Sabtu, 28 Mei 2016

Pasangan Hidup

dia sama persis seperti yang terakhir kali kuingat. wajah yang sama, pembawaan yang memukau, dada yang lapang, suara yang ringan dan maskulin,
apa yang kulihat padanya saat ini, adalah apa yang sempat kumiliki dahulu.
dalam kehidupanku yang lain


***


" apa kau tidak mengingatku? sama sekali tidak? "
aku menatapnya dengan hati yang hancur. matanya memandangku dengan asing, seakan aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak mungkin. dia menatapku seakan aku sudah gila
" dengar ya, Non! aku tidak mengenalmu. dan aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya! aku sudah punya istri, aku tidak tertarik dengan wanita sepertimu. walaupun boleh kukatakan, kau sepertinya tergila - gila denganku sampai mengejarku ke sini. tapi oh, please, siapa sih wanita yang tidak tergila - gila padaku? "
dia tertawa dan menenggak isi botol alkoholnya. rompi tanpa lengannya lengket karena keringat di tubuhnya yang berotot dan dadanya yang bidang, sementara dia menikmati sentuhan dan rayuan dari wanita - wanita penghibur yang menggelayut manja di lengannya.
aku menatapnya nanar. bagaimana mungkin dia tidak mengenaliku? tidak, bagaimana mungkin dia tidak memiliki rasa apapun padaku? aku adalah orang yang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidupnya. di kehidupan kami yang dulu, maupun di kehidupan kami yang sekarang, dan selanjutnya. itu adalah suratan takdir. dengan suratan dan ingatan yang tak lekang oleh waktu itulah aku mencarinya, melewati hari demi hari yang panjang untuk menghampirinya.
dan dia tidak mengenaliku?
" tunggu...beri aku waktu bersamamu. aku akan membuatmu ingat padaku! " aku berkeras.
" keras kepala sekali sih? " dia mengerang, " sudah kukatakan, aku punya istri! dan aku tidak tertarik padamu! sama sekali tidak! "
" beri aku waktu! " aku masih berkeras dengan suara bergetar, " kumohon, tempatkan aku di tempat yang cukup dekat denganmu. aku tidak peduli harus jadi pelayan atau pembantu sekalipun! "
" hei sepertinya dia serius, " wanita penghibur yang bergelayut di lengan kirinya terkikik dan menatapku dengan pandangan menghina, " kasihan sekali ya, "
" beri saja dia pekerjaan sebagai penyikat toilet, " wanita penghibur di sisi kanannya tertawa, " atau pencuci baju kotor, "
" aaah! merepotkan saja! " dia mengerang dan bangkit berdiri, mengabaikanku dengan wajah kesal, " terserah saja deh! jadi saja pembantuku! aku tidak peduli! "
aku beranjak berdiri, mengikutinya dengan penuh harap. di luar pub hujan deras menerpa. dia dan wanita - wanita penghibur di sisinya menaiki mobil dan meninggalkanku seorang diri di tengah hujan.

***


" sudah kukatakan berkali - kali! dia tidak mengingatmu! pulang lah kembali dan lupakan pria itu! "
malaikat kecil berpenampilan anak kecil berkuncir dua tambun menghardikku saat aku menyeret langkahku yang basah ke sebuah kamar gelap yang menjadi kamarku. setelah berhasil mengikutinya ke rumah dengan berjalan kaki dan kehujanan, seorang wanita dengan wajah keibuan menghampiriku dan menawariku tempat berteduh. wanita itu lah istri yang daritadi dia sebut - sebut. wanita itu tampaknya memaklumi keadaanku saat aku menceritakan kalau suaminya meninggalkanku di tengah hujan setelah memerintahkanku untuk menjadi pembantu di rymahnya. tentu saja aku tidak menyebut - nyebut bagian bahwa suaminya adalah pasangan hidup yang telah ditakdirkan untukku tapi sayangnya dia tidak mengingatku saat ini.
aku menghela napas dan memeras ujung rokku yang meneteskan air hujan kemana - mana, " aku tahu dia tidak mengingatku. tapi aku tidak bisa meninggalkannya. bagaimanapun dia adalah pasangan hidup yang ditakdirkan untukku, jadi aku tidak bisa menyerah secepat ini dan kembali pulang, "
" takdir bisa berubah. begitu juga dengan hatinya. mungkin di kehidupan kalian sebelum ini dia mencintaimu. nyatanya di kehidupan yang sekarang dia bahkan tidak peduli padamu. dia bukan lagi pria yang menjadi pasangan hidupmu! "
" malaikat kecil yang baik, " aku menangkup sosok anak kecil pemarah di hadapanku dan tersenyum, " aku belum mau menyerah membuatnya ingat kembali padaku. mungkin nanti, tapi yang pasti bukan saat ini"
" terserah lah! "
malaikat itu menghilang dari hadapanku.


