Kamis, 11 Januari 2018

Amnesia

" Kau serius tidak ingar apapun? APAPUN?? "
aku memandangnya dengan frustasi. baru kemarin dia menyatakan tak bisa hidup tanpaku. baru kemarin kami berpelukan begitu erat dan tak seorang pun dari kami ingin melepaskan duluan. 
baru kemarin aku berjanji untuk menikah dengannya.
dan baru kemarin dia tersenyum dan berkata 'ya'
tapi sekarang....

***

pria didepanku terlihat tak percaya. aku melihat luka di hatinya terpancar jelas di matanya. seandainya aku bisa membantunya sedikit saja. meringankan kesedihan dari bahunya.
tapi aku tidak bisa.
aku tidak bisa mengatakan apa yang tidak pernah terjadi padaku.
pria ini berkeras kami sepasang kekasih.
tapi aku tidak mengenalnya.
tidak pernah mengenalnya....

***

"dulu kita sering makan malam di sini, " aku menatapnya dengan harap - harap cemas, " kau ingat? kau suka sekali steak itu. dan minuman kesukaanmu adalah thai tea yang dijual di belakang bar ini, "
pandangannya tetap kosong, " steak? thai tea? "
bahuku melemas, " ya. steak dengan saus jamur dan thai tea dengan susu yang banyak, "
" oh "
aku menatapnya. wajah yang kukenal. wajah yang kucintai. wajah yang menjadi pusat kehidupanku belakangan ini. 
dia hanya menatapku seperlunya, tampak tidak nyaman di tempat biasa kami bercengkerama. tempat dimana dia biasa memberiku senyumannya yang semanis madu, sekarang terasa begitu asing baginya.
asing, seperti aku di matanya.

***

" bukankah dia pria yang baik? "
aku menatap teman sekamarku. walaupun pria itu berkata aku mengalami amnesia, tapi bagaimana mungkin aku masih mengingat semua hal, ya semua hal, kecuali keberadaan pria itu? aku masih mengingat bagaimana teman sekamarku adalah gadis dengan rambut berwarna merah dan bintik - bintik memenuhi wajahnya. tubuh kurusnya menggunakan kaos oblong putih dengan overall jeans yang kebesaran. gaya tomboynya berkebalikan dariku 90 derajat.
" masalahnya aku tidak mengenalnya dan dia berkeras kami saling mencintai! bukankah itu gila? "
" mungkin kau benar - benar mengalami amnesia seperti yang dia katakan, " teman sekamarku mengangkat bahu.
aku memutar bola mataku, " amnesia tapi aku masih ingat kau? yang benar saja! "
" mungkin sebenarnya kau jatuh cinta padaku, " teman sekamarku tertawa, " sampai sampai kau tidak bisa melupakanku sama sekali, "
aku menghela napas, " kau sungguh tidak lucu, "
" well, " teman sekamarku menuruni tempat tidur tingkat kami dengan lincah seperti monyet tanpa menggunakan tangga, " kudengar dia akan pindah sekolah kalau kau terus tidak bisa mengingatnya, "
aku seperti tersetrum, " kau serius? "
teman sekamarku mengangkat bahu dengan gesture acuh tak acuh, " tapi apa pedulimu? kau sungguh tidak mengenalnya kan? "

***

aku membereskan barang - barang di lokerku dan memasukkannya ke dalam tas secara serampangan. sekolah berasrama ini sudah seperti rumah bagiku, lebih daripada rumahku sendiri. semakin terasa seperti rumah setelah gadis itu menjadi milikku. tapi sekarang semuanya tidak ada artinya.
aku mencangklong tasku dan beranjak pergi. surat kepindahanku sudah di acc oleh kepala sekolah. mulai besok aku bukan lagi siswa di sekolah ini. sudah saatnya aku pergi. mungkin memang aku ditakdirkan untuk masuk ke angkatan udara seperti keinginan ayah selama ini. aku telah terlalu lama menunda takdirku.
suara langkah berderap menghampiriku. aku mendengar seseorang mamanggil namaku. suara yang kukenal dengan baik. aku menoleh dan terpaku.
gadis itu, yang kini bukan lagi kekasihku, menghampiriku terengah - engah. rambut panjangnya berkibar di punggungnya saat dia berlari kearahku. rok pink favoritnya berkibar cantik. dilihat dari sudut manapun dia benar - benar seperti dewi bagiku.
" tu...tunggu! " dia menahan tanganku. aku mengangkat alis. setelah semua usahaku mengingatkannya pada kenangan - kenangan kami, dan dia selalu menanggapinya dengan dingin, ini pertama kalinya dia menyentuhku. biasanya sentuhannya akan membuatku berdebar, tapi kali ini yang kurasakan hanya kehampaan kosong karena kutahu dia bukan lagi milikku, sosokku di dirinya telah mati.
" ada apa? " aku menjawab kasual.
" anu...apa benar kau akan pindah sekolah? "
" ya, "
" kapan? "
" besok, "
" kalau begitu... " dia kelihatan ragu - ragu, " bolehkah kita pergi makan malam di tempat steak yang sering kita datangi bersama? "

***

" thai tea dengan susu yang banyak. tolong es nya sedikit saja, "
aku menatap gadis itu, masih mengangkat sebelah alis. kehampaan dalam hatiku berubah menjadi rasa penasaran dan juga sebuah kekesalan yang tak terduga kurasakan.
" kau bilang kau tidak ingat pada tempat ini. kau bilang kau tidak ingat pada makanan kesukaanmu saat bersama denganku. kau bilang_"
" itulah masalahnya! " gadis itu memotongku dengan tajam. keningnya berkerut, " itulah kenapa aku menahanmu. kurasa...kurasa aku mulai mengingat sesuatu, "
" sesuatu seperti? " aku bersedekap.
gadis itu terlihat ragu " aku tidak tahu. aku hanya merasa aku mengingatnya. aku mengingatmu. aku harus mengingatmu, "
" kenapa? kenapa harus? " aku bertanya, masih tidak percaya.
" sungguh aku tidak tahu! tapi aku merasa itu sebuah keharusan, "
pesanan kami tiba dan kami mulai makan. dan dia mulai berceloteh seperti sedia kala saat kami pertama kali bertemu, saat kami pertama kali makan di tempat itu. aku memandangnya, sangsi, juga takut kalau ini semua hanya mimpi.
aku meraih tangannya, dia menatapku dengan mata bulatnya yang indah.
" kau benar - benar sudah mengingatnya? mengingat semua tentang kita? "
gadis itu menatapku, matanya berbinar.
" ya, aku sudah ingat tentangmu. ingat semua tentang kita"

***

air keran berderu saat aku mencuci wajahku di wastafel restoran tempat kami makan tadi. aku menatap bayangan wajahku di cermin. 
wajah seorang pembohong yang lihai.
tidak, aku tidak ingat apapun tentangnya.
aku tidak ingat apapun tentang kami berdua.
tapi satu hal yang kutahu pasti.
aku tidak ingin kehilangannya.
aku tidak bisa.

Rabu, 28 September 2016

Bond

aku melangkah menuju sumur di tengah - tengah hamparan ilalang itu. matahari sudah terbenam dan sinarnya yang temaram membuat pemandangan di depanku terlihat keemasan, sangat indah. aku menghela napas sembari menghela diriku ke sumur itu. embernya tergantung bebas tertiup angin yang semilir. aku menurunkan embernya ke bawah dan menghela ember yang berisi air itu ke atas. rutinitas soreku yang biasa, selalu semembosankan ini sejak dulu kala,
samar - samar diantara suara semilir angin, kecipak air di dalam sumur, dan gesekan ilalang, aku mendengar suara napas dan erangan tertahan. aku menghentikan kegiatanku dan menoleh ke kanan dan ke kiri. aku yakin tidak salah dengar. sudah berbulan - bulan aku mengambil air di sumur ini dan baru kali ini aku mendengar suara asing itu. dengan hati - hati aku meninggalkan sumur itu dan mulai berjalan ke sekeliling sumur, mencari asal suara yang tidak biasa itu.

.....dan aku menemukannya.

***

pemuda itu sepertinya seumuran denganku. dan dia luar biasa tampan. sesuatu pada wajahnya membuatku merasa dia adalah seseorang yang familiar. aku bertanya - tanya apa warna matanya dibalik kelopak matanya yang tertutup dan bagaimana suaranya saat dia bicara. siapa dia? darimana asalnya?
terdengar suara ketukan keras di pintu kamarku, membuatku terlonjak.
" hei gadis muda! aku tahu kau di dalam! lebih baik kau keluar sebelum aku mendobrak pintu ini! "
aku memutar mataku dan beranjak ke pintu, membukanya perlahan dan mengganjal daun pintunya agar si tukang daging yang menyewakanku kamar ini bisa melihat wajahku tapi tidak bisa melihat siapa yang berbaring diatas tempat tidurku.
" apa yang kau lakukan di sini, pemalas?! "
" dengan segala hormat, bisakah kau berhgenti berteriak - teriak? " aku menggertakkan gigi, " aku sudah mengambil air di sumur dan menaruhnya di dapurmu! "
" kau pikir pekerjaanmu selesai sampai di situ?! bagaimana dengan tumpukan - tumpukan piring itu?! kau pikir mereka bisa mencuci dirinya sendiri?! kau pikir aku menyewakan kamar ini dengan gratis hah?! " pria itu, bau dan kotor dengan segala noda - noda darah dan daging di celemeknya, memelototiku dengan galak.
aku tahu aku sudah kalah telak saat dia menyebut - nyebut tentang kamar yang sekarang aku tempati ini. aku menghela napas tanda kalah, " aku akan mencucinya setelah ganti baju. pakaianku basah saat mengambil air tadi, "
pria besar itu memberiku sumpah serapah dan beranjak meninggalkan pintu kamarku. aku menutup pintu dan berbalik, lalu terlonjak.
pemuda yang tadi berbaring tak sadarkan diri di tempat tidurku sekarang sedang duduk sambil memegangi kepalanya. dia mengerang pelan. dia menoleh perlahan padaku yang menatapnya sambil mematung.
" siapa....? "
aku berjalan mendekatinya dengan hati - hati, membiarkan pertanyaannya tergantung di udara diantara kami.
" aku menemukanmu di dekat sumur di padang rumput. aku yang harusnya bertanya. kau siapa? "
dari dekat aku bisa melihat pemuda itu memiliki mata berwarna coklat tua. suaranya berat dan agak serak. dan dia menatapku dengan memicingkan mata.
" aku...tidak ingat.. "
" apa maksudmu dengan...tidak ingat? " aku merasakan jantungku berdebar - debar.
" apa kau tahu siapa aku? "
" kalau aku tahu aku tidak akan bertanya, " jawabku hati - hati.
pemuda itu mengeluh dan memegang kepalanya, " aku tidak ingat... "
aku beringsut dan duduk di kaki tempat tidur, " namamu? tempat tinggalmu? "
" ...tidak ingat "
aku menatapnya dengan perasaan campur aduk, "oh "
" kau siapa? " sekarang pemuda itu menatapku dengan pandangan ingin tahu. mata coklatnya terlihat besar dan berair. memberi kesan kekanak - kanakan di wajahnya.
aku tertawa serak, " lucunya, aku juga tidak tahu siapa aku "
" apa maksudmu? "
aku tersenyum masam, " aku ditemukan di tempat aku menemukanmu dalam keadaan seperti ini, " aku mengangkat bahu " seperti kau, aku tidak ingat apapun, sama sekali. "

