, "
" tidak secara sengaja, "
dia mencomot roti bagianku dan jari - jarinya menyenggol jariku. dia mengernyit.
" seperti itu. apa kau merasakannya? "
aku menatapnya dengan bingung, " tidak terasa apa - apa, "
dia kelihatan jengkel, " bagaimana mungkin kau tidak merasakan apa - apa sementara hal itu menggangguku sepanjang hari? "
dia menatapku dengan ragu dan dengan hati - hati meraih tanganku. aku mendengarnya terkesiap kesakitan saat dia menggenggam tanganku. dia menunduk, tangannya menggenggam jari - jariku dan dia menggumamkan sesuatu. aku beringsut ke depan untuk mendengarkan apa yang dia katakan, dan saat itulah
aku merasakan sensasi aneh itu.
getaran samar yang sebenarnya tidak begitu menggangguku, tapi bukan itu saja.
ada sesuatu yang lebih besar. sebuah rasa yang menelanku.
rasa kekuasaan. rasa kepemilikan.
aku mendongak dan melihatnya juga mendongak menatapku.
dia tertawa serak, " nah, sekarang kau merasakannya, "
***
kami menyebutnya ikatan.
sensasi kepemilikan itu begitu kuat, sampai aku bisa menyebutkan suatu perintah dan pemuda itu langsung melaksanakannya tanpa bertanya.
dan getaran yang dia rasakan, secara fisik itu menyakitkan tapi dia mengatakan dia menikmatinya. menyakitkan tapi dia menantikannya.
kalau aku menyebutkan satu perintah dan dia melakukannya, getaran itu tidak lagi mengganggunya.
tapi itu menggangguku.
bagaimana mungkin aku bisa mengimplikasikan rasa sakit yang begitu besar pada seseorang yang baru saja aku kenal, membuatnya menuruti apapun yang kuperintahkan?
bagaimana kalau aku menyuruhnya terjun dari tebing? apakah dia akan benar - benar terjun?
harus ada suatu alasan dibalik ikatan itu. harus ada sesuatu yang masuk akal yang mendasarinya.
***
siang itu aku melakukan tugasku sambil melamunkan ikatan aneh itu. aku mendengar si tukang daging meneriakiku dan memerintahkan aku mencari buah - buahan di kios lain karena malam ini dia ingin memakan sesuatu yang menyegarkan tenggorokannya. dengan langkah malas aku mengambil keranjangku dan berjalan mengitari pasar untuk mencari buah segar.
mungkin aku terlalu banyak melamun atau mungkin siang itu begitu terik hingga aku kehilangan konsentrasi, aku hampir terjungkal saat seorang pria berlari dan menabrakku.
tepat di detik - detik terakhir sebelum wajahku menghantam tanah, pria itu menarikku berdiri dan menahan tubuhku dengan mantap.
dan aku merasakannya lagi.
getaran itu, sensasi kepemilikan yang familiar.
aku mendongak untuk menatap pria itu dan melihat dia juga menatapku dengan terbelalak. dia juga menyadari sensasi itu.
terdengar suara seorang wanita memanggil - manggil sebuah nama, menyeruak kerumunan dan menghampiri kami.
wanita itu memakan mantel berpergian berwarna hitam, parasnya cantik dan sesuatu di wajahnya memberitahuku kalau dia lebih muda dariku. rambut hitamnya dibiarkan tergerai dan dibalik mantel hitamnya aku melihat dia menggunakan blus putih dengan rok hitam dan sepatu hitam yang mengkilat.
wajah itu tampak familiar.
dia menatap pria yang menolongku, lalu menatap tangan kami yang bertautan, lalu menatapku.
dan dia menjeritkan satu kata yang tidak pernah aku lupakan.
" kakak?! "
***
" mereka adalah werewolf, dan kita adalah kaum penyihir yang memiliki keterikatan dengan mereka, "
gadis itu, yang kini kuketahui adalah adikku, menjelaskan dengan suara pelan. kami berjalan di sekitar sudut pedesaan yang temaram menjelang matahari yang mulai terbenam.
" penyihir? "
" setiap werewolf memiliki ikatan dengan satu penyihir. ikatan itu seperti takdir. satu werewolf hanya untuk satu penyihir. satu penyihir dapat memerintah banyak werewolf tapi hanya ada satu werewolf yang terikat untuk menjadi pelayannya seumur hidupnya. "
" jadi pria tadi adalah werewolfmu? " aku memastikan.
" ya. tapi saat seorang werewolf menyentuh seorang penyihir, mereka akan saling mengenali. kau bisa memerintah werewolfku tapi dia memiliki pilihan dan kekuatan untuk menentang perintahmu. tapi kalau kau memerintah werewolfmu sendiri, dia tidak bisa menentangnya walau satu tarikan nafas pun. "
aku teringat sensasi kekuasaan yang melingkupiku dan bagaimana pemuda yang kutemukan di padang ilalang kemarin mengatakan kalau getaran yang dia rasakan menyakitkan tapi dia justru merasa menantikannya.
" kurasa aku sudah menemukan werewolfku, " aku memberitahu adikku.
" saat kau menghilang kami semua mencarimu kemana - mana. tapi werewolfmu lah yang paling mencemaskanmu. bagaimana pun ada keterikatan diantara werewolf dengan penyihirnya. kau adalah pasangan takdirnya dan dia tidak bisa kehilanganmu. belakangan dia juga menghilang dalam usahanya mencarimu. aku dan werewolf ku ke desa ini karena kami merasakan ada getaran ikatan di sini. aku sempat pesimis, tapi saat aku melihatmu siang ini, aku benar - benar lega kau baik - baik saja. bahkan kau sudah bersama werewolf mu. aku tidak bisa lebih bersyukur lagi daripada ini, " adikku menggenggam tanganku dengan senyum terkembang, " setelah kini aku menemukanmu, kuharap kau akan kembali bersamaku ke rumah kita yang dulu. "
" aku..tidak punya ingatan apapun tentang rumah yang kau sebutkan itu, "
" bukankah itu alasan yang lebih bagus untukmu untuk ikut bersamaku? siapa tahu dengan melihat rumah itu kau akan ingat sesuatu. pulang lah. kau dan werewolfmu, "
aku menatap adikku. adik yang tidak kumiliki ingatan tentangnya.
" aku harap juga begitu "
***
" karena itu, kurasa akan lebih baik kalau kita berdua ikut bersamanya. pulang ke tempat asal kita "
pemuda itu, werewolf ku, mendengarkan penjelasanku tanpa banyak komentar. dia hanya mengangkat bahu, " oke, "
" kau tidak senang? kau tidak terganggu dengan ketiadaan ingatanmu? "
" bukan itu, " dia menghela napas.
" kau tidak tampak senang. ada sesuatu yang mengganggumu, " aku menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan.