***


sekarang setelah aku mendapatkan tempat berteduh yang hangat dan baju ganti yang nyaman, aku mulai menjalankan tugasku sebagai seorang pelayan. membersihkan rumah yang besar itu, mengamati kalau dio dalamnya tidak tampak foto ataupun kehangatan pemiliknya. suara pertengkaran terdengar dari sebuah ruangan, instingku mengajakku mendekat, jadi aku berdiri di luar ruangan itu dan mendengarkan teriakan - teriakan di dalamnya.
" pergi saja ke neraka! aku tidak peduli! "
itu suaranya, suara pasangan hidupku. aku menyimak dengan sungguh - sungguh.
" aku tidak minta kau mencintaiku, aku juga tidak minta kau peduli padaku! aku hanya minta kau bisa menahan diri! mabuk - mabukan dan menyewa pelacur lalu berkeliaran di jalan! aku seorang dokter! bagaimana kalau kolega ku melihatmu seperti itu?! " suara sang istri meninggi dalam kemarahan.
" lalu aku harus peduli apa kata kolegamu tentangku? persetan! aku menikahimu karena orangtua kita memaksa kita untuk menikah! kau pergi ke neraka pun aku tidak peduli! brengsek! "
pintu ruangan itu terbuka dan dia melewatiku dengan cepat, diiringi sumpah serapah dan bau alkohol yang kuat. tidak berapa lama, sosok sang istri keluar dari ruangan. wajahnya terlihat lelah dan juga sakit hati. dia menoleh melihatku yang terpaku di samping pintu ruangan itu.
seakan mendengar pertengkaran pribadi sang tuan rumah adalah hal yang wajar, dia tersenyum hambar padaku dan berkata, " aku akan pergi seminar untuk beberapa hari. tolong jaga rumah ini. dan tolong jaga suamiku. pastikan dia tidak....membuat masalah, "
dan dengan kata - kata itu dia berlalu.


***


malam itu dia datang dengan seorang gadis berambut pirang dengan pakaian sangat terbuka. mereka bercinta di ruang tamu. aku harus menyingkir ke kamarku untuk menghindari suara desahan yang sangat ribut di ruang tamu. aku memutuskan untuk tidur, berpura - pura tidak tahu bahwa orang yang ditakdirkan menjadi pasangan hidupku sedang menyentuh wanita lain di luar sana.


***


suara gelas yang pecah dan sumpah serapah.
dalam kegelapan aku terbangun dan terlonjak duduk. aku meraba - raba dinding kamarku yang gelap dan keluar dari kamar. menghampiri asal suara itu, aku menemukan dia terkapar tanpa busana di depan pintu rumah yang terbuka sambil menggenggam botol bir yang pecah. dia bau alkohol dan terlihat sangat mabuk. aku harus susah payah menyeretnya ke kamarnya. kamar itu gelap dan acak - acakan, dengan banyak kondom bekas pakai dan seprai yang terserak di lantai. aku berhasil membaringkannya di tempat tidur dan menyelimutinya. aku menghela napas. kemana pelacur pirang itu pergi? sepertinya mereka bertengkar. dia mulai mengigau dalam tidurnya dan menarik tanganku cukup keras sampai aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur. aku menghela napas lagi. ini situasi yang seharusnya kutunggu - tunggu tapi entah kenapa terasa begitu salah. aku membenarkan selimutnya dan memandang wajahnya yang tertidur pulas dibawah pengaruh alkohol. wajah tampan itu, tubuh indah itu. orang yang seharusnya jadi milikku.
orang yang dulunya adalah milikku....
malam itu aku tertidur di sampingnya. tangannya menggenggam erat tanganku semalaman dan tidak melepaskannya sedetikpun.