***

aku menunggu sampai pak tua penjaga perpustakaan merapikan barang - barangnya dan bersiap menutup perpustakaannya, dan menghampirinya dengan cepat.
" selamat malam, "
dia mendongak dari kesibukannya membereskan kacamata dan buku - buku di mejanya. senyumnya terkembang saat melihatku.
" ah nona muda, senang sekali melihatmu! tidak biasanya kau mengunjungiku malam - malam seperti ini. sayangnya aku harus menutup perpustakaan ini. kau bisa datang kembali besok pagi "
pak tua itu selalu ramah dan menyenangkan, tidak seperti si tukang daging yang menemukanku di samping sumur di padang rumput, membawaku ke rumahnya, menjadikanku pembantunya dengan bayaran sebuah kamar kecil yang lusuh sebagai tempat tinggal.
" maaf mengganggu anda, Pak " aku mengedarkan pandangan gelisah ke sekeliling perpustakaan yang sudah sepi, " saya kesini bukan untuk meminjam buku. saya ingin meminta tolong pada anda, "
" ah? apa yang bisa orang tua ini bantu, anakku? "
" begini, " aku menatapnya gugup, " aku menemukan seorang pemuda di belakang sumur di padang rumput sore ini. dia...dia juga tidak mengingat apapun. sama seperti saya, "
aku melihat ketertarikan di mata sepuh sang penjaga perpustakaan, " lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? "
" saya merasa...mungkin ada keterkaitan antara saya dan dia. kami sama - sama tidak ingat apapun dan kami ditemukan di tempat yang sama. saya tidak bisa membantunya mencari tahu siapa dia karna saya harus bekerja sepanjang hari di rumah tukang daging. bisakah..biasakah pemuda itu bekerja di sini untuk anda? dengan begitu mungkin dia bisa mencari tahu siapa dia...siapa saya...sambil membantu anda di perpustakaan ini "
penjaga perpustakaan itu menatapku, menimbang - nimbang tawaranku, dan menjawab hati - hati, " tapi anakku, aku tidak memiliki appaun untuk ditawarkan sebagai pembayaran untukmu ataupun untuk pemuda ini. tidak seperti tukang daging yang bisa membayarmu dengan sebuah kamar untuk tempat tinggal, aku tidak memiliki apapun untuk ditawarkan kepada kalian "
dia benar, aku tahu itu. tapi menaruh pemuda itu di kamarku pun bukan penyelesaian. entah apa yang akan dikatakan si tukang daging jika dia tahu. tentu saja akan lebih mudah bagiku kalau meminta tukang daging untuk menerima pemuda itu bekerja padanya dengan bayaran sebuah kamar sebagai tempat tinggal. bagaimanapun juga tenaga seorang laki - laki akan lebih dibutuhkan di pasar. tapi aku tidak tega memberikan pemuda itu pada si tukang daging. dia bukan majikan yang baik. hampir setengah tahun aku bekerja padanya dan tidak pernah kudapatkan kenyamanan satu hari pun darinya.
" anda...anda bisa membiarkannya tidur di sini, " aku menatap pria tua itu dengan putus asa. " dia akan bangun pagi - pagi sekali dan memastikan perpustakaan ini sudah rapi. dan dia akan memastikan perpustakaan ini tetap rapi dan aman saat malam datang. biarkan dia tinggal di sini sebagai pembayaran "
pria tua itu menatapku, melihat keputusasaan di wajahku. dia menghela napas, " baiklah. tapi pastikan jangan sampai ada penduduk desa yang tahu kalau aku menjadikan tempat ini sebagai penginapan untuk orang asing "


***


sore itu aku bekerja seperti kesetanan. aku mencuci semua pisau dan parang si tukang daging sampai mengkilat. aku menyapu dan mengepel dapur, memastikan tidak ada noda setetes pun di sana. aku melayani pembeli dengan sangat manis, menyiapkan makanan untuk si tukang daging dengan cepat. hari itu tidak ada satu sumpah serapah pun yang keluar dari mulut kasarnya. dia tampak puas,dan sedikit curiga, tapi tetap enggan memuji atau menanyakan apa itikad dibalik performa kerjaku hari ini.
saat akhirnya kios itu tutup karena semua daging untuk hari ini telah habis dijual, tukang daging itu beringsut kembali ke kamarnya dan meninggalkan sisa - sisa makanan di atas meja untuk kumakan. aku membungkus semua sisa makanan itu dan menyelinap keluar. menuju perpustakaan.
perpustakaan sepi seperti biasa, hanya ada beberapa orang yang melihat - lihat rak - rak berisi buku - buku tipis di sana. tidak ada seorangpun di desa ini yang berminat pada perpustakaan kecil itu. tidak ada juga yang menyadari seorang pemuda asing yang sekarang membantu bersih - bersih di sana. pemuda asing itu memberikan senyum cerah yang menawan saat melihatku datang. aku membawanya menepi ke belakang rak - rak buku dan menunjukkan apa yang kubawa.
" apa kau sudah makan? "
dia menggeleng. "tidak ada yang bisa dimakan di sini selain buku - buku, " dia menjawab geli.
" makanlah, " aku mengangsurkan sisa - sisa makanan yang seharusnya menjadi makan malamku.
pemuda itu meraih makanan yang kubungkus untuknya dalam serbet dan membaginya separuh. dia mengangsurkan separuhnya padaku, " aku tahu kau juga belum makan "
" darimana kau tahu? kau tidak.... " aku menatapnya gelisah.
" memata - mataimu? " dia tampak geli, " kau bisa bertanya pada pak tua penjaga perpustakaan, aku tidak melangkah satu langkahpun dari gedung ini sejak tadi pagi kau membawaku ke sini, "
aku berdehem tidak nyaman, " maaf tentang itu. aku tidak tahu harus kemana lagi aku membawamu. dalam pikiranku, ini adalah tempat yang paling cocok, "
" untuk menyembunyikanku, " pemuda itu mengangguk, " dan untuk mencari tahu siapa aku dan siapa kau. kau benar. ini tempat yang paling cocok, "
" apa kau keberatan bekerja di sini? "
" aku akan melakukan apapun yang kau mau aku lakukan, " jawab pemuda itu
" darimana kau mendapatkan kepercayaan sebesar itu padaku? " aku menatapnya dengan heran.
pemuda itu mengangkat bahu, " aku hanya merasa kau pantas untuk itu, "
terlepas dari kenyataan kalau kami baru saja berkenalan dan kami bahkan tidak saling mengenal satu sama lain, aku merasakan wajahku memerah.
" aku merasa kau memegang kunci yang penting dalam hidupku, " pemuda itu menatapku sungguh - sungguh, " aku merasa ada keterikatan diantara kita berdua, "
" apa...apa yang sudah kau dapatkan hari ini? " aku berdehem, mengabaikan kata - kata intim yang diucapkannya tadi. mungkin dia terlalu banyak membaca buku roman. pasti begitu.
" tidak banyak. aku menumpuk semuanya di sini. kupikir kau akan mau melihatnya saat kau datang, "
kami berjalan melewati beberapa meja dan rak buku, dan sampai pada meja paling belakang, dimana terdapat tumpukan buku di sana. aku menatap tumpukan itu dengan tidak percaya.
" kau sudah membaca sebanyak ini? sejak aku meninggalkanmu tadi pagi di sini? "
" yah...aku tidak punya pekerjaan lain di sini selain membaca, bukan? aku melakukan tugasku dengan baik, " dia menyeringai bangga.
" lalu apa yang kau temukan? "
" belum ada sesuatu yang berarti. tenang saja, aku akan mengabarimu kalau aku menemukan sesuatu, "
" oke, kabari aku terus. kita harus mendapatkan sesuatu dari semua buku ini. pasti ada sesuatu di sini, "
" kuharap juga begitu, "


***


hari berganti dan tidak banyak yang berubah. kami bekerja di tempat kami masing - masing dan makan bersama di sudut perpustakaan setiap malam menjelang waktu tutup perpustakaan. sampai suatu hari, pemuda itu mengajukan suatu pertanyaan.
" apa kau merasakannya? "
" merasakan apa? "
" getaran itu? "
" getaran apa? gempa? "
" bukan. getaran aneh setiap kau menyentuhku, "
aku menatapnya seakan dia gila. apa dia baru saja merayuku?
" aku tahu apa yang kau pikirkan. aku tidak gila, dan aku tidak sedang merayumu. tapi aku benar - benar merasakan sesuatu bergetar setiap kita bersentuhan. "
aku menatap tanganku, lalu menatap tangannya.
" kita tidak pernah bersentuhan, "
" tidak secara sengaja, "
dia mencomot roti bagianku dan jari - jarinya menyenggol jariku. dia mengernyit.
" seperti itu. apa kau merasakannya? "
aku menatapnya dengan bingung, " tidak terasa apa - apa, "
dia kelihatan jengkel, " bagaimana mungkin kau tidak merasakan apa - apa sementara hal itu menggangguku sepanjang hari? "
dia menatapku dengan ragu dan dengan hati - hati meraih tanganku. aku mendengarnya terkesiap kesakitan saat dia menggenggam tanganku. dia menunduk, tangannya menggenggam jari - jariku dan dia menggumamkan sesuatu. aku beringsut ke depan untuk mendengarkan apa yang dia katakan, dan saat itulah
aku merasakan sensasi aneh itu.
getaran samar yang sebenarnya tidak begitu menggangguku, tapi bukan itu saja.
ada sesuatu yang lebih besar. sebuah rasa yang menelanku.
rasa kekuasaan. rasa kepemilikan.
aku mendongak dan melihatnya juga mendongak menatapku.
dia tertawa serak, " nah, sekarang kau merasakannya, "


***


kami menyebutnya ikatan.
sensasi kepemilikan itu begitu kuat, sampai aku bisa menyebutkan suatu perintah dan pemuda itu langsung melaksanakannya tanpa bertanya.
dan getaran yang dia rasakan, secara fisik itu menyakitkan tapi dia mengatakan dia menikmatinya. menyakitkan tapi dia menantikannya.
kalau aku menyebutkan satu perintah dan dia melakukannya, getaran itu tidak lagi mengganggunya.
tapi itu menggangguku.
bagaimana mungkin aku bisa mengimplikasikan rasa sakit yang begitu besar pada seseorang yang baru saja aku kenal, membuatnya menuruti apapun yang kuperintahkan?
bagaimana kalau aku menyuruhnya terjun dari tebing? apakah dia akan benar - benar terjun?
harus ada suatu alasan dibalik ikatan itu. harus ada sesuatu yang masuk akal yang mendasarinya.


***

siang itu aku melakukan tugasku sambil melamunkan ikatan aneh itu. aku mendengar si tukang daging meneriakiku dan memerintahkan aku mencari buah - buahan di kios lain karena malam ini dia ingin memakan sesuatu yang menyegarkan tenggorokannya. dengan langkah malas aku mengambil keranjangku dan berjalan mengitari pasar untuk mencari buah segar.
mungkin aku terlalu banyak melamun atau mungkin siang itu begitu terik hingga aku kehilangan konsentrasi, aku hampir terjungkal saat seorang pria berlari dan menabrakku.
tepat di detik - detik terakhir sebelum wajahku menghantam tanah, pria itu menarikku berdiri dan menahan tubuhku dengan mantap.
dan aku merasakannya lagi.
getaran itu, sensasi kepemilikan yang familiar.
aku mendongak untuk menatap pria itu dan melihat dia juga menatapku dengan terbelalak. dia juga menyadari sensasi itu.
terdengar suara seorang wanita memanggil - manggil sebuah nama, menyeruak kerumunan dan menghampiri kami.
wanita itu memakan mantel berpergian berwarna hitam, parasnya cantik dan sesuatu di wajahnya memberitahuku kalau dia lebih muda dariku. rambut hitamnya dibiarkan tergerai dan dibalik mantel hitamnya aku melihat dia menggunakan blus putih dengan rok hitam dan sepatu hitam yang mengkilat.
wajah itu tampak familiar.
dia menatap pria yang menolongku, lalu menatap tangan kami yang bertautan, lalu menatapku.
dan dia menjeritkan satu kata yang tidak pernah aku lupakan.
" kakak?! "


***


" mereka adalah werewolf, dan kita adalah kaum penyihir yang memiliki keterikatan dengan mereka, "
gadis itu, yang kini kuketahui adalah adikku, menjelaskan dengan suara pelan. kami berjalan di sekitar sudut pedesaan yang temaram menjelang matahari yang mulai terbenam.
" penyihir? "
" setiap werewolf memiliki ikatan dengan satu penyihir. ikatan itu seperti takdir. satu werewolf hanya untuk satu penyihir. satu penyihir dapat memerintah banyak werewolf tapi hanya ada satu werewolf yang terikat untuk menjadi pelayannya seumur hidupnya. "
" jadi pria tadi adalah werewolfmu? " aku memastikan.
" ya. tapi saat seorang werewolf menyentuh seorang penyihir, mereka akan saling mengenali. kau bisa memerintah werewolfku tapi dia memiliki pilihan dan kekuatan untuk menentang perintahmu. tapi kalau kau memerintah werewolfmu sendiri, dia tidak bisa menentangnya walau satu tarikan nafas pun. "
aku teringat sensasi kekuasaan yang melingkupiku dan bagaimana pemuda yang kutemukan di padang ilalang kemarin mengatakan kalau getaran yang dia rasakan menyakitkan tapi dia justru merasa menantikannya.
" kurasa aku sudah menemukan werewolfku, " aku memberitahu adikku.
" saat kau menghilang kami semua mencarimu kemana - mana. tapi werewolfmu lah yang paling mencemaskanmu. bagaimana pun ada keterikatan diantara werewolf dengan penyihirnya. kau adalah pasangan takdirnya dan dia tidak bisa kehilanganmu. belakangan dia juga menghilang dalam usahanya mencarimu. aku dan werewolf ku ke desa ini karena kami merasakan ada getaran ikatan di sini. aku sempat pesimis, tapi saat aku melihatmu siang ini, aku benar - benar lega kau baik - baik saja. bahkan kau sudah bersama werewolf mu. aku tidak bisa lebih bersyukur lagi daripada ini, " adikku menggenggam tanganku dengan senyum terkembang, " setelah kini aku menemukanmu, kuharap kau akan kembali bersamaku ke rumah kita yang dulu. "
" aku..tidak punya ingatan apapun tentang rumah yang kau sebutkan itu, "
" bukankah itu alasan yang lebih bagus untukmu untuk ikut bersamaku? siapa tahu dengan melihat rumah itu kau akan ingat sesuatu. pulang lah. kau dan werewolfmu, "
aku menatap adikku. adik yang tidak kumiliki ingatan tentangnya.
" aku harap juga begitu "


