Selasa, 07 Oktober 2014

anak - anak sang selir

" apa E harus benar2 melakukan ini? "
Aku menatap adik terkecilku, di angkat ke sebuah gedung berlantai 2 dengan mobil pengangkut, seakan dia adalah sebuah peti kemas.
"Jangan lembek C! Dia satu2 nya anak laki2 dalam keluarga kita jadi dia harus kuat! " A memarahiku. Kakakku itu memicingkan mata memperhatikan bagaimana E mendarat dengan tidak mantap di lantai dua rumah itu, lalu dengan wajah sedikit enggan, anak itu membiarkan B dan D mengikat tangannya pada tali yang tersedia di beranda lantai 2.
" bagaimana kalau pemilik rumah ini jahat? Bagaimana kalau dia menganggap E pengganggu dan dia melakukan hal jahat padanya?" Aku masih tidak setuju. Sebut saja aku lemah, tapi menurutku mengikat tangan seorang anak berumur 10 tahun di beranda rumah orang selama seminggu tanpa makan dan minum bukanlah bentuk latihan fisik untuk menjadi kuat.
Tapi rupanya A tidak sependapat.
" sejak ibu meninggal kita harus membuktikan pada selir lain kalau kita juga pantas diperhitungkan. jangan mentang - mentang tidak ada ibu lalu mereka bisa seenaknya pada kita! "
aku menghela napas. A memang keras kepala tapi apa yang dia katakan benar. sejak ibu kami, salah satu dari selir raja di kerajaan ini, meninggal, kami semakin sering dijadikan bulan - bulanan di kerajaan,
tapi tetap saja, feelingku tidak enak tentang latihan fisik untuk adik terkecil kami ini.


***


" A sedang tertekan kau tahu, " D duduk di sampingku dengan tenang. D terlihat sepintas seperti anak laki - laki dengan potongan rambut dan selera humornya, tapi ketenangannya yang luar biasa membuatku merasa nyaman.
" yeah, situasi sulit. tapi perasaanku buruk tentang ini semua, " aku memberitahunya.
" apa..yang kau pikir bisa terjadi pada E? "
tidak seperti kakak dan adikku yang memiliki kecenderungan sihir penyerang, kekuatanku lebih bersifat penerawangan. aku mengangkat bahu, " melibatkan seorang pria jahat mesum kurasa, "
" mengerikan! "
" bagaimana kau tahu tentang itu?! "
aku dan D menoleh dan melihat B di ambang pintu. kakak kedua kami memegang laptop di satu tangannya dan wajahnya terlihat berang.
dan panik.
" B, ada apa? " D beranjak berdiri dan menutup pintu.
B menunjukkan layar laptopnya, " aku melihat berita ini di internet. baru saja, "
" ada apa? " aku bertanya
" rumah itu. saat kita ke sana tadi, pemiliknya adalah seorang pria tua, kau ingat D? "
D mengangguk.
" ternyata itu bukan rumahnya. pria tua itu adalah pelayan. majikannya adalah seorang tahanan yang baru keluar malam ini karena kasus sodomi pada anak di bawah umur! "
" apa?! " aku dan D sama - sama berteriak.
" kita harus memberitahu A! sekarang! "