" begitukah? "
aku menatapnya jengkel dan meraih tangannya. sensasi keterikatan muncul diantara kami. dia terkesiap dan menutup matanya. ekspresi kesakitan itu melunakkan kejengkelanku.
" apa yang kau pikirkan? apa yang mengganggumu? "
itu bukan pertanyaan. itu adalah perintah. perintahku agar dia menjawabnya.
werewolf ku meringis. dia meraih satu tanganku yang tidak menyentuhnya dan menggenggamnya erat - erat.
" yang menggangguku adalah, kenyataan bahwa, sekarang aku tahu ada orang lain yang bisa memerintahku selain kau. kenyataan bahwa kau merasakan getaran itu tidak hanya saat menyentuhku. kenyataan bahwa getaran ini tidak lagi eksklusif hanya milikmu. yang menggangguku adalah.....keinginanku agar getaran ini hanya dirasakan olehku saat kau menyentuhku. hanya kau saja, "
Rabu, 28 September 2016
Jumat, 17 Juni 2016
the beginning of internsip
i don't know what the heck which possessed me because suddenly i want to write personal stuff again in this blog (oh men! after all this time! wkwk)
sebenarnya gw nulis juga kok beberapa personal stuff di tumblr gw, which is always contain 3 hashtag: #him #her and #hakku. yep, 3 hashtag yang bikin hidup gw tetap berjalan: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan ( i hope so but nope, im not that lucky)
anyway, singkat cerita, secara terkahir kali postingan blog gw 3 tahun yang lalu dan itu adalah postingan koas (and i am just too lazy to cintinue it), gw bakal fast forward ke masa - masa sekarang. yap, ke tahun 2016. sambil sesekali kalo lagi (hipo)manik atau lagi kebanyakan kuota (lol) gw akan berflashback ria ke kehidupan koas gw yang vakum dari blog ini.
so recently, i am a doctor now. M.D alias medical doctor. udah bukan mba koas atau mba isip lagi. and it is...such a bless, because of my personal health condition yang akan gw jabarkan lebih lanjut di postingan - postingan selanjutnya.
to make it short (not really short, but well we'll see), gw lulus UKDI dengan sukses setelah periode panic attack, depresi, dan episode - episode penuh drama lainnya. tibalah saatnya memilih tempat internsip.
bokap udah dari awal ngasi ultimatum jangan ngambil luar jawa. kalopun gak dapet jawa ambillah yang di sumatera yang kata doi peradabannya masih mendekati jawa. at that time gw sih sebenernya pengennya di kalimantan. bagus malah kalo dapet di balikpapan kan kampung nyokap gw. karena pemilihan internsip itu online dan sistemnya cepet - cepetan (we called it hunger game ala anak FK), akhirnya dari awal pun gw mulai mencari teman seperjuangan yang nanti bakal milih satu daerah secara barengan pas pemilihan online. seperti biasa, gw janjian sama partner in crime gw si donna dan ISFJ on the bottom of the deepest soul gw, sodiqa. ditambah temen SMA yang jadi temen sejawat, anggun dan partner in crimenya, benji. pas daftar daerah mana yang keluar buat periode isip keluar, kita ber5 langsung diskusi ketat banget mau milih dimana, milih daerah apa, dan cadangannya apa kalo ternyata tempat pemilihan itu udah penuh.
lalu di sanalah semua kegalauan gw bermula.,..
gw gak minat isip di jakarta. seriously men, gw udah idup di jakarta dari tahun 2008. kalo harus setahun berpetualang, gw sih pengennya jawa, kalimantan atau sumatra. tapi anak - anak seperjuangan mau nyoba peruntungan di jakarta. akhirnya dengan berat hati pun gw menurut.
hari H pemilihan wahana jakarta, gw dan benji udah sampe di kosan tempat kita mau milih bareng at the same place, same internet quota, same second, and (hopefully) same luck. kecuali donna yang saat itu lagi honeymoon di Bali sama suaminya. sampe menjelang jam pemilihan jam 8 pagi, anggun dan sodiqa belum ada batang hidungnya. akhirnya gw dan benji pun milih langsung tanpa kehadiran anggun dan sodi. kita cuma kontak - kontakan via line group dan telponan sama dona pas detik - detik pemilihan. emang dasar nasip, anggun dan sodi yang notabene pake internet hp masing - masing malah dapet wahana cengkareng yang kita ber5 sepakati bersama daritadi malem, sementara gw, benji, dan dona yang internetnya stabil malah pas buka wahana si Cengkareng udah sold out semua. ditengah kepanikan karena pilihan #1 udah sold out dan dona yang berteriak lewat telpon "jadi kita pilih apa ineeeees???? ", gw pun balik menjerit "oke pilih RSAU aja! "
lalu benji dan dona pun dengan serempak memilih RSAU. belakangan saat keduanya bertanya kenapa gw pilih RSAU, gw hanya mengangkat bahu dan berkata "karena gw pernah koas di sana, "
dan ketika pertanyaan berikutnya bergulir "emang enak koas di sana? ", gw menjawab dengan satu cengiran dan berkata "nope".
lalu kedua manusia itu pun memelototi gw dengan geram.
dari orang yang tadinya diajak (re: dipaksa) temen ikut pemilihan wahana jakarta, malah bener - bener terdampar di jakarta untuk setahun kedepan. how tragic i am! gw menangis dalam hati dan merutuki nasib seraya bertanya - tanya "why God?! ".
i didnt see any good things in Jakarta for internsip,
lalu aktivitas merutuk gw pun semakin bertambah intens saat gw dan dona malah ditempatkan di 2 kelompok internsip yang berbeda dan gw ditempatkan bersama benji yang mana gw tidak begitu dekat, yurike yang gw bahkan gak pernah ngobrol sama dia, mita ajege si otaku temen sodiqa yang agak freak, dan 3 orang anak universitas lain yang for a God sake i dont know who the fuck are they.
ditambah dengan drama kehidupan dimana saat itu gw lagi broken heart karena orang yang gw sayang (caelah nes! ) menghilang dari kehidupan gw dan jadian dengan orang lain yang dijodohkan keluarganya (men plislah! ini bukan siti nurbaya dan dia bukan perempuan), gw cuma menangis berjam - jam, literally, meratapi nasib.
donna dengan setia (as always) menghibur dengan cara mengajak gw mencari kosan di tebet dan mendengarkan keluh kesah gw yang masih dalam fase denial teramat dalam mengenai keputusan Tuhan yang meletakkan gw di Jakarta yang busuk ini.
lalu dimulailah kisah internsip gw, dimulai dengan pengarahan dari dinkes DKI. nope, pengarahannya bukan di kantor dinkes. bukan di hotel. bukan di gedung atau ballroom.
melainkan di auditorium FK UKRIDA.