***


" karena itu, kurasa akan lebih baik kalau kita berdua ikut bersamanya. pulang ke tempat asal kita "
pemuda itu, werewolf ku, mendengarkan penjelasanku tanpa banyak komentar. dia hanya mengangkat bahu, " oke, "
" kau tidak senang? kau tidak terganggu dengan ketiadaan ingatanmu? "
" bukan itu, " dia menghela napas.
" kau tidak tampak senang. ada sesuatu yang mengganggumu, " aku menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan.
" begitukah? "
aku menatapnya jengkel dan meraih tangannya. sensasi keterikatan muncul diantara kami. dia terkesiap dan menutup matanya. ekspresi kesakitan itu melunakkan kejengkelanku.
" apa yang kau pikirkan? apa yang mengganggumu? "
itu bukan pertanyaan. itu adalah perintah. perintahku agar dia menjawabnya.
werewolf ku meringis. dia meraih satu tanganku yang tidak menyentuhnya dan menggenggamnya erat - erat.
" yang menggangguku adalah, kenyataan bahwa, sekarang aku tahu ada orang lain yang bisa memerintahku selain kau. kenyataan bahwa kau merasakan getaran itu tidak hanya saat menyentuhku. kenyataan bahwa getaran ini tidak lagi eksklusif hanya milikmu. yang menggangguku adalah.....keinginanku agar getaran ini hanya dirasakan olehku saat kau menyentuhku. hanya kau saja, "


Jumat, 17 Juni 2016

the beginning of internsip

i don't know what the heck which possessed me because suddenly i want to write personal stuff again  in this blog (oh men! after all this time! wkwk)

sebenarnya gw nulis juga kok beberapa personal stuff di tumblr gw, which is always contain 3 hashtag: #him #her and #hakku. yep, 3 hashtag yang bikin hidup gw tetap berjalan: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan ( i hope so but nope, im not that lucky)

anyway, singkat cerita, secara terkahir kali postingan blog gw 3 tahun yang lalu dan itu adalah postingan koas (and i am just too lazy to cintinue it), gw bakal fast forward ke masa - masa sekarang. yap, ke tahun 2016. sambil sesekali kalo lagi (hipo)manik atau lagi kebanyakan kuota (lol) gw akan berflashback ria ke kehidupan koas gw yang vakum dari blog ini.

so recently, i am a doctor now. M.D alias medical doctor. udah bukan mba koas atau mba isip lagi. and it is...such a bless, because of my personal health condition yang akan gw jabarkan lebih lanjut di postingan - postingan selanjutnya.

to make it short (not really short, but well we'll see), gw lulus UKDI dengan sukses setelah periode panic attack, depresi, dan episode - episode penuh drama lainnya. tibalah saatnya memilih tempat internsip.
bokap udah dari awal ngasi ultimatum jangan ngambil luar jawa. kalopun gak dapet jawa ambillah yang di sumatera yang kata doi peradabannya masih mendekati jawa. at that time gw sih sebenernya pengennya di kalimantan. bagus malah kalo dapet di balikpapan kan kampung nyokap gw. karena pemilihan internsip itu online dan sistemnya cepet - cepetan (we called it hunger game ala anak FK), akhirnya dari awal pun gw mulai mencari teman seperjuangan yang nanti bakal milih satu daerah secara barengan pas pemilihan online. seperti biasa, gw janjian sama partner in crime gw si donna dan ISFJ on the bottom of the deepest soul gw, sodiqa. ditambah temen SMA yang jadi temen sejawat, anggun dan partner in crimenya, benji. pas daftar daerah mana yang keluar buat periode isip keluar, kita ber5 langsung diskusi ketat banget mau milih dimana, milih daerah apa, dan cadangannya apa kalo ternyata tempat pemilihan itu udah penuh.
lalu di sanalah semua kegalauan gw bermula.,..

gw gak minat isip di jakarta. seriously men, gw udah idup di jakarta dari tahun 2008. kalo harus setahun berpetualang, gw sih pengennya jawa, kalimantan atau sumatra. tapi anak - anak seperjuangan mau nyoba peruntungan di jakarta. akhirnya dengan berat hati pun gw menurut.

hari H pemilihan wahana jakarta, gw dan benji udah sampe di kosan tempat kita mau milih bareng at the same place, same internet quota, same second, and (hopefully) same luck. kecuali donna yang saat itu lagi honeymoon di Bali sama suaminya. sampe menjelang jam pemilihan jam 8 pagi, anggun dan sodiqa belum ada batang hidungnya. akhirnya gw dan benji pun milih langsung tanpa kehadiran anggun dan sodi. kita cuma kontak - kontakan via line group dan telponan sama dona pas detik - detik pemilihan. emang dasar nasip, anggun dan sodi yang notabene pake internet hp masing - masing malah dapet wahana cengkareng yang kita ber5 sepakati bersama daritadi malem, sementara gw, benji, dan dona yang internetnya stabil malah pas buka wahana si Cengkareng udah sold out semua. ditengah kepanikan karena pilihan #1 udah sold out dan dona yang berteriak lewat telpon "jadi kita pilih apa ineeeees???? ", gw pun balik menjerit "oke pilih RSAU aja! "
lalu benji dan dona pun dengan serempak memilih RSAU. belakangan saat keduanya bertanya kenapa gw pilih RSAU, gw hanya mengangkat bahu dan berkata "karena gw pernah koas di sana, "
dan ketika pertanyaan berikutnya bergulir "emang enak koas di sana? ", gw menjawab dengan satu cengiran dan berkata "nope".
lalu kedua manusia itu pun memelototi gw dengan geram.

dari orang yang tadinya diajak (re: dipaksa) temen ikut pemilihan wahana jakarta, malah bener - bener terdampar di jakarta untuk setahun kedepan. how tragic i am! gw menangis dalam hati dan merutuki nasib seraya bertanya - tanya "why God?! ".
i didnt see any good things in Jakarta for internsip,

lalu aktivitas merutuk gw pun semakin bertambah intens saat gw dan dona malah ditempatkan di 2 kelompok internsip yang berbeda dan gw ditempatkan bersama benji yang mana gw tidak begitu dekat, yurike yang gw bahkan gak pernah ngobrol sama dia, mita ajege si otaku temen sodiqa yang agak freak, dan 3 orang anak universitas lain yang for a God sake i dont know who the fuck are they.

ditambah dengan drama kehidupan dimana saat itu gw lagi broken heart karena orang yang gw sayang (caelah nes! ) menghilang dari kehidupan gw dan jadian dengan orang lain yang dijodohkan keluarganya (men plislah! ini bukan siti nurbaya dan dia bukan perempuan), gw cuma menangis berjam - jam, literally, meratapi nasib.
donna dengan setia (as always) menghibur dengan cara mengajak gw mencari kosan di tebet dan mendengarkan keluh kesah gw yang masih dalam fase denial teramat dalam mengenai keputusan Tuhan yang meletakkan gw di Jakarta yang busuk ini.

lalu dimulailah kisah internsip gw, dimulai dengan pengarahan dari dinkes DKI. nope, pengarahannya bukan di kantor dinkes. bukan di hotel. bukan di gedung atau ballroom.
melainkan di auditorium FK UKRIDA.
seriously! terimakasih Tuhan sudah mengingatkan pada hambamu ini sebuah kejomplangan dimana ukrida memiliki auditorium yang mampu menampung 300 orang sementara kampus gw sendiri yang notabene nya adalah tetangga ukrida, cuma bisa menyediakan bangku untuk 150 orang.
dan aktivitas merutuk gw pun semakin bertambah dalam dan dalam seperti hipnotis romy rafael.

bahkan di awal masukpun sudah terjadi perdebatan di grup internsip gw,
apalagi kalo bukan penunjukkan ketua grup.
ada 2 cowok di kelompok gw, adhi dan arnold. dan 1 cewek non-trisakti yang bernama egen. dimana ketiga manusia ini belum pernah gw liat mukanya gimana (bahkan gw gak seniat itu untuk membuka foto profil line mereka..hahaha).
perdebatan dimulai saat dinkes meminta perwakilan kelompok maju dan menulis nama.

adhi: siapa nih yang mau jadi ketua?
benji: lw aja adhi
adhi: lho kok gw
benji: karena lw laki - laki
adhi: lah
yurike: cepet maju adhi. kelompok kita udah dipanggil
adhi: yaudah gw perwakilan aja ya. nanti ketuanya bukan gw.

at that time, gw, yurike dan benji liat - liatan dan menyeringai dalam 1 harmoni pikiran yang sama "ketuanya sih pasti lo sampe internsip ini berakhir"
good for us, kita gak menuliskan itu di grup demi mencegah surutnya aksi heroik adhi menjadikan dirinya ketua.

setelah pembukaan dan kuliah cukup panjang tentang internsip, berakhir lah deretan acara dari dinkes tersebut.
lalu muncul lah perdebatan baru di grup yang selama ini bungkam itu

adhi: nanti jangan pada balik dulu ya. ini ada buku yang mau dibagiin ke kelompok
yurike: oke. ketemu dimana?
adhi: ketemu di depan aja
benji: depan penuh banget. ketemu diluar aja
adhi: oke ketemu di pintu keluar ya

lalu gw, yurike, dan benji mengantri ke pintu keluar sambil bertanya - tanya seperti apa wujudnya si adhi sang ketua grup ini.
saat diluar, gw bertemu teman koas gw waktu di bedah bekasi. anak UKI named Dian.

dian: ines! ini temen aku yang satu kelompok sama kamu! namanya egen
egen: hei ines! gw egen! btw ini pintu keluar kan ya? adhi mana ya?

cewek bernama egen ini looks like cewek gaul dengan rambut panjang terurai, tubuh petite, dan pembawaan cerah ceria.
pikiran gw saat itu "uh..definitely not my type, i hope nerd like me can get along well with queen bee like her"

gak berapa lama mita ajege muncul. gw lupa antara dia yang muncul atau gw yang menarik dia dari kerumunan yang bergerombol hectic dari arus 300 orang dokter internsip yang sibuk mencari kelompoknya masing - masing.

egen: gw tuh pernah ketemu sama adhi ini loh
gw: oh! bagus! yang mana orangnya?
egen: tapi gw lupa mukanya gimana
gw: . . . . .
egen: mungkin kita bisa mulai manggil - manggil adhi,
benji: boleh juga
yurike: . . . . . .

bayangkan 5 orang wanita bergerombol di depan pintu keluar dan mulai memanggil - manggil setiap pria yang lewat dengan satu kata "adhi? "
kalo lo membayangkan adegan erotis, lo akan kecewa.

notif line menunjukkan pesan dari adhi

adhi: kalian dimana?
yurike: kita di depan pintu keluar
adhi: gw di depan pintu keluar. kalian dimana?
egen: kita di samping tong sampah

for a God sake, egen. gw bahkan gak sadar kita ada di samping tempat sampah daritadi.

tiba - tiba ada cowok kurus datang mendekat membawa buku - buku. wajahnya tampak tidak yakin.

" gw nunggu dibalik pintu"

dan 4 orang wanita itu bertanya serempak dengan keyword yang sama "adhi? "

" iya gw adhi. ini buku kalian, "
" satu lagi siapa ya? yang cowok satu lagi itu. siapa itu namanya...ronald? "tanya gw
" arnold. bang! sini bang! " adhi menoleh ke seorang cowok berkacamata yang tidak tampak sebaya dengan kita.

lalu hati gw mencelos. sial! ada senior di grup isip gw!
pasti pato!