***


" aku tidak membunuh pelacur itu, brengsek! "
aku sedang membersihkan meja di ruang tengah saat aku mendengar suaranya menyumpah serapah di ruang tamu. aku bergegas keluar dan menemukan beberapa pria berpakaian seragam polisi di ruang tamu. dia kelihatan marah. penampilannya acak - acakan tapi aura sangar yang menakutkan tidak hilang dari pembawaannya.
" korban terakhir terlihat bersama anda, " jawab polisi itu tenang.
" tentu saja dia bersamaku! dia kekasihku dan kami selalu bertemu di rumah ini setiap malam saat istriku tidak di rumah! tapi kutegaskan sekali lagi! aku tidak membunuihnya! kami bertengkar dan dia meninggalkan rumah malam itu! aku tidak ingat persis detilnya! "
" anda mabuk. alibi anda tidak kuat. kami harus membawa anda ke kantor polisi, "
" sudah kubilang, bangsat! aku tidak membunuhnya! "
" dia...dia mengatakan yang sebenarnya! " aku melangkah ke ruang tamu dengan suara bergetar. semua pria itu mermandang ke arahku, " malam itu saya ada di sini. saya...saksinya. tuan saya tidak melakukan pembunuhan, "
polisi - polisi itu kelihatan tidak yakin. mereka merundingkan sesuatu dan memutuskan bahwa mereka tidak akan membawanya sekarang. mereka akan kembali beberapa hari lagi setelah mengumpulkan lebih banyak bukti yang memberatkannya. setelah polisi - polisi itu pergi, dia menutup pintu dan menatapku dengan keheranan.
" kau benar - benar melihatku bertengkar dengan jenifer? "
aku menatapnya dengan salah tingkah, " tidak..aku menemukan anda terkapar di sini. jenifer sudah tidak ada, "
"kau berbohong pada mereka? " suaranya terdengar takjub
" saya tidak bisa membiarkan mereka membawa anda. anda tidak bersalah, "
" kau percaya padaku? aku terlalu mabuk saat itu. aku tidak ingat apakah aku membunuh jenifer atau tidak, "
aku menatapnya dengan ragu - ragu. " saya..percaya pada anda, "
dia menatapku, dan mengulurkan tangannya untuk menangkup wajahku, " kenapa? setelah semua yang kulakukan padamu? "
aku mengerutkan kening saat tangannya menyentuh wajahku, " anda sakit? tangan anda panas, "
" oh, " dia menatap tangannya, " aku memang merasa tidak enak badan sejak pagi tadi. aku bahkan tidak menyadari aku demam, "
" anda harus istirahat, " aku menggandengnya ke kamar tidurnya, kali ini tanpa perlawanan darinya. dia membiarkan aku membantunya berbaring dan menyelimutinya. tepat saat aku beranjak dari tempat tidurnya, dia menangkap tanganku dan menggenggamnya.
" aku ingat padamu, " bisiknya pelan.
" ingat apa? " aku tidak percaya keajaiban akan datang semudah dan secepat ini. aku menoleh padanya. " apa yang kau ingat? "
dia merengkuhku dari belakang, " kau menyelimutiku tadi malam. kau di sini, menemaniku tidur, "
ya, keajaiban tidak datang semudah dan secepat ini. aku menghembuskan  napas berat
" ya, "
" kalau begitu sekarang pun, tetaplah di sini. temani aku lagi. mungkin dengan begitu aku akan...mengingatmu lebih jelas. entah kenapa aku merasa kau seperti...pasangan hidup yang ditakdirkan untukku... "


***