Senin, 28 April 2014

dream about war, magic, and...pet?

" Snaky, menurutku ini ide yang buruk, "
ular sepanjang 90 cm berwarna putih itu membelit tanganku. mata maniknya menatapku dengan sabar, " tuan muda, tenanglah. saya ada di pihak anda, "
aku menyelubungkan jubah putih di bahuku, sementara ular putih itu bergelung nyaman di kantung jeansku. seperempat tubuhnya membelit lengan bawahku. aku menatapnya, " oke, aku percaya padamu, "
seekor ular miskin ekspresi tapi aku yakin saat ini Snaky sedang tersenyum, karena dia mengeratkan belitannya seakan memberi aku dukungan. mungkin semacam jabat tangan pada manusia.
aku menarik napas dan melangkah maju. aku menyibakkan tirai di depanku, dan langsung berhadapan dengan puluhan orang berjubah beragam warna. mereka semua menunduk hormat saat aku memasuki beranda. walau begitu aku bisa melihat sorot ketidaksetujuan di mata mereka. aku menelan ludah.
seorang pria botak bertelanjang dada menghampiriku. alih - alih menggunakan jubahnya, dia mengikatkan jubah itu ke pinggangnya, dan sebagai ganti pengenal identitas, dia menggunakan kalung - kalung emas dengan ornamen biru. Di lengan bawahnya membelit hewan suci kelompoknya, seekor ular berwarna biru dengan belang - belang merah yang mencolok. aku langsung mengenalinya. dia adalah ketua Kelompok Biru, Prajurit negeri ini. Yang terkuat dan terhebat di antara semuanya.

" selamat datang, Ketua " suaranya berat saat menyambutku. dari pandangan matanya aku langsung tahu dia tidak menyukaiku, " kami dewan ketua dari masing - masing kelompok hadir di sini untuk melihat Ketua baru kami, "
aku menelan ludah. aku hanya anak jalanan biasa. lalu Ketua Kelompok Putih yang merupakan pemimpin negeri ini melihatku dan tiba - tiba menunjukku sebagai penerus. beberapa hari setelahnya, sang Ketua Putih meninggal dan meninggalkanku dalam situasi yang sangat tidak mengenakkan seperti ini.
" te..terimakasih atas kehormatannya, tapi sebenarnya tidak ada yang bisa aku tunjukkan pada kalian, " aku menjawab gugup.
" anda adalah orang yang dipilih oleh Ketua, tentu anda memiliki kelebihan yang tidak kami miliki, sehingga Ketua memilih anda dan bukan kami, para pengikutnya sejak dulu, "
Tanpa terasa aku menarik tubuh Snaky lebih kencang, nyaris mencengkeramnya. aku benar - benar sangat gugup. sudah kubilang ini ide buruk. tentu saja para ketua lain tidak setuju aku menggantikan jabatan pemimpin sementara mereka menunggu jabatan ini sejak dulu. memangnya siapa aku ini?!
" jaga ucapanmu, Ketua Biru. Ketua telah memilih anak ini dan aku ada pada saat Ketua memilihnya, Aku sebagai penasihat Kelompok Putih menberikan dukungan penuh padanya, " Snaky angkat bicara. Dia menatap audience dengan pandangan tajam dan aura berwibawa yang sangat kuat.
Seorang wanita bercadar dengan jubah hitam bertepi kuning angkat bicara dari tengah kerumunan. Ular hitam dengan garis kuning terjuntai di lehernya. Tiba - tiba aku merasa merinding. wanita ini pasti Ketua Kuning, kelompok mantra. mereka terkenal misterius dan selalu menutupi diri dengan cadar.
" jika pelindung Kelompok Putih sudah berkata seperti itu, kami dari kelompok kuning akan memberikan dukungan penuh pada Ketua baru, "
" kami juga akan memberikan dukungan penuh, " Seorang pria pendek berjubah abu - abu dengan ular hitam belang abu - abu di lengannya juga angkat bicara.
kerumunan dewan kelompok satu persatu mulai mengangkat tangan dan mengikrarkan dukungan mereka. aku menatap kerumunan itu dengan takjub. sebegitu besarnya pengaruh hewan suci kelompok putih. Snaky memang luar biasa!
" tuan muda, " Snaky berbisik pelan. aku harus menunduk untuk mendengarkan kata - katanya, " biasakah kita tutup rapat ini? "
" ada apa Snaky? "
" sepertinya saya terluka, "
" apa?! " aku tersentak, " bagaimana...? "
" tenanglah tuan muda, " Snaky mencoba memberikan belitan lembut yang tadi dia berikan padaku saat awal rapat, tapi kali ini belitannya terasa lebih lemah
" a..apa aku menyakitimu? aku menarikmu terlalu keras sampai kau terluka? "
" Ketua, "
aku tersentak dan melihat Ketua Biru menghampiriku. dahinya berkerut melihat aku berbisik - bisik dengan Snaky, " ada apa dengan hewan suci Kelompok Putih? "
" ti..tidak ada apa - apa, " aku menjawab tergagap, " pertemuan dibubarkan. terimakasih sudah datang hari ini, "
tanpa menoleh aku berlari masuk ke dalam rumah Ketua sebelumnya yang sekarang menjadi rumahku. aku melepaskan jubahku dan mengecek keadaan Snaky di kantung celana jeans. Saat aku membantunya keluar dari kantung jeansku, aku nyaris menjerit melihat lukanya.