"terus abis ini kita ngapain adhi? " tanya benji
" ambil makanan sama uang transport di sana"
" oke yuk ambil makanan! " seru gw kelaperan
" jangan nes! makanan bisa nanti! yang penting uang! " egen menyambar tangan gw dan tau - tau gw sudah dibawa (re: diseret) mengantri di deretan orang - orang yang berjejalan mengambil uang transport.
pikiran gw saat itu: wow this queen bee is not an ordinary queen bee hmm?

dari arah lain gw melihat dona dan kak yoni sudah membawa kotakan ke ruangan yang disediakan buat makan.
gw pun mengikuti hasrat dan nalar seorang anak gemuk, gw memisahkan diri dari gerombolan bounty hunter pencari seamplop uang transport, dan memilih mengambil makanan terlebih dahulu.

saat akhirnya gw sudah duduk manis dengan kotakan makanan di pangkuan, benji datang dengan kotakan dan amplop uang. saat itulah (setelah kenyang otak mulai bisa mikir ceritanya) gw barui teringat jatah uang transport gw

" duit! "
" udah bubar pembagian duitnya" said benji
" terus duit gw gimanaaa? " gw mulai pucat pasi
tiba - tiba adhi sang ketua muncul membawa banyak amplop "ada yang belum ambil uang transport? "
pikiran gw saat itu: you are definitely be the group chief for the rest of the year dude!!

perut kenyang, hati senang, pulang pun dengan langkah ringan.



and the internsip life had begin.....




see ya on another post about intensip life!

Sabtu, 28 Mei 2016

Pasangan Hidup

dia sama persis seperti yang terakhir kali kuingat. wajah yang sama, pembawaan yang memukau, dada yang lapang, suara yang ringan dan maskulin,
apa yang kulihat padanya saat ini, adalah apa yang sempat kumiliki dahulu.
dalam kehidupanku yang lain


***


" apa kau tidak mengingatku? sama sekali tidak? "
aku menatapnya dengan hati yang hancur. matanya memandangku dengan asing, seakan aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak mungkin. dia menatapku seakan aku sudah gila
" dengar ya, Non! aku tidak mengenalmu. dan aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya! aku sudah punya istri, aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu. walaupun boleh kukatakan, kau sepertinya tergila - gila denganku sampai mengejarku ke sini. tapi oh, please, siapa sih wanita yang tidak tergila - gila padaku? "
dia tertawa dan menenggak isi botol alkoholnya. rompi tanpa lengannya lengket karena keringat di tubuhnya yang berotot dan dadanya yang bidang, sementara dia menikmati sentuhan dan rayuan dari wanita - wanita penghibur yang menggelayut manja di lengannya.
aku menatapnya nanar. bagaimana mungkin dia tidak mengenaliku? tidak, bagaimana mungkin dia tidak memiliki rasa apapun padaku? aku adalah orang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupnya. di kehidupan kami yang dulu, maupun di kehidupan kami yang sekarang, dan selanjutnya. itu adalah suratan takdir. dengan suratan dan ingatan yang tak lekang oleh waktu itulah aku mencarinya, melewati hari demi hari yang panjang untuk menghampirinya.
dan dia tidak mengenaliku?
" tunggu...beri aku waktu bersamamu. aku akan membuatmu ingat padaku! " aku berkeras.
" keras kepala sekali sih? " dia mengerang, " sudah kukatakan, aku punya istri! dan aku tidak tertarik padamu! sama sekali tidak! "
" beri aku waktu! " aku masih berkeras dengan suara bergetar, " kumohon, tempatkan aku di tempat yang cukup dekat denganmu. aku tidak peduli harus jadi pelayan atau pembantu sekalipun! "
" hei sepertinya dia serius, " wanita penghibur yang bergelayut di lengan kirinya terkikik dan menatapku dengan pandangan menghina, " kasihan sekali ya, "
" beri saja dia pekerjaan sebagai penyikat toilet, " wanita penghibur di sisi kanannya tertawa, " atau pencuci baju kotor, "
" aaah! merepotkan saja! " dia mengerang dan bangkit berdiri, mengabaikanku dengan wajah kesal, " terserah saja deh! jadi saja pembantuku! aku tidak peduli! "
aku beranjak berdiri, mengikutinya dengan penuh harap. di luar pub hujan deras menerpa. dia dan wanita - wanita penghibur di sisinya menaiki mobil dan meninggalkanku seorang diri di tengah hujan.

***


" sudah kukatakan berkali - kali! dia tidak mengingatmu! pulang lah kembali dan lupakan pria itu! "
malaikat kecil berpenampilan anak kecil berkuncir dua tambun menghardikku saat aku menyeret langkahku yang basah ke sebuah kamar gelap yang menjadi kamarku. setelah berhasil mengikutinya ke rumah dengan berjalan kaki dan kehujanan, seorang wanita dengan wajah keibuan menghampiriku dan menawariku tempat berteduh. wanita itu lah istri yang daritadi dia sebut - sebut. wanita itu tampaknya memaklumi keadaanku saat aku menceritakan kalau suaminya meninggalkanku di tengah hujan setelah memerintahkanku untuk menjadi pembantu di rymahnya. tentu saja aku tidak menyebut - nyebut bagian bahwa suaminya adalah pasangan hidup yang telah ditakdirkan untukku tapi sayangnya dia tidak mengingatku saat ini.
aku menghela napas dan memeras ujung rokku yang meneteskan air hujan kemana - mana, " aku tahu dia tidak mengingatku. tapi aku tidak bisa meninggalkannya. bagaimanapun dia adalah pasangan hidup yang ditakdirkan untukku, jadi aku tidak bisa menyerah secepat ini dan kembali pulang, "
" takdir bisa berubah. begitu juga dengan hatinya. mungkin di kehidupan kalian sebelum ini dia mencintaimu. nyatanya di kehidupan yang sekarang dia bahkan tidak peduli padamu. dia bukan lagi pria yang menjadi pasangan hidupmu! "
" malaikat kecil yang baik, " aku menangkup sosok anak kecil pemarah di hadapanku dan tersenyum, " aku belum mau menyerah membuatnya ingat kembali padaku. mungkin nanti, tapi yang pasti bukan saat ini"
" terserah lah! "
malaikat itu menghilang dari hadapanku.


***


sekarang setelah aku mendapatkan tempat berteduh yang hangat dan baju ganti yang nyaman, aku mulai menjalankan tugasku sebagai seorang pelayan. membersihkan rumah yang besar itu, mengamati kalau dio dalamnya tidak tampak foto ataupun kehangatan pemiliknya. suara pertengkaran terdengar dari sebuah ruangan, instingku mengajakku mendekat, jadi aku berdiri di luar ruangan itu dan mendengarkan teriakan - teriakan di dalamnya.
" pergi saja ke neraka! aku tidak peduli! "
itu suaranya, suara pasangan hidupku. aku menyimak dengan sungguh - sungguh.
" aku tidak minta kau mencintaiku, aku juga tidak minta kau peduli padaku! aku hanya minta kau bisa menahan diri! mabuk - mabukan dan menyewa pelacur lalu berkeliaran di jalan! aku seorang dokter! bagaimana kalau kolega ku melihatmu seperti itu?! " suara sang istri meninggi dalam kemarahan.
" lalu aku harus peduli apa kata kolegamu tentangku? persetan! aku menikahimu karena orangtua kita memaksa kita untuk menikah! kau pergi ke neraka pun aku tidak peduli! brengsek! "
pintu ruangan itu terbuka dan dia melewatiku dengan cepat, diiringi sumpah serapah dan bau alkohol yang kuat. tidak berapa lama, sosok sang istri keluar dari ruangan. wajahnya terlihat lelah dan juga sakit hati. dia menoleh melihatku yang terpaku di samping pintu ruangan itu.
seakan mendengar pertengkaran pribadi sang tuan rumah adalah hal yang wajar, dia tersenyum hambar padaku dan berkata, " aku akan pergi seminar untuk beberapa hari. tolong jaga rumah ini. dan tolong jaga suamiku. pastikan dia tidak....membuat masalah, "
dan dengan kata - kata itu dia berlalu.


***


malam itu dia datang dengan seorang gadis berambut pirang dengan pakaian sangat terbuka. mereka bercinta di ruang tamu. aku harus menyingkir ke kamarku untuk menghindari suara desahan yang sangat ribut di ruang tamu. aku memutuskan untuk tidur, berpura - pura tidak tahu bahwa orang yang ditakdirkan menjadi pasangan hidupku sedang menyentuh wanita lain di luar sana.


***


suara gelas yang pecah dan sumpah serapah.
dalam kegelapan aku terbangun dan terlonjak duduk. aku meraba - raba dinding kamarku yang gelap dan keluar dari kamar. menghampiri asal suara itu, aku menemukan dia terkapar tanpa busana di depan pintu rumah yang terbuka sambil menggenggam botol bir yang pecah. dia bau alkohol dan terlihat sangat mabuk. aku harus susah payah menyeretnya ke kamarnya. kamar itu gelap dan acak - acakan, dengan banyak kondom bekas pakai dan seprai yang terserak di lantai. aku berhasil membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya. aku menghela napas. kemana pelacur pirang itu pergi? sepertinya mereka bertengkar. dia mulai mengigau dalam tidurnya dan menarik tanganku cukup keras sampai aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur. aku menghela napas lagi. ini situasi yang seharusnya kutunggu - tunggu tapi entah kenapa terasa begitu salah. aku membenarkan selimutnya dan memandang wajahnya yang tertidur pulas dibawah pengaruh alkohol. wajah tampan itu, tubuh indah itu. orang yang seharusnya jadi milikku.
orang yang dulunya adalah milikku....
malam itu aku tertidur di sampingnya. tangannya menggenggam erat tanganku semalaman dan tidak melepaskannya sedetikpun.


***


" aku tidak membunuh pelacur itu, brengsek! "
aku sedang membersihkan meja di ruang tengah saat aku mendengar suaranya menyumpah serapah di ruang tamu. aku bergegas keluar dan menemukan beberapa pria berpakaian seragam polisi di ruang tamu. dia kelihatan marah. penampilannya acak - acakan tapi aura sangar yang menakutkan tidak hilang dari pembawaannya.
" korban terakhir terlihat bersama anda, " jawab polisi itu tenang.
" tentu saja dia bersamaku! dia kekasihku dan kami selalu bertemu di rumah ini setiap malam saat istriku tidak di rumah! tapi kutegaskan sekali lagi! aku tidak membunuihnya! kami bertengkar dan dia meninggalkan rumah malam itu! aku tidak ingat persis detilnya! "
" anda mabuk. alibi anda tidak kuat. kami harus membawa anda ke kantor polisi, "
" sudah kubilang, bangsat! aku tidak membunuhnya! "
" dia...dia mengatakan yang sebenarnya! " aku melangkah ke ruang tamu dengan suara bergetar. semua pria itu mermandang ke arahku, " malam itu saya ada di sini. saya...saksinya. tuan saya tidak melakukan pembunuhan, "
polisi - polisi itu kelihatan tidak yakin. mereka merundingkan sesuatu dan memutuskan bahwa mereka tidak akan membawanya sekarang. mereka akan kembali beberapa hari lagi setelah mengumpulkan lebih banyak bukti yang memberatkannya. setelah polisi - polisi itu pergi, dia menutup pintu dan menatapku dengan keheranan.
" kau benar - benar melihatku bertengkar dengan jenifer? "
aku menatapnya dengan salah tingkah, " tidak..aku menemukan anda terkapar di sini. jenifer sudah tidak ada, "
"kau berbohong pada mereka? " suaranya terdengar takjub
" saya tidak bisa membiarkan mereka membawa anda. anda tidak bersalah, "
" kau percaya padaku? aku terlalu mabuk saat itu. aku tidak ingat apakah aku membunuh jenifer atau tidak, "
aku menatapnya dengan ragu - ragu. " saya..percaya pada anda, "
dia menatapku, dan mengulurkan tangannya untuk menangkup wajahku, " kenapa? setelah semua yang kulakukan padamu? "
aku mengerutkan kening saat tangannya menyentuh wajahku, " anda sakit? tangan anda panas, "
" oh, " dia menatap tangannya, " aku memang merasa tidak enak badan sejak pagi tadi. aku bahkan tidak menyadari aku demam, "
" anda harus istirahat, " aku menggandengnya ke kamar tidurnya, kali ini tanpa perlawanan darinya. dia membiarkan aku membantunya berbaring dan menyelimutinya. tepat saat aku beranjak dari tempat tidurnya, dia menangkap tanganku dan menggenggamnya.
" aku ingat padamu, " bisiknya pelan.
" ingat apa? " aku tidak percaya keajaiban akan datang semudah dan secepat ini. aku menoleh padanya. " apa yang kau ingat? "
dia merengkuhku dari belakang, " kau menyelimutiku tadi malam. kau di sini, menemaniku tidur, "
ya, keajaiban tidak datang semudah dan secepat ini. aku menghembuskan  napas berat
" ya, "
" kalau begitu sekarang pun, tetaplah di sini. temani aku lagi. mungkin dengan begitu aku akan...mengingatmu lebih jelas. entah kenapa aku merasa kau seperti...pasangan hidup yang ditakdirkan untukku... "