seriously! terimakasih Tuhan sudah mengingatkan pada hambamu ini sebuah kejomplangan dimana ukrida memiliki auditorium yang mampu menampung 300 orang sementara kampus gw sendiri yang notabene nya adalah tetangga ukrida, cuma bisa menyediakan bangku untuk 150 orang.
dan aktivitas merutuk gw pun semakin bertambah dalam dan dalam seperti hipnotis romy rafael.
bahkan di awal masukpun sudah terjadi perdebatan di grup internsip gw,
apalagi kalo bukan penunjukkan ketua grup.
ada 2 cowok di kelompok gw, adhi dan arnold. dan 1 cewek non-trisakti yang bernama egen. dimana ketiga manusia ini belum pernah gw liat mukanya gimana (bahkan gw gak seniat itu untuk membuka foto profil line mereka..hahaha).
perdebatan dimulai saat dinkes meminta perwakilan kelompok maju dan menulis nama.
adhi: siapa nih yang mau jadi ketua?
benji: lw aja adhi
adhi: lho kok gw
benji: karena lw laki - laki
adhi: lah
yurike: cepet maju adhi. kelompok kita udah dipanggil
adhi: yaudah gw perwakilan aja ya. nanti ketuanya bukan gw.
at that time, gw, yurike dan benji liat - liatan dan menyeringai dalam 1 harmoni pikiran yang sama "ketuanya sih pasti lo sampe internsip ini berakhir"
good for us, kita gak menuliskan itu di grup demi mencegah surutnya aksi heroik adhi menjadikan dirinya ketua.
setelah pembukaan dan kuliah cukup panjang tentang internsip, berakhir lah deretan acara dari dinkes tersebut.
lalu muncul lah perdebatan baru di grup yang selama ini bungkam itu
adhi: nanti jangan pada balik dulu ya. ini ada buku yang mau dibagiin ke kelompok
yurike: oke. ketemu dimana?
adhi: ketemu di depan aja
benji: depan penuh banget. ketemu diluar aja
adhi: oke ketemu di pintu keluar ya
lalu gw, yurike, dan benji mengantri ke pintu keluar sambil bertanya - tanya seperti apa wujudnya si adhi sang ketua grup ini.
saat diluar, gw bertemu teman koas gw waktu di bedah bekasi. anak UKI named Dian.
dian: ines! ini temen aku yang satu kelompok sama kamu! namanya egen
egen: hei ines! gw egen! btw ini pintu keluar kan ya? adhi mana ya?
cewek bernama egen ini looks like cewek gaul dengan rambut panjang terurai, tubuh petite, dan pembawaan cerah ceria.
pikiran gw saat itu "uh..definitely not my type, i hope nerd like me can get along well with queen bee like her"
gak berapa lama mita ajege muncul. gw lupa antara dia yang muncul atau gw yang menarik dia dari kerumunan yang bergerombol hectic dari arus 300 orang dokter internsip yang sibuk mencari kelompoknya masing - masing.
egen: gw tuh pernah ketemu sama adhi ini loh
gw: oh! bagus! yang mana orangnya?
egen: tapi gw lupa mukanya gimana
gw: . . . . .
egen: mungkin kita bisa mulai manggil - manggil adhi,
benji: boleh juga
yurike: . . . . . .
bayangkan 5 orang wanita bergerombol di depan pintu keluar dan mulai memanggil - manggil setiap pria yang lewat dengan satu kata "adhi? "
kalo lo membayangkan adegan erotis, lo akan kecewa.
notif line menunjukkan pesan dari adhi
adhi: kalian dimana?
yurike: kita di depan pintu keluar
adhi: gw di depan pintu keluar. kalian dimana?
egen: kita di samping tong sampah
for a God sake, egen. gw bahkan gak sadar kita ada di samping tempat sampah daritadi.
tiba - tiba ada cowok kurus datang mendekat membawa buku - buku. wajahnya tampak tidak yakin.
" gw nunggu dibalik pintu"
dan 4 orang wanita itu bertanya serempak dengan keyword yang sama "adhi? "
" iya gw adhi. ini buku kalian, "
" satu lagi siapa ya? yang cowok satu lagi itu. siapa itu namanya...ronald? "tanya gw
" arnold. bang! sini bang! " adhi menoleh ke seorang cowok berkacamata yang tidak tampak sebaya dengan kita.
lalu hati gw mencelos. sial! ada senior di grup isip gw!
pasti pato!
"terus abis ini kita ngapain adhi? " tanya benji
" ambil makanan sama uang transport di sana"
" oke yuk ambil makanan! " seru gw kelaperan
" jangan nes! makanan bisa nanti! yang penting uang! " egen menyambar tangan gw dan tau - tau gw sudah dibawa (re: diseret) mengantri di deretan orang - orang yang berjejalan mengambil uang transport.
pikiran gw saat itu: wow this queen bee is not an ordinary queen bee hmm?
dari arah lain gw melihat dona dan kak yoni sudah membawa kotakan ke ruangan yang disediakan buat makan.
gw pun mengikuti hasrat dan nalar seorang anak gemuk, gw memisahkan diri dari gerombolan bounty hunter pencari seamplop uang transport, dan memilih mengambil makanan terlebih dahulu.
saat akhirnya gw sudah duduk manis dengan kotakan makanan di pangkuan, benji datang dengan kotakan dan amplop uang. saat itulah (setelah kenyang otak mulai bisa mikir ceritanya) gw barui teringat jatah uang transport gw
" duit! "
" udah bubar pembagian duitnya" said benji
" terus duit gw gimanaaa? " gw mulai pucat pasi
tiba - tiba adhi sang ketua muncul membawa banyak amplop "ada yang belum ambil uang transport? "
pikiran gw saat itu: you are definitely be the group chief for the rest of the year dude!!
perut kenyang, hati senang, pulang pun dengan langkah ringan.
and the internsip life had begin.....
see ya on another post about intensip life!
sebenarnya gw nulis juga kok beberapa personal stuff di tumblr gw, which is always contain 3 hashtag: #him #her and #hakku. yep, 3 hashtag yang bikin hidup gw tetap berjalan: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan ( i hope so but nope, im not that lucky)
anyway, singkat cerita, secara terkahir kali postingan blog gw 3 tahun yang lalu dan itu adalah postingan koas (and i am just too lazy to cintinue it), gw bakal fast forward ke masa - masa sekarang. yap, ke tahun 2016. sambil sesekali kalo lagi (hipo)manik atau lagi kebanyakan kuota (lol) gw akan berflashback ria ke kehidupan koas gw yang vakum dari blog ini.
so recently, i am a doctor now. M.D alias medical doctor. udah bukan mba koas atau mba isip lagi. and it is...such a bless, because of my personal health condition yang akan gw jabarkan lebih lanjut di postingan - postingan selanjutnya.
to make it short (not really short, but well we'll see), gw lulus UKDI dengan sukses setelah periode panic attack, depresi, dan episode - episode penuh drama lainnya. tibalah saatnya memilih tempat internsip.