seperempat dari tubuh Snaky nyaris terpisah dari badannya, hanya tergantung dengan beberapa inci kulit dan sisik. luka robek yang sangat besar dan mengerikan yang membuatku mual. tapi yang mengherankan adalah tidak ada setitikpun darah.
" kita harus segera mengobatimu! " aku mulai panik, " dimana dokter yang bisa mengobatimu? "
" saya jarang sakit, tapi suatu hari Ketua yang sebelumnya pernah membawa saya ke wilayah Kelompok Biru saat saya sakit, "
" wilayah Biru? " aku menelan ludah. wilayah pria botak yang tidak menyukaiku tadi? bisa - bisa dia semakin menjatuhkanku kalau tahu aku tanpa sengaja melukai hewan suci kelompokku. tapi keadaan Snaky saat ini jauh lebih penting dari reputasiku. Aku membungkus tubuh Snaky dalam jubah putihku dan bersiap - siap pergi.
" tuan muda? jangan pergi ke wilayah Biru, " Snaky protes dengan lemah
" tenang saja Snaky, aku akan menyembuhkanmu, " dan menambahkan dalam hati, setelah itu aku akan turun dari jabatan Ketua.

***

aku masih ingat dengan jelas jalan pintas ke wilayah Biru yang aman dari pemeriksaan penjaga. dulu sebelum terlempar ke dalam kehidupan rumit sebagai ketua ini, aku dan teman - teman jalananku sering mengeksplorasi perbatasan, melanggar batas wilayah dan berjalan - jalan ke wilayah Biru yang bertetangga dengan wilayah Putih.
sekarang, aku melewati batas wilayah sendirian sambil membawa hewan suci wilayah Putih. kalau sampai tertangkap mungkin aku akan dihukum mati.
memasuki wilayah Biru, aku mulai mencari dokter yang bisa menyembuhkan Snaky, sampai aku menemukan sebuah rumah besar yang kelihatan tidak terawat, dengan plang besar di depannya: MEMPERBAIKI HEWAN PELIHARAAN.

memperbaiki? Snaky jelas bukan hewan peliharaan dan bukan benda untuk diperbaiki. tapi entah kenapa aku merasa tempat inilah yang Snaky maksud. dengan mantap aku masuk ke halaman rumah dan mengetuk pintunya.