***


" kalian ingat rencana kita baik - baik, " A berjalan di depan kami. suaranya tegang tapi sikapnya tetap tenang, " B dan D, kalian bebaskan E dari balkon, C, kau mengamankan jalan keluar, aku akan mengalihkan perhatian sang pemilik rumah dari kalian. apapun yang terjadi, dahulukan E di atas segalanya! "
kami semua mengangguk mengerti. E adalah satu - satunya anak laki - laki dari ibu kami, yang berarti dia adalah salah satu pewaris takhta. kami tidak boleh kehilangannya.
" apa dia ada di dalam? pria mesum itu? " B berbisik padaku.
aku membiarkan sihirku bekerja, menembus pintu kayu yang tertutup di depan kami. kami sudah menggerebek rumah dengan timing yang tepat dengan penerawanganku. dan sekarang kekuatan itu membawa kami ke depan ruangan itu.
" dia sudah menunggu kita di dalam, " aku berkata serak.
tanpa banyak bicara A menghambur masuk. ruangan di depan kami adalah sebuah ruang duduk yang nyaman dengan penerangan yang baik, sebuah TV flat, dan pintu beranda yang terbuka. di sofa duduk seorang pria tampan dengan rambut panjang pirang. dia tersenyum penuh makna pada kami.
" menjemput seseorang? " suaranya terdengar licik.
kami mulai bergerak. D menyerang para pria yang menghalangi jalan kami ke pintu beranda. B melumpuhkan pria tua sang pelayan yang telah menipu kami dengan mengatakan bahwa rumah itu aman untuk digunakan. aku mengikuti kedua saudariku ke beranda. E masih ada di tempat kami meninggalkannya tadi siang. dia kelihatan lelah, lega, sekaligus ketakutan. B dan D berjongkok di sampingnya dan mencoba membuka tali yang membelit tangan adik kami. aku mendengar B yang emosional menyumpah - nyumpah pada tali itu. aku melepaskan kekuatanku untuk melihat jalur kabur kami. gedung itu dikepung dari segala arah. kami tidak bisa turun. kami harus melompat dari beranda.
tidak, aku berpikir putus asa, kami harus terbang untuk kabur.
" tali sialan ini tidak bisa dibuka! "
aku menoleh dan melihat B masih menyumpah - nyumpah lagi. bahkan D terlihat kesal.
" potong tali itu dengan sihir! " aku menjerit pada mereka, " tali itu tidak bisa diputus manual! kalian berdua yang memasangnya. kalian berdua yang harus memotongnya dengan sihir kalian! "
terdengar suara ledakan keras dan A terlempar ke beranda. dia terluka dan tidak sadarkan diri. D berdiri dan mulai melawan pria itu. sihir D adalah yang kedua terbesar diantara kami berlima. aku mendengar B menjerit, meluncurkan banyak makian sementara dia mengerahkan sihirnya untuk memotong tali itu. aku jelas tidak bisa membantunya. tali itu hanya merespon kekuatan B dan D. aku teringat kata2 A

" C, amankan jalan keluar"

kurasa membunuh pria ini termasuk jalan keluar bagi kami semua.

aku maju dan membantu D. pria itu tertawa dengan tawa mengerikan dan melecutkan cambuknya pada kami berdua. adikku itu terkena satu lecutan keras dan terlempar ke belakang. aku menatap nanar pada lawanku. sihirku bukan sihir penyerang. apa yang bisa kulakukan??
aku menjerit saat cambuk itu mengenaiku. aku mencoba menghindar tapi pria itu lebih cepat. habis sudah...
cambuk itu menghantam sesuatu yang keras. aku membuka mata dan melihat cambuk itu menghantam pelindung di sekitarku.
tentu saja! sihirku bukan penyerang. sihirku defensif. sihir pelindung!
" kau pikir pelindung ini bisa mengalahkanku? " pria itu tertawa seperti maniak dan mulai melecutkan cambuknya pada pelindung. pelindungku bergetar dan retak di sana sini.

"hentikan! "

aku menoleh dan melihat A sudah sadar. wajahnya terlihat murka, " tidak ada yang boleh menyakiti adik - adikku! "
kakakku maju dan menyerang. aku belum pernah melihatnya menggunakan sihirnya sekuat ini. dia seperti monster yang mengamuk. aku buru - buru menyingkir dan menyeret diriku ke beranda. D sudah sadar dan mulai mengerahkan sisa tenaganya untuk membantu B. tali itu sebentar lagi putus.
tapi aku masih belum bisa melihat jalan keluar.
" berhasil! " E berseru senang saat tali itu putus. B dan D merosot kehabisan tenaga. B terlihat terluka di seluruh tubuhnya. aku nyaris lupa pengerahan tenaga berlebihan dapat menyebabkan luka fisik pada kakakku itu.
" kita tidak bisa keluar, " air mataku berlinang, " tidak ada jalan keluar, "
" ada, "
A berdiri di sampingku. wajahnya terlihat lelah tapi dia tampak puas.
" kau..membunuhnya? "
" tidak. aku hanya membuatnya pingsan untuk sementara, "
" bagaimana dengan jalan keluar? " tanya B terengah - engah.
A memberikan tanda pada bayangan besar yang terbang dari langit dan melayang di depan kami.
sebuah burung yang sangat besar.
aku bahkan tidak sempat bertanya darimana asalnya burung ini. kami sudah terlalu sibuk memapah B, D, dan E ke punggung burung itu. A membantuku naik, dan kami meninggalkan rumah terkutuk itu.