***

Rabu, 14 Januari 2015

putri peri dan sang raksasa

" nona! nona! anda mau kemana? "
aku menoleh dan mengernyit pada pelayanku, " ssst..berisik! "
" maaf..maaf.. " gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, " tapi anda mau kemana? "
aku mengendap - endap seperti kucing dan mengintip dari balik semak - semak. barisan pria bersenjata melewatiku dengan tubuh tegap
" dimana dia.. " aku bergumam tidak sabar.
" siapa yang anda cari nona? " pelayanku mendesakkan diri di sampingku, ikut mengintip dari balik semak - semak.
" raksasa sialan itu! mentorku! "
" mungkin dia ada di belakangmu, mengawasimu mengendap - endap daritadi, " suara yang sudah familiar di telingaku menyapa dari belakang. aku tersentak dan menoleh, untuk mendapati mentorku berkacak pinggang dengan satu alis terangkat.
" oh, hai! " aku buru - buru berdiri dan melemparkan cengiran padanya, " kukira kau sudah berangkat! aku berniat untuk mengucapkan selamat tinggal atau sejenisnya, "
pria tinggi di depanku itu mengangkat kedua alisnya, jelas - jelas tidak percaya, " kukira aku baru saja mendengarmu mengataiku raksasa sialan, "
aku nyengir bersalah. sudah menjadi tradisi setiap putri kaum peri untuk berada di bawah pengawasan seorang guru yang berasal dari kaum raksasa. kaum raksasa yang memiliki fisik luar biasa adalah satu - satunya ras yang dapat menandingi sihir kaum peri. sebagai putri pertama kerajaan peri, aku harus bekerja sama dengan mentorku, seorang prajurit raksasa yang keras kepala dan pemberengut. kami selalu bertengkar. aku sendiri tidak mengerti kenapa diantara sekian banyak kaum raksasa terpelajar yang dikirim ke negeri peri, aku malah harus mendapat mentor yang menyebalkan seperti ini.
" kurasa kau saat ini sedang bahagia karena aku akan segera meninggalkan negeri ini, " mentorku menghela napas
" aku tidak bisa berkata aku sedih karena kepergianmu, " aku mengangkat bahu, " tapi akan kupastikan saat kau kembali setidaknya kau akan memberiku satu pujian, "
mentorku tersenyum penuh arti, " kita lihat saja nanti, tuan putri, "


***


aku memandang keluar jendela dengan bosan. sudah seminggu sejak kepergian mentorku. para kaum raksasa dipanggil kembali ke istana mereka di atas gunung untuk berperang dengan kerajaan tetangga mereka. kaum peri juga membantu. istana sekarang sangat sepi. ibu sudah menawarkanku untuk belajar dengan mentor peri lain, tapi entah kenapa belajar tanpa si raksasa pencemberut itu terasa salah.
terasa berbeda.

terdengar suara ketukan di pintu. wajah adikku muncul di ambang pintu
" apa kau mau bermain? "
" tidak, " aku mengabaikannya
" kami ingin berenang di pemandian air panas. ibu bilang kau harus belajar menciptakan ruangan dan gedung dengan sihirmu sendiri, "
" lalu? "
" ibu bilang kau harus belajar arsitektur ruang pemandian, "
yang benar saja! ruang pemandian? apa hebatnya menciptakan ruangan tempat mandi? aku bisa menciptakan sebuah istana. beberapa hari sebelum mentorku pergi, kami telah berhasil mencoba membuat sebuah istana kecil bertingkat dua dengan ruang bawah tanah di dalamnya, berasal dari kehampaan dan kembali ke kehampaan saat aku memerintahkannya. mentorku memberi ide agar istana itu dirahasiakan sampai ulang tahunku yang ke 17 dan akan diperlihatkan pada pesta perayaan ulang tahunku. ayah pasti senang melihatnya.
" tidak ada gunanya kau terus meratapi raksasa itu, " celetuk adikku.
aku merasakan wajahku memerah, " aku tidak memikirkannya sedetikpun, "
" kau menyukainya! mengaku sajalah! " adikku tertawa
" tidak! "
" kalau begitu ayo berangkat ke pemandian! atau aku akan menyebarkan pada semua orang kalau kau sedang meratapi kepergian mentormu tersayang dan mengurung diri di kamar! " adikku membanting pintu. aku mendengar suara tawa adikku dari balik pintu.
aku menghela napas. pikiranku kembali ke beberapa hari yang lalu. saat pertama kali aku dan mentorku mengetahui sejauh mana kekuatanku bisa menciptakan sesuatu dari kehampaan, kami mengeksplorasi istana itu, memasuki setiap ruangan di dalamnya. saat kami sampai di ruang bawah tanah, mentorku mengambil sebuah kunci yang tergantung di sel yang kubuat dan mengacungkannya di depanku.
" ini satu - satunya rincian yang bisa kau buat di istana suram ini, "
aku menyambar kunci itu dengan marah, " setidaknya aku bisa membuatnya! kau kaum raksasa tidak pernah melihat sihir kaum peri dengan cukup! "
" karena sihirmu memang belum cukup! " mentorku menggeleng, " sekarang berikan kunci itu dan kita lihat apa yang bisa kulakukan dengan istana ini..."


***


pemandian itu sesak dan penuh dengan wanita - wanita telanjang yang menyabuni tubuh mereka di bawah pancuran. aku duduk di pojok ruangan dengan bosan. aku bahkan tidak menanggalkan pakaianku, hanya mengamati adikku dan teman - temannya bermain air. wanita di sebelahku mematikan pancurannya dan masuk ke ruang ganti. aku mendengar wanita lain masuk ke ruang ganti dan suara obrolan mereka dari balik bilik.
" kudengar raja akan memutuskan hubungan kerjasama dengan kaum raksasa, "
" bukankah putri pertamanya masih melanjutkan studi dengan mentor raksasanya? "
" mentor itu telah diperintahkan pergi. peperangan kaum raksasa adalah muslihat. raja yang mengaturnya. di perjalanan raja akan menyerang kaum raksasa dan membunuh mereka semua. "
" astaga! itu ide yang sangat bagus! sudah lama aku bosan melihat pria - pria raksasa berkeliaran di sekitar istana! mereka barbar! kita bangsa peri tidak seharusnya bekerja sama dengan makhluk rendah seperti mereka! kapan penyerangan akan dilakukan? "
" para raksasa itu akan kembali hari ini ke wilayah kita. mereka akan dihabisi beberapa jam lagi. tidakkah itu bagus? "
aku merasakan darahku seperti mendidih. ayah! ayah merencanakan untuk membunuh semua kaum raksasa! dan mentorku! aku tidak bisa membiarkannya!
aku berlari keluar, menerobos kerumunan dan pengawal - pengawal. beberapa orang mengenaliku, memanggil namaku. sebagian yang lain hanya mengenaliku sebagai anak perempuan aneh yang berlari kesetanan keluar. aku mencari kereta kuda yang tadi mengantarku ke pemandian. dimana mereka saat dibutuhkan?!
dari tempatku berdiri aku bisa melihat kepulan asap di udara. para prajurit istana sedang berderap keluar wilayah! aku menyambar kuda yang tertambat di dekat tempatku berdiri dan menaikinya. nyaris mustahil sampai lebih dulu ke tempat para raksasa dibanding prajurit istana yang memang sudah dilatih untuk membunuh para raksasa. percuma aku mencoba untuk memperingatkan mentorku. aku tahu! tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, mati karena perbuatan jahat ayahku!
aku tidak bisa!


***


" aku akan menulis namaku di sini, " dengan kunci itu mentorku menggoreskan namanya di dinding penjara bawah tanah
" hei, kau merusak properti ciptaanku! " aku memprotes
" lalu aku akan menuliskan namamu di sampingnya, " mentorku mengabaikanku. dia melemparkan kunci itu padaku, " cobalah hapus detail ini, dimulai dengan namamu, lalu namaku. saat kau belajar untuk menghapus detail dalam ciptaanmu, kau akan dengan sendirinya belajar untuk menambahkan detail dalam ciptaanmu ini, "
aku menatap nama kami berdua dalam temaramnya ruang bawah tanah
" hei, kurasa nama kita berdua tidak buruk juga kalau disandingkan, "
mentorku mengangkat alis, " memang tidak, "


***


asap dan api.
darah dan mayat.
saat kaum peri dan raksasa berperang, selalu jatuh banyak korban dari kedua pihak.
tapi daritadi aku belum menemukan mayat mentorku. memegang sebuah harapan dia masih hidup, aku terus mencari di sisa - sisa pertempuran itu. lelah dan belepotan tanah, aku menyusuri tanah peperangan itu dan mulai meneriakkan namanya.
sesuatu menjegalku dan menyeretku ke sebuah lubang. aku membuka mulut untuk berteriak, tapi mengurungkan niat saat melihat mentorku yang membekapku. aku menghembuskan napas lega.
" apa yang kau lakukan di sini?! "
" aku mencarimu! " aku menatap mentorku. dia terlihat baik - baik saja, hanya sedikit terluka. mataku langsung berair karena lega.
" kau bisa terbunuh! ini medan perang! " mata mentorku mengeras, " pergi! "
" kau juga bisa terbunuh! ayo kita pergi dari sini! " aku mengamit tangannya, tapi mentorku menggeleng
" ayahmu mengkhianati perjanjian dengan kaumku. aku tidak bisa kembali ke negerimu lagi. aku akan kembali ke negeriku, "
" aku ikut, " aku merasakan suaraku berubah serak, " aku tidak mau meninggalkanmu! "
mentorku menatapku dengan terkejut, kemudian pandangan matanya melembut, " pergilah ke ruang kehampaan dan selamatkan dirimu, "
" tapi_ "
suara jeritan dan raungan perang pecah di atas sana. seseorang melongokkan kepalanya ke lubang persembunyian kami dan menyerukan sesuatu. suara panah adalah suara terakhir yang kudengar sebelum aku terlempar ke ruang kehampaan.
dengan sisa kekuatannya, raksasa pemberengut itu telah menyelamatkan nyawaku.


***


aku menyentuh goresan namaku di samping goresan namanya.
aku tidak bisa menghapusnya.
bahkan dengan semua kekuatan peri yang kupunya, aku lebih memilih menghancurkan istana ini daripada menghapus namanya.
aku menghapus air mataku dan melangkah keluar istana itu.
ibu dan ayahku menatap istana itu dengan kagum dan memelukku.
" kau mempunyai kekuatan yang menakjubkan! " ibuku tersenyum senang
" ayah bangga padamu! "
" tapi detail di istana ini kurang, " ibu mengomentari, " dan apa yang menyebabkanmu begitu lama melihat ruang bawah tanah? seorang tuan puteri di hari ulang tahunnya tidak pantas menghabiskan waktu begitu lama di ruang suram seperti itu! "
" ayo kita pergi, " ayah mengangguk padaku.
aku meninggalkan istana itu, membiarkan istana itu menghilang seperti kabut di belakangku.
kembali ke kehampaan.