bokap udah dari awal ngasi ultimatum jangan ngambil luar jawa. kalopun gak dapet jawa ambillah yang di sumatera yang kata doi peradabannya masih mendekati jawa. at that time gw sih sebenernya pengennya di kalimantan. bagus malah kalo dapet di balikpapan kan kampung nyokap gw. karena pemilihan internsip itu online dan sistemnya cepet - cepetan (we called it hunger game ala anak FK), akhirnya dari awal pun gw mulai mencari teman seperjuangan yang nanti bakal milih satu daerah secara barengan pas pemilihan online. seperti biasa, gw janjian sama partner in crime gw si donna dan ISFJ on the bottom of the deepest soul gw, sodiqa. ditambah temen SMA yang jadi temen sejawat, anggun dan partner in crimenya, benji. pas daftar daerah mana yang keluar buat periode isip keluar, kita ber5 langsung diskusi ketat banget mau milih dimana, milih daerah apa, dan cadangannya apa kalo ternyata tempat pemilihan itu udah penuh.
lalu di sanalah semua kegalauan gw bermula.,..
gw gak minat isip di jakarta. seriously men, gw udah idup di jakarta dari tahun 2008. kalo harus setahun berpetualang, gw sih pengennya jawa, kalimantan atau sumatra. tapi anak - anak seperjuangan mau nyoba peruntungan di jakarta. akhirnya dengan berat hati pun gw menurut.
hari H pemilihan wahana jakarta, gw dan benji udah sampe di kosan tempat kita mau milih bareng at the same place, same internet quota, same second, and (hopefully) same luck. kecuali donna yang saat itu lagi honeymoon di Bali sama suaminya. sampe menjelang jam pemilihan jam 8 pagi, anggun dan sodiqa belum ada batang hidungnya. akhirnya gw dan benji pun milih langsung tanpa kehadiran anggun dan sodi. kita cuma kontak - kontakan via line group dan telponan sama dona pas detik - detik pemilihan. emang dasar nasip, anggun dan sodi yang notabene pake internet hp masing - masing malah dapet wahana cengkareng yang kita ber5 sepakati bersama daritadi malem, sementara gw, benji, dan dona yang internetnya stabil malah pas buka wahana si Cengkareng udah sold out semua. ditengah kepanikan karena pilihan #1 udah sold out dan dona yang berteriak lewat telpon "jadi kita pilih apa ineeeees???? ", gw pun balik menjerit "oke pilih RSAU aja! "
lalu benji dan dona pun dengan serempak memilih RSAU. belakangan saat keduanya bertanya kenapa gw pilih RSAU, gw hanya mengangkat bahu dan berkata "karena gw pernah koas di sana, "
dan ketika pertanyaan berikutnya bergulir "emang enak koas di sana? ", gw menjawab dengan satu cengiran dan berkata "nope".
lalu kedua manusia itu pun memelototi gw dengan geram.
dari orang yang tadinya diajak (re: dipaksa) temen ikut pemilihan wahana jakarta, malah bener - bener terdampar di jakarta untuk setahun kedepan. how tragic i am! gw menangis dalam hati dan merutuki nasib seraya bertanya - tanya "why God?! ".
i didnt see any good things in Jakarta for internsip,
lalu aktivitas merutuk gw pun semakin bertambah intens saat gw dan dona malah ditempatkan di 2 kelompok internsip yang berbeda dan gw ditempatkan bersama benji yang mana gw tidak begitu dekat, yurike yang gw bahkan gak pernah ngobrol sama dia, mita ajege si otaku temen sodiqa yang agak freak, dan 3 orang anak universitas lain yang for a God sake i dont know who the fuck are they.
ditambah dengan drama kehidupan dimana saat itu gw lagi broken heart karena orang yang gw sayang (caelah nes! ) menghilang dari kehidupan gw dan jadian dengan orang lain yang dijodohkan keluarganya (men plislah! ini bukan siti nurbaya dan dia bukan perempuan), gw cuma menangis berjam - jam, literally, meratapi nasib.
donna dengan setia (as always) menghibur dengan cara mengajak gw mencari kosan di tebet dan mendengarkan keluh kesah gw yang masih dalam fase denial teramat dalam mengenai keputusan Tuhan yang meletakkan gw di Jakarta yang busuk ini.
lalu dimulailah kisah internsip gw, dimulai dengan pengarahan dari dinkes DKI. nope, pengarahannya bukan di kantor dinkes. bukan di hotel. bukan di gedung atau ballroom.
melainkan di auditorium FK UKRIDA.
seriously! terimakasih Tuhan sudah mengingatkan pada hambamu ini sebuah kejomplangan dimana ukrida memiliki auditorium yang mampu menampung 300 orang sementara kampus gw sendiri yang notabene nya adalah tetangga ukrida, cuma bisa menyediakan bangku untuk 150 orang.
dan aktivitas merutuk gw pun semakin bertambah dalam dan dalam seperti hipnotis romy rafael.
bahkan di awal masukpun sudah terjadi perdebatan di grup internsip gw,
apalagi kalo bukan penunjukkan ketua grup.
ada 2 cowok di kelompok gw, adhi dan arnold. dan 1 cewek non-trisakti yang bernama egen. dimana ketiga manusia ini belum pernah gw liat mukanya gimana (bahkan gw gak seniat itu untuk membuka foto profil line mereka..hahaha).
perdebatan dimulai saat dinkes meminta perwakilan kelompok maju dan menulis nama.
adhi: siapa nih yang mau jadi ketua?
benji: lw aja adhi
adhi: lho kok gw
benji: karena lw laki - laki
adhi: lah
yurike: cepet maju adhi. kelompok kita udah dipanggil
adhi: yaudah gw perwakilan aja ya. nanti ketuanya bukan gw.
at that time, gw, yurike dan benji liat - liatan dan menyeringai dalam 1 harmoni pikiran yang sama "ketuanya sih pasti lo sampe internsip ini berakhir"
good for us, kita gak menuliskan itu di grup demi mencegah surutnya aksi heroik adhi menjadikan dirinya ketua.
setelah pembukaan dan kuliah cukup panjang tentang internsip, berakhir lah deretan acara dari dinkes tersebut.
lalu muncul lah perdebatan baru di grup yang selama ini bungkam itu
adhi: nanti jangan pada balik dulu ya. ini ada buku yang mau dibagiin ke kelompok
yurike: oke. ketemu dimana?
adhi: ketemu di depan aja
benji: depan penuh banget. ketemu diluar aja
adhi: oke ketemu di pintu keluar ya
lalu gw, yurike, dan benji mengantri ke pintu keluar sambil bertanya - tanya seperti apa wujudnya si adhi sang ketua grup ini.