seorang wanita dengan penampilan gypsi membuka pintu. dia mengenakan baju berkerah sabrina berwarna oranye terang dengan motif polkadot putih. rambut panjang ikalnya ditahan oleh bandana senada dengan warna pakaian. umurnya setengah baya dan dia menatapku dengan alis terangkat.
" ya? "
" maaf, apakah di sini bisa menyembuhkan ular? "
" oooh kali ini ular? ya ya, masuklah, Nak! "
wanita itu menggiringku masuk, melewati lorong - lorong gelap rumah itu, sampai ke sebuah halaman besar di dalam rumah. saat aku bertanya - tanya sampai mana dia akan membawaku, dia mulai berteriak
" ular! "
aku terlonjak saat dia menyambar Snaky dalam balutan jubahku, dan melemparnya ke seberang halaman. reflex, aku mengejar Snaky yang melambung dalam bentuk kubah, dan jatuh tepat ke tangan seorang wanita muda berkulit hitam dengan pakaian bengkel.
" i..itu ularku, " aku terengah.
wanita itu tidak mengacuhkan kata - kataku dan langsung membuka jubahku yang membungkus tubuh Snaky. Dia berdecak saat melihat luka sobek Snaky, dan mulai menaruh Snaky di atas meja yang berbentuk seperti meja kerja di bengkel dan mengeluarkan tas berisi peralatannya.
" a..apa kau bisa menyembuhkannya? " aku menatap wanita itu penuh harap, " sepertinya lukanya mematikan, "
wanita itu menghela napas, " ini ularmu? dia jenis ular langka. ular pelindung. dia tidak akan mati karena luka seperti ini! "
aku merasakan kakiku melemas. aku terduduk di kursi di samping meja kerja wanita itu, menatap Snaky yang terbaring lemas di meja dengan kelegaan yang amat sangat.
wanita itu melirikku, " dia akan baik - baik saja. aku hanya perlu menjahitnya. sepertinya kau yang butuh beristirahat. pakai kamar kosong di sebelah sana dan biarkan aku mengerjakan pekerjaanku tanpa gangguan, "
aku baru menyadari betapa lelahnya aku berlari sepanjang perjalanan dari wilayah Putih ke wilayah Biru. aku mengangguk dan masuk ke ruangan yang ditunjuk wanita itu. di dalam ruangan itu aku menemukan sebuah tempat tidur kosong dan sebuah meja. terdapat sebuah jendela yang menghadap ke halaman tengah. langit mulai gelap dan wanita - wanita berpakaian gypsi keluar dari kamar - kamar di sekitar halaman dan menyalakan api unggun. wanita - wanita lain yang berpakaian bengkel juga keluar dan bersama - sama mereka bernyanyi dan  menari mengelilingi api unggun.