Selasa, 07 Oktober 2014

anak - anak sang selir

" apa E harus benar2 melakukan ini? "
Aku menatap adik terkecilku, di angkat ke sebuah gedung berlantai 2 dengan mobil pengangkut, seakan dia adalah sebuah peti kemas.
"Jangan lembek C! Dia satu2 nya anak laki2 dalam keluarga kita jadi dia harus kuat! " A memarahiku. Kakakku itu memicingkan mata memperhatikan bagaimana E mendarat dengan tidak mantap di lantai dua rumah itu, lalu dengan wajah sedikit enggan, anak itu membiarkan B dan D mengikat tangannya pada tali yang tersedia di beranda lantai 2.
" bagaimana kalau pemilik rumah ini jahat? Bagaimana kalau dia menganggap E pengganggu dan dia melakukan hal jahat padanya?" Aku masih tidak setuju. Sebut saja aku lemah, tapi menurutku mengikat tangan seorang anak berumur 10 tahun di beranda rumah orang selama seminggu tanpa makan dan minum bukanlah bentuk latihan fisik untuk menjadi kuat.
Tapi rupanya A tidak sependapat.
" sejak ibu meninggal kita harus membuktikan pada selir lain kalau kita juga pantas diperhitungkan. jangan mentang - mentang tidak ada ibu lalu mereka bisa seenaknya pada kita! "
aku menghela napas. A memang keras kepala tapi apa yang dia katakan benar. sejak ibu kami, salah satu dari selir raja di kerajaan ini, meninggal, kami semakin sering dijadikan bulan - bulanan di kerajaan,
tapi tetap saja, feelingku tidak enak tentang latihan fisik untuk adik terkecil kami ini.


***


" A sedang tertekan kau tahu, " D duduk di sampingku dengan tenang. D terlihat sepintas seperti anak laki - laki dengan potongan rambut dan selera humornya, tapi ketenangannya yang luar biasa membuatku merasa nyaman.
" yeah, situasi sulit. tapi perasaanku buruk tentang ini semua, " aku memberitahunya.
" apa..yang kau pikir bisa terjadi pada E? "
tidak seperti kakak dan adikku yang memiliki kecenderungan sihir penyerang, kekuatanku lebih bersifat penerawangan. aku mengangkat bahu, " melibatkan seorang pria jahat mesum kurasa, "
" mengerikan! "
" bagaimana kau tahu tentang itu?! "
aku dan D menoleh dan melihat B di ambang pintu. kakak kedua kami memegang laptop di satu tangannya dan wajahnya terlihat berang.
dan panik.
" B, ada apa? " D beranjak berdiri dan menutup pintu.
B menunjukkan layar laptopnya, " aku melihat berita ini di internet. baru saja, "
" ada apa? " aku bertanya
" rumah itu. saat kita ke sana tadi, pemiliknya adalah seorang pria tua, kau ingat D? "
D mengangguk.
" ternyata itu bukan rumahnya. pria tua itu adalah pelayan. majikannya adalah seorang tahanan yang baru keluar malam ini karena kasus sodomi pada anak di bawah umur! "
" apa?! " aku dan D sama - sama berteriak.
" kita harus memberitahu A! sekarang! "


***


" kalian ingat rencana kita baik - baik, " A berjalan di depan kami. suaranya tegang tapi sikapnya tetap tenang, " B dan D, kalian bebaskan E dari balkon, C, kau mengamankan jalan keluar, aku akan mengalihkan perhatian sang pemilik rumah dari kalian. apapun yang terjadi, dahulukan E di atas segalanya! "
kami semua mengangguk mengerti. E adalah satu - satunya anak laki - laki dari ibu kami, yang berarti dia adalah salah satu pewaris takhta. kami tidak boleh kehilangannya.
" apa dia ada di dalam? pria mesum itu? " B berbisik padaku.
aku membiarkan sihirku bekerja, menembus pintu kayu yang tertutup di depan kami. kami sudah menggerebek rumah dengan timing yang tepat dengan penerawanganku. dan sekarang kekuatan itu membawa kami ke depan ruangan itu.
" dia sudah menunggu kita di dalam, " aku berkata serak.
tanpa banyak bicara A menghambur masuk. ruangan di depan kami adalah sebuah ruang duduk yang nyaman dengan penerangan yang baik, sebuah TV flat, dan pintu beranda yang terbuka. di sofa duduk seorang pria tampan dengan rambut panjang pirang. dia tersenyum penuh makna pada kami.
" menjemput seseorang? " suaranya terdengar licik.
kami mulai bergerak. D menyerang para pria yang menghalangi jalan kami ke pintu beranda. B melumpuhkan pria tua sang pelayan yang telah menipu kami dengan mengatakan bahwa rumah itu aman untuk digunakan. aku mengikuti kedua saudariku ke beranda. E masih ada di tempat kami meninggalkannya tadi siang. dia kelihatan lelah, lega, sekaligus ketakutan. B dan D berjongkok di sampingnya dan mencoba membuka tali yang membelit tangan adik kami. aku mendengar B yang emosional menyumpah - nyumpah pada tali itu. aku melepaskan kekuatanku untuk melihat jalur kabur kami. gedung itu dikepung dari segala arah. kami tidak bisa turun. kami harus melompat dari beranda.
tidak, aku berpikir putus asa, kami harus terbang untuk kabur.
" tali sialan ini tidak bisa dibuka! "
aku menoleh dan melihat B masih menyumpah - nyumpah lagi. bahkan D terlihat kesal.
" potong tali itu dengan sihir! " aku menjerit pada mereka, " tali itu tidak bisa diputus manual! kalian berdua yang memasangnya. kalian berdua yang harus memotongnya dengan sihir kalian! "
terdengar suara ledakan keras dan A terlempar ke beranda. dia terluka dan tidak sadarkan diri. D berdiri dan mulai melawan pria itu. sihir D adalah yang kedua terbesar diantara kami berlima. aku mendengar B menjerit, meluncurkan banyak makian sementara dia mengerahkan sihirnya untuk memotong tali itu. aku jelas tidak bisa membantunya. tali itu hanya merespon kekuatan B dan D. aku teringat kata2 A

" C, amankan jalan keluar"

kurasa membunuh pria ini termasuk jalan keluar bagi kami semua.

aku maju dan membantu D. pria itu tertawa dengan tawa mengerikan dan melecutkan cambuknya pada kami berdua. adikku itu terkena satu lecutan keras dan terlempar ke belakang. aku menatap nanar pada lawanku. sihirku bukan sihir penyerang. apa yang bisa kulakukan??
aku menjerit saat cambuk itu mengenaiku. aku mencoba menghindar tapi pria itu lebih cepat. habis sudah...
cambuk itu menghantam sesuatu yang keras. aku membuka mata dan melihat cambuk itu menghantam pelindung di sekitarku.
tentu saja! sihirku bukan penyerang. sihirku defensif. sihir pelindung!
" kau pikir pelindung ini bisa mengalahkanku? " pria itu tertawa seperti maniak dan mulai melecutkan cambuknya pada pelindung. pelindungku bergetar dan retak di sana sini.

"hentikan! "

aku menoleh dan melihat A sudah sadar. wajahnya terlihat murka, " tidak ada yang boleh menyakiti adik - adikku! "
kakakku maju dan menyerang. aku belum pernah melihatnya menggunakan sihirnya sekuat ini. dia seperti monster yang mengamuk. aku buru - buru menyingkir dan menyeret diriku ke beranda. D sudah sadar dan mulai mengerahkan sisa tenaganya untuk membantu B. tali itu sebentar lagi putus.
tapi aku masih belum bisa melihat jalan keluar.
" berhasil! " E berseru senang saat tali itu putus. B dan D merosot kehabisan tenaga. B terlihat terluka di seluruh tubuhnya. aku nyaris lupa pengerahan tenaga berlebihan dapat menyebabkan luka fisik pada kakakku itu.
" kita tidak bisa keluar, " air mataku berlinang, " tidak ada jalan keluar, "
" ada, "
A berdiri di sampingku. wajahnya terlihat lelah tapi dia tampak puas.
" kau..membunuhnya? "
" tidak. aku hanya membuatnya pingsan untuk sementara, "
" bagaimana dengan jalan keluar? " tanya B terengah - engah.
A memberikan tanda pada bayangan besar yang terbang dari langit dan melayang di depan kami.
sebuah burung yang sangat besar.
aku bahkan tidak sempat bertanya darimana asalnya burung ini. kami sudah terlalu sibuk memapah B, D, dan E ke punggung burung itu. A membantuku naik, dan kami meninggalkan rumah terkutuk itu.


***


istana masih sepi. matahari masih berupa semburat kekuningan di ufuk timur. burung itu menurunkan kami di halaman istana. dan kami merayap masuk dalam keadaan luar biasa lelah.
" E, kembali ke kamarmu dan saat pelayan datang untuk membangunkanmu, katakan kau sedang sakit. kau pasti lelah, "
" ya! " E mengangguk dan memberikan kakak2nya pelukan hangat, " terimakasih sudah menyelamatkanku! "
aku memperhatikan bocah kecil itu berlari ke sayap istana tempat para pewaris takhta beristirahat.
" bisakah kita skip ritual salam pada raja pagi ini? " B mengerang. penampilannya seperti baru ditusuk 1000 duri landak. darah merembes dari luka di seluruh tubuhnya.
" tidak bisa. mereka tidak akan mengizinkan, " A menggeleng.
" aku benar2 lelah, " D bergumam.
" kita punya waktu setengah jam untuk bersiap2 sebelum ritual, " A mengabaikan protes adik2nya. dia juga terlihat lelah dan penuh luka, tapi kepatuhannya pada peraturan membuatnya kembali keras seperti semula, " kembali ke kamar kalian. jangan menimbulkan kecurigaan. tidak ada yang boleh tahu apa yang kita lakukan. dan ingat, jangan tertidur! "
tersaruk - saruk kami kembali ke tempat istirahat kami. samar - samar aku mendengar B menyumpah dia akan bolos dari ritual pagi ini. aku sendiri ingin sekali melakukannya. punggungku luar biasa sakit di tempat cambuk pria itu mengenaiku. dan sialnya, kamarku adalah ruangan paling jauh. D, B, dan A sudah sampai ke kamar mereka tapi aku masih harus menyusuri lorong istana. aku menyeret langkahku sambil berharap masih ada sedikit waktu bagiku untuk merebahkan diri di tempat tidur.

" siapa di situ?! "
aku terlonjak saat mendengar suara wanita melengking dari belakangku. aku menoleh dan mengutuk dalam hati. wanita itu adalah salah satu selir yang paling memusuhi ibu. dia berlari mendekatiku. matanya terpicing saat melihat penampilanku yang lusuh.
" kau! apa yang kau lakukan di sini?! "
" a...aku..."
" berkeliaran dengan pakaian kotor seperti ini! memalukan sekali! kau habis menyelinap kemana, anak bodoh?! kau habis mencuri ya?! "
" tidak! "
" ada apa ribut2?! "
para selir lain mulai berdatangan membawa anak mereka masing2. mereka terlihat kaget dan juga ingin tahu.
" anak ini! anak selir yang baru mati itu! sekarang rupanya dia mencoba mencuri dan menyelinap di kamar anak2 kita! " selir yang menangkapku tadi meneriakiku dengan sengit. beberapa selir terkesiap. seorang pengawal datang dan menahan tanganku. selir yang tadi menangkapku masih melanjutkan tuduhannya, " aku tahu! kau pasti mencoba masuk ke kamar putriku, Putri Fajar, bukan? kau iri karena kecantikannya, sedangkan kau_ "
" adikku bukan pencuri dan penyelinap nenek sihir tua! lepaskan tanganmu darinya! " [intu lemari di dekat kami terbuka. B muncul dengan pakaian tidur acak2an dan wajahnya terlihat sangat kesal. kekuatan B adalah teleportasi. dan kadang2 teleportasinya bekerja saat dia sedang tidur, membuatnya selalu muncul di tempat2 aneh. kebanyakan adalah lemari. karena itu dia dijuluki siluman lemari.
dan kali ini sang siluman lemari berkacak pinggang dengan ganas pada para selir, " lepaskan dia! "
" dia benar, lepaskan adiknya, "
suara tenang di belakang kerumunan membuat kami semua tertegun. kerumunan tersibak, dan sang raja sendiri maju ke arah kami. wajahnya tegas tapi tak terlihat marah. kerumunan langsung membungkuk. B menyikutku, dan aku mengikutinya membungkuk. aku benar2 kaget. ini pertama kalinya aku melihat ayah di sayap tempat tinggal anak - anaknya. setahuku anak - anak yang pernah mendapat kunjungan langsung dari ayah hanyalah para pewaris takhta, dan Putri Fajar yang kecantikannya menjadi legenda.
dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajah ayah dengan lebih jelas. aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. kami anak2nya hanya melihatnya dari kejauhan, di ritual salam pada raja di pagi hari.
" aku bertanya - tanya apa gerangan yang menyebabkan ritual pagiku terlambat, " suara ayah terdengar lembut saat dia menatapku. dia berbalik pada kerumunan, " anakku bukan pencuri dan bukan penyelinap. pergilah ke kamar kalian dan siapkan ritual seperti biasa. semuanya bubar! "
dengan lega aku mengamati para selir yang bubar sambil bersungut - sungut. ibu dari Putri Fajar melempar pandangan marah padaku dan pergi. aku sendiri hanya bisa membeku di tempat. di bela oleh sang raja sendiri merupakan mimpi yang bahkan tak pernah berani kuimajinasikan.
" kau butuh istirahat, " sang raja menatapku dan B dengan cermat, " kalian berdua. kalian tampak sakit, "
" kami terluka, " kata B dengan berani. dia memutar tubuhku dan memperlihatkan luka di punggungku.
sang raja terlihat terkejut, " kalian harus segera di obati. dan sementara itu, aku ingin kalian menceritakan bagaimana kalian bisa mendapatkan luka2 ini, "


