" Kau serius tidak ingar apapun? APAPUN?? "
aku memandangnya dengan frustasi. baru kemarin dia menyatakan tak bisa hidup tanpaku. baru kemarin kami berpelukan begitu erat dan tak seorang pun dari kami ingin melepaskan duluan.
baru kemarin aku berjanji untuk menikah dengannya.
dan baru kemarin dia tersenyum dan berkata 'ya'
tapi sekarang....
***
pria didepanku terlihat tak percaya. aku melihat luka di hatinya terpancar jelas di matanya. seandainya aku bisa membantunya sedikit saja. meringankan kesedihan dari bahunya.
tapi aku tidak bisa.
aku tidak bisa mengatakan apa yang tidak pernah terjadi padaku.
pria ini berkeras kami sepasang kekasih.
tapi aku tidak mengenalnya.
tidak pernah mengenalnya....
***
"dulu kita sering makan malam di sini, " aku menatapnya dengan harap - harap cemas, " kau ingat? kau suka sekali steak itu. dan minuman kesukaanmu adalah thai tea yang dijual di belakang bar ini, "
pandangannya tetap kosong, " steak? thai tea? "
bahuku melemas, " ya. steak dengan saus jamur dan thai tea dengan susu yang banyak, "
" oh "
aku menatapnya. wajah yang kukenal. wajah yang kucintai. wajah yang menjadi pusat kehidupanku belakangan ini.
dia hanya menatapku seperlunya, tampak tidak nyaman di tempat biasa kami bercengkerama. tempat dimana dia biasa memberiku senyumannya yang semanis madu, sekarang terasa begitu asing baginya.
asing, seperti aku di matanya.
***
" bukankah dia pria yang baik? "
aku menatap teman sekamarku. walaupun pria itu berkata aku mengalami amnesia, tapi bagaimana mungkin aku masih mengingat semua hal, ya semua hal, kecuali keberadaan pria itu? aku masih mengingat bagaimana teman sekamarku adalah gadis dengan rambut berwarna merah dan bintik - bintik memenuhi wajahnya. tubuh kurusnya menggunakan kaos oblong putih dengan overall jeans yang kebesaran. gaya tomboynya berkebalikan dariku 90 derajat.
" masalahnya aku tidak mengenalnya dan dia berkeras kami saling mencintai! bukankah itu gila? "
" mungkin kau benar - benar mengalami amnesia seperti yang dia katakan, " teman sekamarku mengangkat bahu.
aku memutar bola mataku, " amnesia tapi aku masih ingat kau? yang benar saja! "
" mungkin sebenarnya kau jatuh cinta padaku, " teman sekamarku tertawa, " sampai sampai kau tidak bisa melupakanku sama sekali, "
aku menghela napas, " kau sungguh tidak lucu, "
" well, " teman sekamarku menuruni tempat tidur tingkat kami dengan lincah seperti monyet tanpa menggunakan tangga, " kudengar dia akan pindah sekolah kalau kau terus tidak bisa mengingatnya, "
aku seperti tersetrum, " kau serius? "
teman sekamarku mengangkat bahu dengan gesture acuh tak acuh, " tapi apa pedulimu? kau sungguh tidak mengenalnya kan? "
***
aku membereskan barang - barang di lokerku dan memasukkannya ke dalam tas secara serampangan. sekolah berasrama ini sudah seperti rumah bagiku, lebih daripada rumahku sendiri. semakin terasa seperti rumah setelah gadis itu menjadi milikku. tapi sekarang semuanya tidak ada artinya.
aku mencangklong tasku dan beranjak pergi. surat kepindahanku sudah di acc oleh kepala sekolah. mulai besok aku bukan lagi siswa di sekolah ini. sudah saatnya aku pergi. mungkin memang aku ditakdirkan untuk masuk ke angkatan udara seperti keinginan ayah selama ini. aku telah terlalu lama menunda takdirku.
suara langkah berderap menghampiriku. aku mendengar seseorang mamanggil namaku. suara yang kukenal dengan baik. aku menoleh dan terpaku.
gadis itu, yang kini bukan lagi kekasihku, menghampiriku terengah - engah. rambut panjangnya berkibar di punggungnya saat dia berlari kearahku. rok pink favoritnya berkibar cantik. dilihat dari sudut manapun dia benar - benar seperti dewi bagiku.
" tu...tunggu! " dia menahan tanganku. aku mengangkat alis. setelah semua usahaku mengingatkannya pada kenangan - kenangan kami, dan dia selalu menanggapinya dengan dingin, ini pertama kalinya dia menyentuhku. biasanya sentuhannya akan membuatku berdebar, tapi kali ini yang kurasakan hanya kehampaan kosong karena kutahu dia bukan lagi milikku, sosokku di dirinya telah mati.
" ada apa? " aku menjawab kasual.
" anu...apa benar kau akan pindah sekolah? "
" ya, "
" kapan? "
" besok, "
" kalau begitu... " dia kelihatan ragu - ragu, " bolehkah kita pergi makan malam di tempat steak yang sering kita datangi bersama? "
***
" thai tea dengan susu yang banyak. tolong es nya sedikit saja, "
aku menatap gadis itu, masih mengangkat sebelah alis. kehampaan dalam hatiku berubah menjadi rasa penasaran dan juga sebuah kekesalan yang tak terduga kurasakan.
" kau bilang kau tidak ingat pada tempat ini. kau bilang kau tidak ingat pada makanan kesukaanmu saat bersama denganku. kau bilang_"
" itulah masalahnya! " gadis itu memotongku dengan tajam. keningnya berkerut, " itulah kenapa aku menahanmu. kurasa...kurasa aku mulai mengingat sesuatu, "
" sesuatu seperti? " aku bersedekap.
gadis itu terlihat ragu " aku tidak tahu. aku hanya merasa aku mengingatnya. aku mengingatmu. aku harus mengingatmu, "
" kenapa? kenapa harus? " aku bertanya, masih tidak percaya.
" sungguh aku tidak tahu! tapi aku merasa itu sebuah keharusan, "
pesanan kami tiba dan kami mulai makan. dan dia mulai berceloteh seperti sedia kala saat kami pertama kali bertemu, saat kami pertama kali makan di tempat itu. aku memandangnya, sangsi, juga takut kalau ini semua hanya mimpi.
aku meraih tangannya, dia menatapku dengan mata bulatnya yang indah.
" kau benar - benar sudah mengingatnya? mengingat semua tentang kita? "
gadis itu menatapku, matanya berbinar.
" ya, aku sudah ingat tentangmu. ingat semua tentang kita"
***
air keran berderu saat aku mencuci wajahku di wastafel restoran tempat kami makan tadi. aku menatap bayangan wajahku di cermin.
wajah seorang pembohong yang lihai.
tidak, aku tidak ingat apapun tentangnya.
aku tidak ingat apapun tentang kami berdua.
tapi satu hal yang kutahu pasti.
aku tidak ingin kehilangannya.
aku tidak bisa.
Kamis, 11 Januari 2018
Langganan:
Postingan (Atom)