***


istana masih sepi. matahari masih berupa semburat kekuningan di ufuk timur. burung itu menurunkan kami di halaman istana. dan kami merayap masuk dalam keadaan luar biasa lelah.
" E, kembali ke kamarmu dan saat pelayan datang untuk membangunkanmu, katakan kau sedang sakit. kau pasti lelah, "
" ya! " E mengangguk dan memberikan kakak2nya pelukan hangat, " terimakasih sudah menyelamatkanku! "
aku memperhatikan bocah kecil itu berlari ke sayap istana tempat para pewaris takhta beristirahat.
" bisakah kita skip ritual salam pada raja pagi ini? " B mengerang. penampilannya seperti baru ditusuk 1000 duri landak. darah merembes dari luka di seluruh tubuhnya.
" tidak bisa. mereka tidak akan mengizinkan, " A menggeleng.
" aku benar2 lelah, " D bergumam.
" kita punya waktu setengah jam untuk bersiap2 sebelum ritual, " A mengabaikan protes adik2nya. dia juga terlihat lelah dan penuh luka, tapi kepatuhannya pada peraturan membuatnya kembali keras seperti semula, " kembali ke kamar kalian. jangan menimbulkan kecurigaan. tidak ada yang boleh tahu apa yang kita lakukan. dan ingat, jangan tertidur! "
tersaruk - saruk kami kembali ke tempat istirahat kami. samar - samar aku mendengar B menyumpah dia akan bolos dari ritual pagi ini. aku sendiri ingin sekali melakukannya. punggungku luar biasa sakit di tempat cambuk pria itu mengenaiku. dan sialnya, kamarku adalah ruangan paling jauh. D, B, dan A sudah sampai ke kamar mereka tapi aku masih harus menyusuri lorong istana. aku menyeret langkahku sambil berharap masih ada sedikit waktu bagiku untuk merebahkan diri di tempat tidur.

" siapa di situ?! "
aku terlonjak saat mendengar suara wanita melengking dari belakangku. aku menoleh dan mengutuk dalam hati. wanita itu adalah salah satu selir yang paling memusuhi ibu. dia berlari mendekatiku. matanya terpicing saat melihat penampilanku yang lusuh.
" kau! apa yang kau lakukan di sini?! "
" a...aku..."
" berkeliaran dengan pakaian kotor seperti ini! memalukan sekali! kau habis menyelinap kemana, anak bodoh?! kau habis mencuri ya?! "
" tidak! "
" ada apa ribut2?! "
para selir lain mulai berdatangan membawa anak mereka masing2. mereka terlihat kaget dan juga ingin tahu.
" anak ini! anak selir yang baru mati itu! sekarang rupanya dia mencoba mencuri dan menyelinap di kamar anak2 kita! " selir yang menangkapku tadi meneriakiku dengan sengit. beberapa selir terkesiap. seorang pengawal datang dan menahan tanganku. selir yang tadi menangkapku masih melanjutkan tuduhannya, " aku tahu! kau pasti mencoba masuk ke kamar putriku, Putri Fajar, bukan? kau iri karena kecantikannya, sedangkan kau_ "
" adikku bukan pencuri dan penyelinap nenek sihir tua! lepaskan tanganmu darinya! " [intu lemari di dekat kami terbuka. B muncul dengan pakaian tidur acak2an dan wajahnya terlihat sangat kesal. kekuatan B adalah teleportasi. dan kadang2 teleportasinya bekerja saat dia sedang tidur, membuatnya selalu muncul di tempat2 aneh. kebanyakan adalah lemari. karena itu dia dijuluki siluman lemari.
dan kali ini sang siluman lemari berkacak pinggang dengan ganas pada para selir, " lepaskan dia! "
" dia benar, lepaskan adiknya, "
suara tenang di belakang kerumunan membuat kami semua tertegun. kerumunan tersibak, dan sang raja sendiri maju ke arah kami. wajahnya tegas tapi tak terlihat marah. kerumunan langsung membungkuk. B menyikutku, dan aku mengikutinya membungkuk. aku benar2 kaget. ini pertama kalinya aku melihat ayah di sayap tempat tinggal anak - anaknya. setahuku anak - anak yang pernah mendapat kunjungan langsung dari ayah hanyalah para pewaris takhta, dan Putri Fajar yang kecantikannya menjadi legenda.
dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajah ayah dengan lebih jelas. aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. kami anak2nya hanya melihatnya dari kejauhan, di ritual salam pada raja di pagi hari.
" aku bertanya - tanya apa gerangan yang menyebabkan ritual pagiku terlambat, " suara ayah terdengar lembut saat dia menatapku. dia berbalik pada kerumunan, " anakku bukan pencuri dan bukan penyelinap. pergilah ke kamar kalian dan siapkan ritual seperti biasa. semuanya bubar! "
dengan lega aku mengamati para selir yang bubar sambil bersungut - sungut. ibu dari Putri Fajar melempar pandangan marah padaku dan pergi. aku sendiri hanya bisa membeku di tempat. di bela oleh sang raja sendiri merupakan mimpi yang bahkan tak pernah berani kuimajinasikan.
" kau butuh istirahat, " sang raja menatapku dan B dengan cermat, " kalian berdua. kalian tampak sakit, "
" kami terluka, " kata B dengan berani. dia memutar tubuhku dan memperlihatkan luka di punggungku.
sang raja terlihat terkejut, " kalian harus segera di obati. dan sementara itu, aku ingin kalian menceritakan bagaimana kalian bisa mendapatkan luka2 ini, "