***

aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. saat aku terbangun, ruangan gelap total dan satu - satunya penerangan adalah bara dari bekas api unggun besar di tengah halaman. terdengar suara desisan tinggi dari lantai di kaki ranjangku. aku terlompat duduk dan memicingkan mata untuk melihat dalam kegelapan. di lantai, di dekat kaki tempat tidurku, seekor ular besar 3x lebih besar dari Snaky, menatapku balik dengan marah. ular itu mendesis tinggi dan memasang posisi menyerang, sebelum dia melontarkan diri ke arahku. aku memejamkan mata, menanti ajal. tapi tidak terjadi apa - apa. Ular itu seperti menghantam sesuatu dan terpental ke dinding seberang. terdengar bunyi remuk yang keras saat kepala ular itu menghantam tembok, dan suara debum keras saat tubuh besarnya menghantam lantai. cairan berwarna merah menggenang dari luka di kepalanya yang remuk.
" ckckck, bodoh sekali! ular biasa berani menyerang Ketua. Ketua Putih pula! "
aku mendengar sesuatu meluncur di samping bangkai ular coklat itu. kali ini ular lain yang berukuran lebih kecil, berwarna biru dengan belang merah terang mencolok.
" ular kelompok Biru! " aku terkesiap.
" ah, kau mengenaliku, Bocah! " ular itu merayap ke arahku, membuatku merapat ke dinding dengan ketakutan.
" jangan mendekat! apa kau yang mengirim ular itu untuk membunuhku?! "
ular Biru berdecak tidak sabar, " hanya orang bodoh yang mengirim hewan biasa untuk membunuh seorang ketua, terutama Ketua Putih! "
" kalau begitu mau apa kau kesini?! "
" bukankah seharusnya saya yang bertanya, Ketua Yang Agung? sedang apa anda di wilayah saya? " ular biru itu naik ke tempat tidurku. aku semakin merapat ke tembok. aku sangat ingat apa yang dikatakan Snaky tentang hewan pelindung kelompok. Mereka adalah hewan - hewan tertua dan terkuat diantara semua hewan di dunia ini. mereka memiliki intelegensia dan kebijaksanaan selayaknya manusia, bahkan lebih dari manusia. Ular biru ini bisa membunuhku dengan mudah.
" Ketua biru mengirimku ke sini. dia memiliki keyakinan bahwa ular suci Kelompok Putih sedang terluka, " ular Biru sekarang sudah sejajar dengan kakiku, " rupanya benar dugaan bocah itu, "
" apa yang kau mau dariku? "
" darimu? tidak ada. aku hanya ditugaskan untuk melindungi kau dan si tua Putih. selama kalian di wilayah kami, kalian adalah tamu kami. walaupun kalian masuk tanpa izin ke wilayah kami, "
" maafkan aku, aku harus melakukannya. Snaky butuh bantuan secepatnya, " aku menunduk
" Snaky? kau memberinya nama? menarik sekali. Kami hewan tua yang diagung - agungkan, tidak pernah memiliki nama sebelumnya. menarik juga kau ya. dan kekuatan yang tadi kau perlihatkan, hanya anggota Putih lah yang bisa membuat pelindung seperti yang kau buat tadi. kau membuatku terkesan. sepertinya di tua Putih dan Ketua yang sebelumnya tidak salah melihat kemampuanmu, "
" aku hanya anak jalanan biasa, "
" kupikir tidak, " ular Biru itu menelengkan kepalanya, " yah, aku juga ke sini untuk mengatakan padamu bahwa bocah botak Biru setuju untuk memberikan dukungan padamu, "
" benarkah? " aku terbelalak.
" kami menemukan sesuatu yang lebih penting dan lebih mengkhawatirkan dibanding pengangkatanmu. kami berpendapat untuk membiarkan waktu yang menunjukkan seberapa kuat kau bertahan sebagai penerus, "