***


B berbaring di tempat tidur dan tampak benar2 rileks saat para pelayan mengoleskan cairan seperti minyak di luka - lukanya. ayah kami mengangguk angguk saat B menceritakan petualangan kami semalam. aku menunggu dengan gelisah. apakah beliau akan marah dan menghukum kami semua?
" jadi kalian telah melanggar seluruh peraturan malam yang kubuat untuk melindungi kalian, " sang raja menyimpulkan, " kalian pantas dihukum, "
aku menatap lantai, menanti hukuman yang akan dijatuhkan sang raja kepada kami.
" tapi karena kalian melakukannya untuk menyelamatkan adik kalian, dan kalian berhasil membuktikan bahwa kalian cukup handal dalam penggunaan sihir sehingga bisa menyelamatkan diri kalian sendiri, aku membatalkan hukuman itu, "
baik aku maupun B mendongak dan menatap ayah kami dengan tidak percaya.
" nah B, biarkan C mendapat pengobatan. kau sudah selesai diobati bukan? "
B mengangguk dan membiarkanku naik ke tempat tidur. ayah kami berdiri dan menepuk kepalaku, " terimakasih telah jujur padaku anak2, "
" kenapa? " aku menatap sang raja dengan takjub, " kenapa anda begitu baik? kami sudah melanggar semua peraturan anda, membahayakan pewaris takhta, tapi anda memaafkan kami... "
senyum terkembang di wajah lembut sang raja.

" kadang kita butuh kebaikan untuk mengecoh orang2 di sekitar kita. agar mereka semakin patuh dan kelak, mereka akan melakukan apapun untuk kita. itu bukan kebaikan. itu trik. untuk menjaring loyalitas orang2 bodoh seperti kalian! "

" eh? " aku terbelalak.
ayahku mengangkat alis, " ada apa C? " tanyanya dengan lembut.
" ap..apa yang baru anda katakan? "
" hmm? kubilang, aku memaafkan kalian karena kalian adalah anak2 kesayanganku, "
dengan kata2 itu sang raja meninggalkan ruangan. mantelnya berkibar dalam setiap langkahnya.
" astaga, dia baik sekali! kita anak kesayangannya! kau dengar kata2nya kan tadi? " B bersiul siul bahagia. wajahnya memerah.
aku memandang pintu yang tertutup, lalu tanganku sendiri. tanpa sadar aku menggunakan kekuatanku untuk mendengar kata hati sang raja.

" aku mendengar lebih banyak, " bisikku pelan.


***

Senin, 28 April 2014

dream about war, magic, and...pet?

" Snaky, menurutku ini ide yang buruk, "
ular sepanjang 90 cm berwarna putih itu membelit tanganku. mata maniknya menatapku dengan sabar, " tuan muda, tenanglah. saya ada di pihak anda, "
aku menyelubungkan jubah putih di bahuku, sementara ular putih itu bergelung nyaman di kantung jeansku. seperempat tubuhnya membelit lengan bawahku. aku menatapnya, " oke, aku percaya padamu, "
seekor ular miskin ekspresi tapi aku yakin saat ini Snaky sedang tersenyum, karena dia mengeratkan belitannya seakan memberi aku dukungan. mungkin semacam jabat tangan pada manusia.
aku menarik napas dan melangkah maju. aku menyibakkan tirai di depanku, dan langsung berhadapan dengan puluhan orang berjubah beragam warna. mereka semua menunduk hormat saat aku memasuki beranda. walau begitu aku bisa melihat sorot ketidaksetujuan di mata mereka. aku menelan ludah.
seorang pria botak bertelanjang dada menghampiriku. alih - alih menggunakan jubahnya, dia mengikatkan jubah itu ke pinggangnya, dan sebagai ganti pengenal identitas, dia menggunakan kalung - kalung emas dengan ornamen biru. Di lengan bawahnya membelit hewan suci kelompoknya, seekor ular berwarna biru dengan belang - belang merah yang mencolok. aku langsung mengenalinya. dia adalah ketua Kelompok Biru, Prajurit negeri ini. Yang terkuat dan terhebat di antara semuanya.

" selamat datang, Ketua " suaranya berat saat menyambutku. dari pandangan matanya aku langsung tahu dia tidak menyukaiku, " kami dewan ketua dari masing - masing kelompok hadir di sini untuk melihat Ketua baru kami, "
aku menelan ludah. aku hanya anak jalanan biasa. lalu Ketua Kelompok Putih yang merupakan pemimpin negeri ini melihatku dan tiba - tiba menunjukku sebagai penerus. beberapa hari setelahnya, sang Ketua Putih meninggal dan meninggalkanku dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan seperti ini.
" te..terimakasih atas kehormatannya, tapi sebenarnya tidak ada yang bisa aku tunjukkan pada kalian, " aku menjawab gugup.
" anda adalah orang yang dipilih oleh Ketua, tentu anda memiliki kelebihan yang tidak kami miliki, sehingga Ketua memilih anda dan bukan kami, para pengikutnya sejak dulu, "
Tanpa terasa aku menarik tubuh Snaky lebih kencang, nyaris mencengkeramnya. aku benar - benar sangat gugup. sudah kubilang ini ide buruk. tentu saja para ketua lain tidak setuju aku menggantikan jabatan pemimpin sementara mereka menunggu jabatan ini sejak dulu. memangnya siapa aku ini?!
" jaga ucapanmu, Ketua Biru. Ketua telah memilih anak ini dan aku ada pada saat Ketua memilihnya, Aku sebagai penasihat Kelompok Putih menberikan dukungan penuh padanya, " Snaky angkat bicara. Dia menatap audience dengan pandangan tajam dan aura berwibawa yang sangat kuat.
Seorang wanita bercadar dengan jubah hitam bertepi kuning angkat bicara dari tengah kerumunan. Ular hitam dengan garis kuning terjuntai di lehernya. Tiba - tiba aku merasa merinding. wanita ini pasti Ketua Kuning, kelompok mantra. mereka terkenal misterius dan selalu menutupi diri dengan cadar.
" jika pelindung Kelompok Putih sudah berkata seperti itu, kami dari kelompok kuning akan memberikan dukungan penuh pada Ketua baru, "
" kami juga akan memberikan dukungan penuh, " Seorang pria pendek berjubah abu - abu dengan ular hitam belang abu - abu di lengannya juga angkat bicara.
kerumunan dewan kelompok satu persatu mulai mengangkat tangan dan mengikrarkan dukungan mereka. aku menatap kerumunan itu dengan takjub. sebegitu besarnya pengaruh hewan suci kelompok putih. Snaky memang luar biasa!
" tuan muda, " Snaky berbisik pelan. aku harus menunduk untuk mendengarkan kata - katanya, " biasakah kita tutup rapat ini? "
" ada apa Snaky? "
" sepertinya saya terluka, "
" apa?! " aku tersentak, " bagaimana...? "
" tenanglah tuan muda, " Snaky mencoba memberikan belitan lembut yang tadi dia berikan padaku saat awal rapat, tapi kali ini belitannya terasa lebih lemah
" a..apa aku menyakitimu? aku menarikmu terlalu keras sampai kau terluka? "
" Ketua, "
aku tersentak dan melihat Ketua Biru menghampiriku. dahinya berkerut melihat aku berbisik - bisik dengan Snaky, " ada apa dengan hewan suci Kelompok Putih? "
" ti..tidak ada apa - apa, " aku menjawab tergagap, " pertemuan dibubarkan. terimakasih sudah datang hari ini, "
tanpa menoleh aku berlari masuk ke dalam rumah Ketua sebelumnya yang sekarang menjadi rumahku. aku melepaskan jubahku dan mengecek keadaan Snaky di kantung celana jeans. Saat aku membantunya keluar dari kantung jeansku, aku nyaris menjerit melihat lukanya.

seperempat dari tubuh Snaky nyaris terpisah dari badannya, hanya tergantung dengan beberapa inci kulit dan sisik. luka robek yang sangat besar dan mengerikan yang membuatku mual. tapi yang mengherankan adalah tidak ada setitikpun darah.
" kita harus segera mengobatimu! " aku mulai panik, " dimana dokter yang bisa mengobatimu? "
" saya jarang sakit, tapi suatu hari Ketua yang sebelumnya pernah membawa saya ke wilayah Kelompok Biru saat saya sakit, "
" wilayah Biru? " aku menelan ludah. wilayah pria botak yang tidak menyukaiku tadi? bisa - bisa dia semakin menjatuhkanku kalau tahu aku tanpa sengaja melukai hewan suci kelompokku. tapi keadaan Snaky saat ini jauh lebih penting dari reputasiku. Aku membungkus tubuh Snaky dalam jubah putihku dan bersiap - siap pergi.
" tuan muda? jangan pergi ke wilayah Biru, " Snaky protes dengan lemah
" tenang saja Snaky, aku akan menyembuhkanmu, " dan menambahkan dalam hati, setelah itu aku akan turun dari jabatan Ketua.

***

aku masih ingat dengan jelas jalan pintas ke wilayah Biru yang aman dari pemeriksaan penjaga. dulu sebelum terlempar ke dalam kehidupan rumit sebagai ketua ini, aku dan teman - teman jalananku sering mengeksplorasi perbatasan, melanggar batas wilayah dan berjalan - jalan ke wilayah Biru yang bertetangga dengan wilayah Putih.
sekarang, aku melewati batas wilayah sendirian sambil membawa hewan suci wilayah Putih. kalau sampai tertangkap mungkin aku akan dihukum mati.
memasuki wilayah Biru, aku mulai mencari dokter yang bisa menyembuhkan Snaky, sampai aku menemukan sebuah rumah besar yang kelihatan tidak terawat, dengan plang besar di depannya: MEMPERBAIKI HEWAN PELIHARAAN.

memperbaiki? Snaky jelas bukan hewan peliharaan dan bukan benda untuk diperbaiki. tapi entah kenapa aku merasa tempat inilah yang Snaky maksud. dengan mantap aku masuk ke halaman rumah dan mengetuk pintunya.

seorang wanita dengan penampilan gypsi membuka pintu. dia mengenakan baju berkerah sabrina berwarna oranye terang dengan motif polkadot putih. rambut panjang ikalnya ditahan oleh bandana senada dengan warna pakaian. umurnya setengah baya dan dia menatapku dengan alis terangkat.
" ya? "
" maaf, apakah di sini bisa menyembuhkan ular? "
" oooh kali ini ular? ya ya, masuklah, Nak! "
wanita itu menggiringku masuk, melewati lorong - lorong gelap rumah itu, sampai ke sebuah halaman besar di dalam rumah. saat aku bertanya - tanya sampai mana dia akan membawaku, dia mulai berteriak
" ular! "
aku terlonjak saat dia menyambar Snaky dalam balutan jubahku, dan melemparnya ke seberang halaman. reflex, aku mengejar Snaky yang melambung dalam bentuk kubah, dan jatuh tepat ke tangan seorang wanita muda berkulit hitam dengan pakaian bengkel.
" i..itu ularku, " aku terengah.
wanita itu tidak mengacuhkan kata - kataku dan langsung membuka jubahku yang membungkus tubuh Snaky. Dia berdecak saat melihat luka sobek Snaky, dan mulai menaruh Snaky di atas meja yang berbentuk seperti meja kerja di bengkel dan mengeluarkan tas berisi peralatannya.
" a..apa kau bisa menyembuhkannya? " aku menatap wanita itu penuh harap, " sepertinya lukanya mematikan, "
wanita itu menghela napas, " ini ularmu? dia jenis ular langka. ular pelindung. dia tidak akan mati karena luka seperti ini! "
aku merasakan kakiku melemas. aku terduduk di kursi di samping meja kerja wanita itu, menatap Snaky yang terbaring lemas di meja dengan kelegaan yang amat sangat.
wanita itu melirikku, " dia akan baik - baik saja. aku hanya perlu menjahitnya. sepertinya kau yang butuh beristirahat. pakai kamar kosong di sebelah sana dan biarkan aku mengerjakan pekerjaanku tanpa gangguan, "
aku baru menyadari betapa lelahnya aku berlari sepanjang perjalanan dari wilayah Putih ke wilayah Biru. aku mengangguk dan masuk ke ruangan yang ditunjuk wanita itu. di dalam ruangan itu aku menemukan sebuah tempat tidur kosong dan sebuah meja. terdapat sebuah jendela yang menghadap ke halaman tengah. langit mulai gelap dan wanita - wanita berpakaian gypsi keluar dari kamar - kamar di sekitar halaman dan menyalakan api unggun. wanita - wanita lain yang berpakaian bengkel juga keluar dan bersama - sama mereka bernyanyi dan  menari mengelilingi api unggun.