saat diluar, gw bertemu teman koas gw waktu di bedah bekasi. anak UKI named Dian.
dian: ines! ini temen aku yang satu kelompok sama kamu! namanya egen
egen: hei ines! gw egen! btw ini pintu keluar kan ya? adhi mana ya?
cewek bernama egen ini looks like cewek gaul dengan rambut panjang terurai, tubuh petite, dan pembawaan cerah ceria.
pikiran gw saat itu "uh..definitely not my type, i hope nerd like me can get along well with queen bee like her"
gak berapa lama mita ajege muncul. gw lupa antara dia yang muncul atau gw yang menarik dia dari kerumunan yang bergerombol hectic dari arus 300 orang dokter internsip yang sibuk mencari kelompoknya masing - masing.
egen: gw tuh pernah ketemu sama adhi ini loh
gw: oh! bagus! yang mana orangnya?
egen: tapi gw lupa mukanya gimana
gw: . . . . .
egen: mungkin kita bisa mulai manggil - manggil adhi,
benji: boleh juga
yurike: . . . . . .
bayangkan 5 orang wanita bergerombol di depan pintu keluar dan mulai memanggil - manggil setiap pria yang lewat dengan satu kata "adhi? "
kalo lo membayangkan adegan erotis, lo akan kecewa.
notif line menunjukkan pesan dari adhi
adhi: kalian dimana?
yurike: kita di depan pintu keluar
adhi: gw di depan pintu keluar. kalian dimana?
egen: kita di samping tong sampah
for a God sake, egen. gw bahkan gak sadar kita ada di samping tempat sampah daritadi.
tiba - tiba ada cowok kurus datang mendekat membawa buku - buku. wajahnya tampak tidak yakin.
" gw nunggu dibalik pintu"
dan 4 orang wanita itu bertanya serempak dengan keyword yang sama "adhi? "
" iya gw adhi. ini buku kalian, "
" satu lagi siapa ya? yang cowok satu lagi itu. siapa itu namanya...ronald? "tanya gw
" arnold. bang! sini bang! " adhi menoleh ke seorang cowok berkacamata yang tidak tampak sebaya dengan kita.
lalu hati gw mencelos. sial! ada senior di grup isip gw!
pasti pato!
"terus abis ini kita ngapain adhi? " tanya benji
" ambil makanan sama uang transport di sana"
" oke yuk ambil makanan! " seru gw kelaperan
" jangan nes! makanan bisa nanti! yang penting uang! " egen menyambar tangan gw dan tau - tau gw sudah dibawa (re: diseret) mengantri di deretan orang - orang yang berjejalan mengambil uang transport.
pikiran gw saat itu: wow this queen bee is not an ordinary queen bee hmm?
dari arah lain gw melihat dona dan kak yoni sudah membawa kotakan ke ruangan yang disediakan buat makan.
gw pun mengikuti hasrat dan nalar seorang anak gemuk, gw memisahkan diri dari gerombolan bounty hunter pencari seamplop uang transport, dan memilih mengambil makanan terlebih dahulu.
saat akhirnya gw sudah duduk manis dengan kotakan makanan di pangkuan, benji datang dengan kotakan dan amplop uang. saat itulah (setelah kenyang otak mulai bisa mikir ceritanya) gw barui teringat jatah uang transport gw
" duit! "
" udah bubar pembagian duitnya" said benji
" terus duit gw gimanaaa? " gw mulai pucat pasi
tiba - tiba adhi sang ketua muncul membawa banyak amplop "ada yang belum ambil uang transport? "
pikiran gw saat itu: you are definitely be the group chief for the rest of the year dude!!
perut kenyang, hati senang, pulang pun dengan langkah ringan.
and the internsip life had begin.....
see ya on another post about intensip life!
Sabtu, 28 Mei 2016
Pasangan Hidup
dia sama persis seperti yang terakhir kali kuingat. wajah yang sama, pembawaan yang memukau, dada yang lapang, suara yang ringan dan maskulin,
apa yang kulihat padanya saat ini, adalah apa yang sempat kumiliki dahulu.
dalam kehidupanku yang lain
***
" apa kau tidak mengingatku? sama sekali tidak? "
aku menatapnya dengan hati yang hancur. matanya memandangku dengan asing, seakan aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak mungkin. dia menatapku seakan aku sudah gila
" dengar ya, Non! aku tidak mengenalmu. dan aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya! aku sudah punya istri, aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu. walaupun boleh kukatakan, kau sepertinya tergila - gila denganku sampai mengejarku ke sini. tapi oh, please, siapa sih wanita yang tidak tergila - gila padaku? "
dia tertawa dan menenggak isi botol alkoholnya. rompi tanpa lengannya lengket karena keringat di tubuhnya yang berotot dan dadanya yang bidang, sementara dia menikmati sentuhan dan rayuan dari wanita - wanita penghibur yang menggelayut manja di lengannya.
aku menatapnya nanar. bagaimana mungkin dia tidak mengenaliku? tidak, bagaimana mungkin dia tidak memiliki rasa apapun padaku? aku adalah orang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupnya. di kehidupan kami yang dulu, maupun di kehidupan kami yang sekarang, dan selanjutnya. itu adalah suratan takdir. dengan suratan dan ingatan yang tak lekang oleh waktu itulah aku mencarinya, melewati hari demi hari yang panjang untuk menghampirinya.
dan dia tidak mengenaliku?
" tunggu...beri aku waktu bersamamu. aku akan membuatmu ingat padaku! " aku berkeras.
" keras kepala sekali sih? " dia mengerang, " sudah kukatakan, aku punya istri! dan aku tidak tertarik padamu! sama sekali tidak! "
" beri aku waktu! " aku masih berkeras dengan suara bergetar, " kumohon, tempatkan aku di tempat yang cukup dekat denganmu. aku tidak peduli harus jadi pelayan atau pembantu sekalipun! "
" hei sepertinya dia serius, " wanita penghibur yang bergelayut di lengan kirinya terkikik dan menatapku dengan pandangan menghina, " kasihan sekali ya, "
" beri saja dia pekerjaan sebagai penyikat toilet, " wanita penghibur di sisi kanannya tertawa, " atau pencuci baju kotor, "
" aaah! merepotkan saja! " dia mengerang dan bangkit berdiri, mengabaikanku dengan wajah kesal, " terserah saja deh! jadi saja pembantuku! aku tidak peduli! "
aku beranjak berdiri, mengikutinya dengan penuh harap. di luar pub hujan deras menerpa. dia dan wanita - wanita penghibur di sisinya menaiki mobil dan meninggalkanku seorang diri di tengah hujan.