" hal apa yang mengkhawatirkan? " tanyaku penasaran.
" ada pengkhianat di antara dewan Ketua, " ular Biru itu mengatakannya dengan gamblang, " orang yang sama yang mencoba membunuhmu dengan ular biasa itu, "
" si..siapa? "
" well, kami mencurigai satu kelompok. kecurigaan kami bertambah dengan adanya dia sebagai pendukung utamamu. ah, tapi lebih baik kau bertemu dengan seseorang yang lebih bisa menjelaskan daripada aku, " ular Biru menoleh dan dari pintu seekor ular lain merayap mendekat. kali ini ular berwarna abu - abu dengan belang hitam.
" maaf aku terlambat, " suara ular itu terdengar ragu - ragu. dia mendekatiku dan ular Biru dengan pelan, " Selamat Malam, Ketua, "
" naiklah lamban abu - abu. aku sudah harus pergi. kau bawa berapa lagi? " ular Biru itu melompat dari atas tempat tidur, sementara ular abu - abu yang baru datang merayap pelan ke dekat kakiku.
" aku membawa hewan suci Kelompok Hijau. tapi sepertinya dia tidak terlalu suka menempuh perjalanan denganku, " ular abu - abu itu terlihat gugup.
" jangkrik hijau itu memang tidak suka menempuh perjalanan dengan ular manapun, " suara ular biru terdengar tidak sabar, " katakan apa yang bisa kau ceritakan. aku harus menemui ketuaku dan menyusun rencana selanjutnya, "
aku mengamati saat ular biru itu merayap keluar dan menghilang dalam kegelapan. ular abu - abu di depanku menghela napas, " seperti biasa, si tidak sabaran itu, " gumamnya.
" a..apakah anda ular dari kelompok Abu - abu? " tanyaku.
" ah ya, " ular abu - abu itu mengangguk, " senang anda mengenali saya, Ketua. saya dan kelompok Saya adalah mata - mata negara. kami menyimpan semua informasi, "
" apa..yang bisa diceritakan kepadaku? "
" banyak hal, Ketua, " ular abu - abu itu mengangguk hikmat, " kami para pelindung mulai meyakini adanya gerakan mencurigakan dari Kelompok Kuning. Mereka sepertinya ingin membangkitkan sebuah mantra yang besar dan menggulingkan pemerintahan. karena itulah mereka menjadi pendukung pertama anda tadi siang. sepertinya anda sudah bertemu ular yang mereka kirimkan pada anda. saya bisa memastikan bahwa merekalah yang merapalkan mantra untuk memanggil hewan berbisa itu, "
" apa yang akan mereka lakukan setelah ini? mereka pasti sadar mereka gagal membunuhku, " aku mengerling bangkai ular coklat itu di lantai.
" mereka pasti sudah menyadarinya sekarang, Ketua. Saya merasakan pergerakan mereka. Mereka akan melepaskan wujud asli hewan - hewan suci dan memulai pertempuran dengan Kelompok Putih, "
" harus ada yang memberitahu Kelompok Putih! " aku terkesiap, " aku harus ke sana sekarang! "
" kami akan membawa anda ke sana, Ketua, " ular abu - abu itu mengangguk, " setelah ketua Biru melepaskan wujud asli hewan sucinya, kami akan membawa anda dengan segera ke wilayah Putih, "
" apa maksudmu 'melepaskan wujud asli'? "
" sudah siap berangkat? "
aku menoleh dan kali ini melihat seorang pria dengan tubuh tegap dan penutup mulut berdiri, bersender pada pintu yang terbuka. rambutnya panjang sebahu dan dia mengenakan pakaian kulit berwarna hitam. sebuah kalung bermata biru tergantung di lehernya.
" kau?! "
" kau jelas lebih menyukai wujud hewan melataku daripada versi yang ini, " pria itu tertawa, " nah, sekarang ayo kita pergi, "