***


B berbaring di tempat tidur dan tampak benar2 rileks saat para pelayan mengoleskan cairan seperti minyak di luka - lukanya. ayah kami mengangguk angguk saat B menceritakan petualangan kami semalam. aku menunggu dengan gelisah. apakah beliau akan marah dan menghukum kami semua?
" jadi kalian telah melanggar seluruh peraturan malam yang kubuat untuk melindungi kalian, " sang raja menyimpulkan, " kalian pantas dihukum, "
aku menatap lantai, menanti hukuman yang akan dijatuhkan sang raja kepada kami.
" tapi karena kalian melakukannya untuk menyelamatkan adik kalian, dan kalian berhasil membuktikan bahwa kalian cukup handal dalam penggunaan sihir sehingga bisa menyelamatkan diri kalian sendiri, aku membatalkan hukuman itu, "
baik aku maupun B mendongak dan menatap ayah kami dengan tidak percaya.
" nah B, biarkan C mendapat pengobatan. kau sudah selesai diobati bukan? "
B mengangguk dan membiarkanku naik ke tempat tidur. ayah kami berdiri dan menepuk kepalaku, " terimakasih telah jujur padaku anak2, "
" kenapa? " aku menatap sang raja dengan takjub, " kenapa anda begitu baik? kami sudah melanggar semua peraturan anda, membahayakan pewaris takhta, tapi anda memaafkan kami... "
senyum terkembang di wajah lembut sang raja.

" kadang kita butuh kebaikan untuk mengecoh orang2 di sekitar kita. agar mereka semakin patuh dan kelak, mereka akan melakukan apapun untuk kita. itu bukan kebaikan. itu trik. untuk menjaring loyalitas orang2 bodoh seperti kalian! "

" eh? " aku terbelalak.
ayahku mengangkat alis, " ada apa C? " tanyanya dengan lembut.
" ap..apa yang baru anda katakan? "
" hmm? kubilang, aku memaafkan kalian karena kalian adalah anak2 kesayanganku, "
dengan kata2 itu sang raja meninggalkan ruangan. mantelnya berkibar dalam setiap langkahnya.
" astaga, dia baik sekali! kita anak kesayangannya! kau dengar kata2nya kan tadi? " B bersiul siul bahagia. wajahnya memerah.
aku memandang pintu yang tertutup, lalu tanganku sendiri. tanpa sadar aku menggunakan kekuatanku untuk mendengar kata hati sang raja.

" aku mendengar lebih banyak, " bisikku pelan.


***