***
" sudah kukatakan berkali - kali! dia tidak mengingatmu! pulang lah kembali dan lupakan pria itu! "
malaikat kecil berpenampilan anak kecil berkuncir dua tambun menghardikku saat aku menyeret langkahku yang basah ke sebuah kamar gelap yang menjadi kamarku. setelah berhasil mengikutinya ke rumah dengan berjalan kaki dan kehujanan, seorang wanita dengan wajah keibuan menghampiriku dan menawariku tempat berteduh. wanita itu lah istri yang daritadi dia sebut - sebut. wanita itu tampaknya memaklumi keadaanku saat aku menceritakan kalau suaminya meninggalkanku di tengah hujan setelah memerintahkanku untuk menjadi pembantu di rymahnya. tentu saja aku tidak menyebut - nyebut bagian bahwa suaminya adalah pasangan hidup yang telah ditakdirkan untukku tapi sayangnya dia tidak mengingatku saat ini.
aku menghela napas dan memeras ujung rokku yang meneteskan air hujan kemana - mana, " aku tahu dia tidak mengingatku. tapi aku tidak bisa meninggalkannya. bagaimanapun dia adalah pasangan hidup yang ditakdirkan untukku, jadi aku tidak bisa menyerah secepat ini dan kembali pulang, "
" takdir bisa berubah. begitu juga dengan hatinya. mungkin di kehidupan kalian sebelum ini dia mencintaimu. nyatanya di kehidupan yang sekarang dia bahkan tidak peduli padamu. dia bukan lagi pria yang menjadi pasangan hidupmu! "
" malaikat kecil yang baik, " aku menangkup sosok anak kecil pemarah di hadapanku dan tersenyum, " aku belum mau menyerah membuatnya ingat kembali padaku. mungkin nanti, tapi yang pasti bukan saat ini"
" terserah lah! "
malaikat itu menghilang dari hadapanku.
***
sekarang setelah aku mendapatkan tempat berteduh yang hangat dan baju ganti yang nyaman, aku mulai menjalankan tugasku sebagai seorang pelayan. membersihkan rumah yang besar itu, mengamati kalau dio dalamnya tidak tampak foto ataupun kehangatan pemiliknya. suara pertengkaran terdengar dari sebuah ruangan, instingku mengajakku mendekat, jadi aku berdiri di luar ruangan itu dan mendengarkan teriakan - teriakan di dalamnya.
" pergi saja ke neraka! aku tidak peduli! "
itu suaranya, suara pasangan hidupku. aku menyimak dengan sungguh - sungguh.
" aku tidak minta kau mencintaiku, aku juga tidak minta kau peduli padaku! aku hanya minta kau bisa menahan diri! mabuk - mabukan dan menyewa pelacur lalu berkeliaran di jalan! aku seorang dokter! bagaimana kalau kolega ku melihatmu seperti itu?! " suara sang istri meninggi dalam kemarahan.
" lalu aku harus peduli apa kata kolegamu tentangku? persetan! aku menikahimu karena orangtua kita memaksa kita untuk menikah! kau pergi ke neraka pun aku tidak peduli! brengsek! "
pintu ruangan itu terbuka dan dia melewatiku dengan cepat, diiringi sumpah serapah dan bau alkohol yang kuat. tidak berapa lama, sosok sang istri keluar dari ruangan. wajahnya terlihat lelah dan juga sakit hati. dia menoleh melihatku yang terpaku di samping pintu ruangan itu.
seakan mendengar pertengkaran pribadi sang tuan rumah adalah hal yang wajar, dia tersenyum hambar padaku dan berkata, " aku akan pergi seminar untuk beberapa hari. tolong jaga rumah ini. dan tolong jaga suamiku. pastikan dia tidak....membuat masalah, "
dan dengan kata - kata itu dia berlalu.
***
malam itu dia datang dengan seorang gadis berambut pirang dengan pakaian sangat terbuka. mereka bercinta di ruang tamu. aku harus menyingkir ke kamarku untuk menghindari suara desahan yang sangat ribut di ruang tamu. aku memutuskan untuk tidur, berpura - pura tidak tahu bahwa orang yang ditakdirkan menjadi pasangan hidupku sedang menyentuh wanita lain di luar sana.
***
suara gelas yang pecah dan sumpah serapah.
dalam kegelapan aku terbangun dan terlonjak duduk. aku meraba - raba dinding kamarku yang gelap dan keluar dari kamar. menghampiri asal suara itu, aku menemukan dia terkapar tanpa busana di depan pintu rumah yang terbuka sambil menggenggam botol bir yang pecah. dia bau alkohol dan terlihat sangat mabuk. aku harus susah payah menyeretnya ke kamarnya. kamar itu gelap dan acak - acakan, dengan banyak kondom bekas pakai dan seprai yang terserak di lantai. aku berhasil membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya. aku menghela napas. kemana pelacur pirang itu pergi? sepertinya mereka bertengkar. dia mulai mengigau dalam tidurnya dan menarik tanganku cukup keras sampai aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur. aku menghela napas lagi. ini situasi yang seharusnya kutunggu - tunggu tapi entah kenapa terasa begitu salah. aku membenarkan selimutnya dan memandang wajahnya yang tertidur pulas dibawah pengaruh alkohol. wajah tampan itu, tubuh indah itu. orang yang seharusnya jadi milikku.
orang yang dulunya adalah milikku....
malam itu aku tertidur di sampingnya. tangannya menggenggam erat tanganku semalaman dan tidak melepaskannya sedetikpun.
***
" aku tidak membunuh pelacur itu, brengsek! "
aku sedang membersihkan meja di ruang tengah saat aku mendengar suaranya menyumpah serapah di ruang tamu. aku bergegas keluar dan menemukan beberapa pria berpakaian seragam polisi di ruang tamu. dia kelihatan marah. penampilannya acak - acakan tapi aura sangar yang menakutkan tidak hilang dari pembawaannya.
" korban terakhir terlihat bersama anda, " jawab polisi itu tenang.
" tentu saja dia bersamaku! dia kekasihku dan kami selalu bertemu di rumah ini setiap malam saat istriku tidak di rumah! tapi kutegaskan sekali lagi! aku tidak membunuihnya! kami bertengkar dan dia meninggalkan rumah malam itu! aku tidak ingat persis detilnya! "
" anda mabuk. alibi anda tidak kuat. kami harus membawa anda ke kantor polisi, "
" sudah kubilang, bangsat! aku tidak membunuhnya! "
" dia...dia mengatakan yang sebenarnya! " aku melangkah ke ruang tamu dengan suara bergetar. semua pria itu mermandang ke arahku, " malam itu saya ada di sini. saya...saksinya. tuan saya tidak melakukan pembunuhan, "
polisi - polisi itu kelihatan tidak yakin. mereka merundingkan sesuatu dan memutuskan bahwa mereka tidak akan membawanya sekarang. mereka akan kembali beberapa hari lagi setelah mengumpulkan lebih banyak bukti yang memberatkannya. setelah polisi - polisi itu pergi, dia menutup pintu dan menatapku dengan keheranan.