***

aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. saat aku terbangun, ruangan gelap total dan satu - satunya penerangan adalah bara dari bekas api unggun besar di tengah halaman. terdengar suara desisan tinggi dari lantai di kaki ranjangku. aku terlompat duduk dan memicingkan mata untuk melihat dalam kegelapan. di lantai, di dekat kaki tempat tidurku, seekor ular besar 3x lebih besar dari Snaky, menatapku balik dengan marah. ular itu mendesis tinggi dan memasang posisi menyerang, sebelum dia melontarkan diri ke arahku. aku memejamkan mata, menanti ajal. tapi tidak terjadi apa - apa. Ular itu seperti menghantam sesuatu dan terpental ke dinding seberang. terdengar bunyi remuk yang keras saat kepala ular itu menghantam tembok, dan suara debum keras saat tubuh besarnya menghantam lantai. cairan berwarna merah menggenang dari luka di kepalanya yang remuk.
" ckckck, bodoh sekali! ular biasa berani menyerang Ketua. Ketua Putih pula! "
aku mendengar sesuatu meluncur di samping bangkai ular coklat itu. kali ini ular lain yang berukuran lebih kecil, berwarna biru dengan belang merah terang mencolok.
" ular kelompok Biru! " aku terkesiap.
" ah, kau mengenaliku, Bocah! " ular itu merayap ke arahku, membuatku merapat ke dinding dengan ketakutan.
" jangan mendekat! apa kau yang mengirim ular itu untuk membunuhku?! "
ular Biru berdecak tidak sabar, " hanya orang bodoh yang mengirim hewan biasa untuk membunuh seorang ketua, terutama Ketua Putih! "
" kalau begitu mau apa kau kesini?! "
" bukankah seharusnya saya yang bertanya, Ketua Yang Agung? sedang apa anda di wilayah saya? " ular biru itu naik ke tempat tidurku. aku semakin merapat ke tembok. aku sangat ingat apa yang dikatakan Snaky tentang hewan pelindung kelompok. Mereka adalah hewan - hewan tertua dan terkuat diantara semua hewan di dunia ini. mereka memiliki intelegensia dan kebijaksanaan selayaknya manusia, bahkan lebih dari manusia. Ular biru ini bisa membunuhku dengan mudah.
" Ketua biru mengirimku ke sini. dia memiliki keyakinan bahwa ular suci Kelompok Putih sedang terluka, " ular Biru sekarang sudah sejajar dengan kakiku, " rupanya benar dugaan bocah itu, "
" apa yang kau mau dariku? "
" darimu? tidak ada. aku hanya ditugaskan untuk melindungi kau dan si tua Putih. selama kalian di wilayah kami, kalian adalah tamu kami. walaupun kalian masuk tanpa izin ke wilayah kami, "
" maafkan aku, aku harus melakukannya. Snaky butuh bantuan secepatnya, " aku menunduk
" Snaky? kau memberinya nama? menarik sekali. Kami hewan tua yang diagung - agungkan, tidak pernah memiliki nama sebelumnya. menarik juga kau ya. dan kekuatan yang tadi kau perlihatkan, hanya anggota Putih lah yang bisa membuat pelindung seperti yang kau buat tadi. kau membuatku terkesan. sepertinya di tua Putih dan Ketua yang sebelumnya tidak salah melihat kemampuanmu, "
" aku hanya anak jalanan biasa, "
" kupikir tidak, " ular Biru itu menelengkan kepalanya, " yah, aku juga ke sini untuk mengatakan padamu bahwa bocah botak Biru setuju untuk memberikan dukungan padamu, "
" benarkah? " aku terbelalak.
" kami menemukan sesuatu yang lebih penting dan lebih mengkhawatirkan dibanding pengangkatanmu. kami berpendapat untuk membiarkan waktu yang menunjukkan seberapa kuat kau bertahan sebagai penerus, "
" hal apa yang mengkhawatirkan? " tanyaku penasaran.
" ada pengkhianat di antara dewan Ketua, " ular Biru itu mengatakannya dengan gamblang, " orang yang sama yang mencoba membunuhmu dengan ular biasa itu, "
" si..siapa? "
" well, kami mencurigai satu kelompok. kecurigaan kami bertambah dengan adanya dia sebagai pendukung utamamu. ah, tapi lebih baik kau bertemu dengan seseorang yang lebih bisa menjelaskan daripada aku, " ular Biru menoleh dan dari pintu seekor ular lain merayap mendekat. kali ini ular berwarna abu - abu dengan belang hitam.
" maaf aku terlambat, " suara ular itu terdengar ragu - ragu. dia mendekatiku dan ular Biru dengan pelan, " Selamat Malam, Ketua, "
" naiklah lamban abu - abu. aku sudah harus pergi. kau bawa berapa lagi? " ular Biru itu melompat dari atas tempat tidur, sementara ular abu - abu yang baru datang merayap pelan ke dekat kakiku.
" aku membawa hewan suci Kelompok Hijau. tapi sepertinya dia tidak terlalu suka menempuh perjalanan denganku, " ular abu - abu itu terlihat gugup.
" jangkrik hijau itu memang tidak suka menempuh perjalanan dengan ular manapun, " suara ular biru terdengar tidak sabar, " katakan apa yang bisa kau ceritakan. aku harus menemui ketuaku dan menyusun rencana selanjutnya, "
aku mengamati saat ular biru itu merayap keluar dan menghilang dalam kegelapan. ular abu - abu di depanku menghela napas, " seperti biasa, si tidak sabaran itu, " gumamnya.
" a..apakah anda ular dari kelompok Abu - abu? " tanyaku.
" ah ya, " ular abu - abu itu mengangguk, " senang anda mengenali saya, Ketua. saya dan kelompok Saya adalah mata - mata negara. kami menyimpan semua informasi, "
" apa..yang bisa diceritakan kepadaku? "
" banyak hal, Ketua, " ular abu - abu itu mengangguk hikmat, " kami para pelindung mulai meyakini adanya gerakan mencurigakan dari Kelompok Kuning. Mereka sepertinya ingin membangkitkan sebuah mantra yang besar dan menggulingkan pemerintahan. karena itulah mereka menjadi pendukung pertama anda tadi siang. sepertinya anda sudah bertemu ular yang mereka kirimkan pada anda. saya bisa memastikan bahwa merekalah yang merapalkan mantra untuk memanggil hewan berbisa itu, "
" apa yang akan mereka lakukan setelah ini? mereka pasti sadar mereka gagal membunuhku, " aku mengerling bangkai ular coklat itu di lantai.
" mereka pasti sudah menyadarinya sekarang, Ketua. Saya merasakan pergerakan mereka. Mereka akan melepaskan wujud asli hewan - hewan suci dan memulai pertempuran dengan Kelompok Putih, "
" harus ada yang memberitahu Kelompok Putih! " aku terkesiap, " aku harus ke sana sekarang! "
" kami akan membawa anda ke sana, Ketua, " ular abu - abu itu mengangguk, " setelah ketua Biru melepaskan wujud asli hewan sucinya, kami akan membawa anda dengan segera ke wilayah Putih, "
" apa maksudmu 'melepaskan wujud asli'? "
" sudah siap berangkat? "
aku menoleh dan kali ini melihat seorang pria dengan tubuh tegap dan penutup mulut berdiri, bersender pada pintu yang terbuka. rambutnya panjang sebahu dan dia mengenakan pakaian kulit berwarna hitam. sebuah kalung bermata biru tergantung di lehernya.
" kau?! "
" kau jelas lebih menyukai wujud hewan melataku daripada versi yang ini, " pria itu tertawa, " nah, sekarang ayo kita pergi, "

***

" Ketua, baik - baiklah di sini. si abu - abu akan melindungi anda, " seorang pelayan berjubah putih menghampiriku dengan khawatir. beberapa pria berpakaian hitam dengan wajah mantap dan kalung beraneka warna menghampiriku dan membungkuk padaku. di sebelahku, seorang pria dengan pakaian terusan abu - abu berkalung abu - abu pekat membenarkan letak kacamatanya dengan gugup.
" berhati - hatilah kalian, " aku merasakan tenggorokanku kering. semua hewan suci dari semua kelompok telah berubah menjadi manusia dan mereka semua terlihat tangguh. tapi aku belum melihat wujud manusia dari ular Kuning yang akan mereka lawan. entah seperti apa wujudnya, sepertinya dia adalah lawan yang cukup berat.
" ketua tidak usah khawatir. peperangan seperti ini biasa terjadi. telah tertulis di kitab - kitab sebelumnya, " ular abu - abu yang kini dalam wujud pria gemuk berjubah abu - abu dan berkacamata membenarkan letak kacamatanya lagi.
" lalu apa tugas seorang ketua putih dalam peperangan seperti ini? " tanyaku cemas, mengintip dari jendela kuil tempat aku diamankan.
" ketua akan mengetahuinya sebentar lagi, "
terdengar suara pekikan angin dan sesuatu yang besar menghantam dinding kuil. aku berpegangan pada meja di depanku dengan kalut. sesuatu yang berwarna keperakan mulai berputar di sekeliling kuil, dengan kuil sebagai porosnya.
" ketua, aktifkanlah pelindung negeri. hanya ketua Putihlah yang bisa melakukannya, "
" a..apa?! " aku memandang sesuatu yang keperakan itu dengan kalut, " aku tidak tahu caranya! "
" bukankah seharusnya pelindung anda mengajari anda? " kali ini giliran si pria abu - abu yang panik
" Snaky tidak mengajariku apa - apa! "
" tapi Ketua, kalau Ketua tidak mengaktifkan pelindung, pertempuran ini tidak akan bisa kita menangkan! "
aku menggertakkan gigiku. pertama - tama secara sepihak aku dipilih jadi ketua. sekarang tiba - tiba secara sepihak aku disuruh mengaktifkan sesuatu yang bahkan tidak kumengerti!
aku merasakan kemarahanku memuncak dan angin mulai bertiup di kuil. sesuatu yang berwarna keperakan tadi mulai berputar lebih kencang. ular abu - abu bersorak, " ketua! sudah aktif! sekarang stabilkan energinya! "
" bagaimana caranya?! "
meja - meja dan kursi mulai terangkat dari lantai. aku harus berpegangan supaya tidak tertiup angin yang kubuat sendiri dan terpental; dari ruangan. bagaimana menghentikan ledakan energi ini?!
" tuan muda! fokus! "
suara mantap yang selama ini menyemangatiku membuatku menoleh. seorang pria tua dengan jubah putih bertongkat muncul di ambang pintu.
" Snaky? " aku menatapnya, tercengang.
" fokus! "
aku terlalu terkejut melihat Snaky dalam wujud manusianya, sampai - sampai aku baru menyadari sekarang perabotan sudah tidak lagi melayang di udara. angin sudah tidak bertiup sekencang tadi. aku baru menyadari suara pertempuran berkurang. aku berlari menghampiri Snaky dan memeluknya.
" kau tidak seharusnya di sini! "
" saya tidak bisa membiarkan tuan muda sendirian di sini, " pria tua itu balas memelukku, " anda melakukan hal yang hebat seorang diri, "
" aku tidak akan bisa kalau kau tidak datang, Snaky! "
Snaky tersenyum, " nah nah, sekarang mari kita lihat musuh - musuh yang sudah berani menyerang kita, Tuan muda, "


***


and i woke up from my dream 3 days ago...