" kau benar - benar melihatku bertengkar dengan jenifer? "
aku menatapnya dengan salah tingkah, " tidak..aku menemukan anda terkapar di sini. jenifer sudah tidak ada, "
"kau berbohong pada mereka? " suaranya terdengar takjub
" saya tidak bisa membiarkan mereka membawa anda. anda tidak bersalah, "
" kau percaya padaku? aku terlalu mabuk saat itu. aku tidak ingat apakah aku membunuh jenifer atau tidak, "
aku menatapnya dengan ragu - ragu. " saya..percaya pada anda, "
dia menatapku, dan mengulurkan tangannya untuk menangkup wajahku, " kenapa? setelah semua yang kulakukan padamu? "
aku mengerutkan kening saat tangannya menyentuh wajahku, " anda sakit? tangan anda panas, "
" oh, " dia menatap tangannya, " aku memang merasa tidak enak badan sejak pagi tadi. aku bahkan tidak menyadari aku demam, "
" anda harus istirahat, " aku menggandengnya ke kamar tidurnya, kali ini tanpa perlawanan darinya. dia membiarkan aku membantunya berbaring dan menyelimutinya. tepat saat aku beranjak dari tempat tidurnya, dia menangkap tanganku dan menggenggamnya.
" aku ingat padamu, " bisiknya pelan.
" ingat apa? " aku tidak percaya keajaiban akan datang semudah dan secepat ini. aku menoleh padanya. " apa yang kau ingat? "
dia merengkuhku dari belakang, " kau menyelimutiku tadi malam. kau di sini, menemaniku tidur, "
ya, keajaiban tidak datang semudah dan secepat ini. aku menghembuskan napas berat
" ya, "
" kalau begitu sekarang pun, tetaplah di sini. temani aku lagi. mungkin dengan begitu aku akan...mengingatmu lebih jelas. entah kenapa aku merasa kau seperti...pasangan hidup yang ditakdirkan untukku... "
***
apa yang kulihat padanya saat ini, adalah apa yang sempat kumiliki dahulu.
dalam kehidupanku yang lain
***
" apa kau tidak mengingatku? sama sekali tidak? "
aku menatapnya dengan hati yang hancur. matanya memandangku dengan asing, seakan aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak mungkin. dia menatapku seakan aku sudah gila
" dengar ya, Non! aku tidak mengenalmu. dan aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya! aku sudah punya istri, aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu. walaupun boleh kukatakan, kau sepertinya tergila - gila denganku sampai mengejarku ke sini. tapi oh, please, siapa sih wanita yang tidak tergila - gila padaku? "
dia tertawa dan menenggak isi botol alkoholnya. rompi tanpa lengannya lengket karena keringat di tubuhnya yang berotot dan dadanya yang bidang, sementara dia menikmati sentuhan dan rayuan dari wanita - wanita penghibur yang menggelayut manja di lengannya.
aku menatapnya nanar. bagaimana mungkin dia tidak mengenaliku? tidak, bagaimana mungkin dia tidak memiliki rasa apapun padaku? aku adalah orang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupnya. di kehidupan kami yang dulu, maupun di kehidupan kami yang sekarang, dan selanjutnya. itu adalah suratan takdir. dengan suratan dan ingatan yang tak lekang oleh waktu itulah aku mencarinya, melewati hari demi hari yang panjang untuk menghampirinya.
dan dia tidak mengenaliku?
" tunggu...beri aku waktu bersamamu. aku akan membuatmu ingat padaku! " aku berkeras.
" keras kepala sekali sih? " dia mengerang, " sudah kukatakan, aku punya istri! dan aku tidak tertarik padamu! sama sekali tidak! "
" beri aku waktu! " aku masih berkeras dengan suara bergetar, " kumohon, tempatkan aku di tempat yang cukup dekat denganmu. aku tidak peduli harus jadi pelayan atau pembantu sekalipun! "
" hei sepertinya dia serius, " wanita penghibur yang bergelayut di lengan kirinya terkikik dan menatapku dengan pandangan menghina, " kasihan sekali ya, "
" beri saja dia pekerjaan sebagai penyikat toilet, " wanita penghibur di sisi kanannya tertawa, " atau pencuci baju kotor, "
" aaah! merepotkan saja! " dia mengerang dan bangkit berdiri, mengabaikanku dengan wajah kesal, " terserah saja deh! jadi saja pembantuku! aku tidak peduli! "
aku beranjak berdiri, mengikutinya dengan penuh harap. di luar pub hujan deras menerpa. dia dan wanita - wanita penghibur di sisinya menaiki mobil dan meninggalkanku seorang diri di tengah hujan.
***
" sudah kukatakan berkali - kali! dia tidak mengingatmu! pulang lah kembali dan lupakan pria itu! "
malaikat kecil berpenampilan anak kecil berkuncir dua tambun menghardikku saat aku menyeret langkahku yang basah ke sebuah kamar gelap yang menjadi kamarku. setelah berhasil mengikutinya ke rumah dengan berjalan kaki dan kehujanan, seorang wanita dengan wajah keibuan menghampiriku dan menawariku tempat berteduh. wanita itu lah istri yang daritadi dia sebut - sebut. wanita itu tampaknya memaklumi keadaanku saat aku menceritakan kalau suaminya meninggalkanku di tengah hujan setelah memerintahkanku untuk menjadi pembantu di rymahnya. tentu saja aku tidak menyebut - nyebut bagian bahwa suaminya adalah pasangan hidup yang telah ditakdirkan untukku tapi sayangnya dia tidak mengingatku saat ini.
aku menghela napas dan memeras ujung rokku yang meneteskan air hujan kemana - mana, " aku tahu dia tidak mengingatku. tapi aku tidak bisa meninggalkannya. bagaimanapun dia adalah pasangan hidup yang ditakdirkan untukku, jadi aku tidak bisa menyerah secepat ini dan kembali pulang, "
" takdir bisa berubah. begitu juga dengan hatinya. mungkin di kehidupan kalian sebelum ini dia mencintaimu. nyatanya di kehidupan yang sekarang dia bahkan tidak peduli padamu. dia bukan lagi pria yang menjadi pasangan hidupmu! "
" malaikat kecil yang baik, " aku menangkup sosok anak kecil pemarah di hadapanku dan tersenyum, " aku belum mau menyerah membuatnya ingat kembali padaku. mungkin nanti, tapi yang pasti bukan saat ini"
" terserah lah! "
malaikat itu menghilang dari hadapanku.
***
sekarang setelah aku mendapatkan tempat berteduh yang hangat dan baju ganti yang nyaman, aku mulai menjalankan tugasku sebagai seorang pelayan. membersihkan rumah yang besar itu, mengamati kalau dio dalamnya tidak tampak foto ataupun kehangatan pemiliknya. suara pertengkaran terdengar dari sebuah ruangan, instingku mengajakku mendekat, jadi aku berdiri di luar ruangan itu dan mendengarkan teriakan - teriakan di dalamnya.
" pergi saja ke neraka! aku tidak peduli! "
itu suaranya, suara pasangan hidupku. aku menyimak dengan sungguh - sungguh.
" aku tidak minta kau mencintaiku, aku juga tidak minta kau peduli padaku! aku hanya minta kau bisa menahan diri! mabuk - mabukan dan menyewa pelacur lalu berkeliaran di jalan! aku seorang dokter! bagaimana kalau kolega ku melihatmu seperti itu?! " suara sang istri meninggi dalam kemarahan.
" lalu aku harus peduli apa kata kolegamu tentangku? persetan! aku menikahimu karena orangtua kita memaksa kita untuk menikah! kau pergi ke neraka pun aku tidak peduli! brengsek! "
pintu ruangan itu terbuka dan dia melewatiku dengan cepat, diiringi sumpah serapah dan bau alkohol yang kuat. tidak berapa lama, sosok sang istri keluar dari ruangan. wajahnya terlihat lelah dan juga sakit hati. dia menoleh melihatku yang terpaku di samping pintu ruangan itu.
seakan mendengar pertengkaran pribadi sang tuan rumah adalah hal yang wajar, dia tersenyum hambar padaku dan berkata, " aku akan pergi seminar untuk beberapa hari. tolong jaga rumah ini. dan tolong jaga suamiku. pastikan dia tidak....membuat masalah, "
dan dengan kata - kata itu dia berlalu.
***
malam itu dia datang dengan seorang gadis berambut pirang dengan pakaian sangat terbuka. mereka bercinta di ruang tamu. aku harus menyingkir ke kamarku untuk menghindari suara desahan yang sangat ribut di ruang tamu. aku memutuskan untuk tidur, berpura - pura tidak tahu bahwa orang yang ditakdirkan menjadi pasangan hidupku sedang menyentuh wanita lain di luar sana.
***
suara gelas yang pecah dan sumpah serapah.
dalam kegelapan aku terbangun dan terlonjak duduk. aku meraba - raba dinding kamarku yang gelap dan keluar dari kamar. menghampiri asal suara itu, aku menemukan dia terkapar tanpa busana di depan pintu rumah yang terbuka sambil menggenggam botol bir yang pecah. dia bau alkohol dan terlihat sangat mabuk. aku harus susah payah menyeretnya ke kamarnya. kamar itu gelap dan acak - acakan, dengan banyak kondom bekas pakai dan seprai yang terserak di lantai. aku berhasil membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya. aku menghela napas. kemana pelacur pirang itu pergi? sepertinya mereka bertengkar. dia mulai mengigau dalam tidurnya dan menarik tanganku cukup keras sampai aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur. aku menghela napas lagi. ini situasi yang seharusnya kutunggu - tunggu tapi entah kenapa terasa begitu salah. aku membenarkan selimutnya dan memandang wajahnya yang tertidur pulas dibawah pengaruh alkohol. wajah tampan itu, tubuh indah itu. orang yang seharusnya jadi milikku.
orang yang dulunya adalah milikku....
malam itu aku tertidur di sampingnya. tangannya menggenggam erat tanganku semalaman dan tidak melepaskannya sedetikpun.
***
" aku tidak membunuh pelacur itu, brengsek! "
aku sedang membersihkan meja di ruang tengah saat aku mendengar suaranya menyumpah serapah di ruang tamu. aku bergegas keluar dan menemukan beberapa pria berpakaian seragam polisi di ruang tamu. dia kelihatan marah. penampilannya acak - acakan tapi aura sangar yang menakutkan tidak hilang dari pembawaannya.
" korban terakhir terlihat bersama anda, " jawab polisi itu tenang.
" tentu saja dia bersamaku! dia kekasihku dan kami selalu bertemu di rumah ini setiap malam saat istriku tidak di rumah! tapi kutegaskan sekali lagi! aku tidak membunuihnya! kami bertengkar dan dia meninggalkan rumah malam itu! aku tidak ingat persis detilnya! "
" anda mabuk. alibi anda tidak kuat. kami harus membawa anda ke kantor polisi, "
" sudah kubilang, bangsat! aku tidak membunuhnya! "
" dia...dia mengatakan yang sebenarnya! " aku melangkah ke ruang tamu dengan suara bergetar. semua pria itu mermandang ke arahku, " malam itu saya ada di sini. saya...saksinya. tuan saya tidak melakukan pembunuhan, "
polisi - polisi itu kelihatan tidak yakin. mereka merundingkan sesuatu dan memutuskan bahwa mereka tidak akan membawanya sekarang. mereka akan kembali beberapa hari lagi setelah mengumpulkan lebih banyak bukti yang memberatkannya. setelah polisi - polisi itu pergi, dia menutup pintu dan menatapku dengan keheranan.
" kau benar - benar melihatku bertengkar dengan jenifer? "
aku menatapnya dengan salah tingkah, " tidak..aku menemukan anda terkapar di sini. jenifer sudah tidak ada, "
"kau berbohong pada mereka? " suaranya terdengar takjub
" saya tidak bisa membiarkan mereka membawa anda. anda tidak bersalah, "
" kau percaya padaku? aku terlalu mabuk saat itu. aku tidak ingat apakah aku membunuh jenifer atau tidak, "
aku menatapnya dengan ragu - ragu. " saya..percaya pada anda, "
dia menatapku, dan mengulurkan tangannya untuk menangkup wajahku, " kenapa? setelah semua yang kulakukan padamu? "
aku mengerutkan kening saat tangannya menyentuh wajahku, " anda sakit? tangan anda panas, "
" oh, " dia menatap tangannya, " aku memang merasa tidak enak badan sejak pagi tadi. aku bahkan tidak menyadari aku demam, "
" anda harus istirahat, " aku menggandengnya ke kamar tidurnya, kali ini tanpa perlawanan darinya. dia membiarkan aku membantunya berbaring dan menyelimutinya. tepat saat aku beranjak dari tempat tidurnya, dia menangkap tanganku dan menggenggamnya.
" aku ingat padamu, " bisiknya pelan.
" ingat apa? " aku tidak percaya keajaiban akan datang semudah dan secepat ini. aku menoleh padanya. " apa yang kau ingat? "
dia merengkuhku dari belakang, " kau menyelimutiku tadi malam. kau di sini, menemaniku tidur, "
ya, keajaiban tidak datang semudah dan secepat ini. aku menghembuskan napas berat
" ya, "
" kalau begitu sekarang pun, tetaplah di sini. temani aku lagi. mungkin dengan begitu aku akan...mengingatmu lebih jelas. entah kenapa aku merasa kau seperti...pasangan hidup yang ditakdirkan untukku... "
***
Langganan:
Postingan (Atom)