***

" Ketua, baik - baiklah di sini. si abu - abu akan melindungi anda, " seorang pelayan berjubah putih menghampiriku dengan khawatir. beberapa pria berpakaian hitam dengan wajah mantap dan kalung beraneka warna menghampiriku dan membungkuk padaku. di sebelahku, seorang pria dengan pakaian terusan abu - abu berkalung abu - abu pekat membenarkan letak kacamatanya dengan gugup.
" berhati - hatilah kalian, " aku merasakan tenggorokanku kering. semua hewan suci dari semua kelompok telah berubah menjadi manusia dan mereka semua terlihat tangguh. tapi aku belum melihat wujud manusia dari ular Kuning yang akan mereka lawan. entah seperti apa wujudnya, sepertinya dia adalah lawan yang cukup berat.
" ketua tidak usah khawatir. peperangan seperti ini biasa terjadi. telah tertulis di kitab - kitab sebelumnya, " ular abu - abu yang kini dalam wujud pria gemuk berjubah abu - abu dan berkacamata membenarkan letak kacamatanya lagi.
" lalu apa tugas seorang ketua putih dalam peperangan seperti ini? " tanyaku cemas, mengintip dari jendela kuil tempat aku diamankan.
" ketua akan mengetahuinya sebentar lagi, "
terdengar suara pekikan angin dan sesuatu yang besar menghantam dinding kuil. aku berpegangan pada meja di depanku dengan kalut. sesuatu yang berwarna keperakan mulai berputar di sekeliling kuil, dengan kuil sebagai porosnya.
" ketua, aktifkanlah pelindung negeri. hanya ketua Putihlah yang bisa melakukannya, "
" a..apa?! " aku memandang sesuatu yang keperakan itu dengan kalut, " aku tidak tahu caranya! "
" bukankah seharusnya pelindung anda mengajari anda? " kali ini giliran si pria abu - abu yang panik
" Snaky tidak mengajariku apa - apa! "
" tapi Ketua, kalau Ketua tidak mengaktifkan pelindung, pertempuran ini tidak akan bisa kita menangkan! "
aku menggertakkan gigiku. pertama - tama secara sepihak aku dipilih jadi ketua. sekarang tiba - tiba secara sepihak aku disuruh mengaktifkan sesuatu yang bahkan tidak kumengerti!
aku merasakan kemarahanku memuncak dan angin mulai bertiup di kuil. sesuatu yang berwarna keperakan tadi mulai berputar lebih kencang. ular abu - abu bersorak, " ketua! sudah aktif! sekarang stabilkan energinya! "
" bagaimana caranya?! "
meja - meja dan kursi mulai terangkat dari lantai. aku harus berpegangan supaya tidak tertiup angin yang kubuat sendiri dan terpental; dari ruangan. bagaimana menghentikan ledakan energi ini?!
" tuan muda! fokus! "
suara mantap yang selama ini menyemangatiku membuatku menoleh. seorang pria tua dengan jubah putih bertongkat muncul di ambang pintu.
" Snaky? " aku menatapnya, tercengang.
" fokus! "
aku terlalu terkejut melihat Snaky dalam wujud manusianya, sampai - sampai aku baru menyadari sekarang perabotan sudah tidak lagi melayang di udara. angin sudah tidak bertiup sekencang tadi. aku baru menyadari suara pertempuran berkurang. aku berlari menghampiri Snaky dan memeluknya.
" kau tidak seharusnya di sini! "
" saya tidak bisa membiarkan tuan muda sendirian di sini, " pria tua itu balas memelukku, " anda melakukan hal yang hebat seorang diri, "
" aku tidak akan bisa kalau kau tidak datang, Snaky! "
Snaky tersenyum, " nah nah, sekarang mari kita lihat musuh - musuh yang sudah berani menyerang kita, Tuan muda, "


***


and i woke up from my dream 3 days ago...

Selasa, 15 April 2014

letter of happinness

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

" letter of happiness? "
Dokter Nia berhenti menulis di notesnya dan menatapku dengan tertarik. Aku tersenyum gugup dan mengangguk.
" itu tema projectnya. Tapi..sejujurnya saya sendiri tidak mengerti apa arti kebahagiaan. Apakah kebahagiaan itu sesuatu yang saya rasakan saat sedang..manic? "
 " menurut saya, kalau kita mendefinisikan kebahagiaan saat sedang berada dalam fase manic saja, itu adalah definisi yang..terlalu sempit, "
" kalau begitu, kebahagiaan itu_"
Kata –kataku terpotong oleh suara ketukan di pintu ruang praktek Dokter Nila. Seorang perawat membuka pintu dan meletakkan status medis pasien berikutnya di atas meja. Dokter Nila melirik jam tangannya dengan dahi berkerut.
" pasien berikutnya sudah menunggu ya, Dok? " aku menebak.
Dokter Nila tersenyum penuh sesal, " maaf ya Nasha. Apa masih ada hal – hal yang ingin Nasha sampaikan? "
Aku menggeleng, "  untuk saat ini belum ada, Dok "
Dokter Nila mengangguk mengerti dan menulis resep untukku. Aku memperhatikan saat ia dengan cepat menggoreskan berbagai nama obat dan dosisnya di atas secarik kertas persegi panjang, dan menyerahkannya padaku. Aku menjabat tangannya yang terulur.
 " sampai ketemu bulan depan, "
" sampai ketemu bulan depan, Dok "
***
Puluhan lampu belakang mobil yang berwarna merah seperti membakar mataku saat kendaraan – kendaraan itu mengantri di jalanan yang padat. Beberapa mobil membunyikan klakson dengan tidak sabar. Pejalan kaki berseliweran di pinggir jalan, masa bodoh dengan kekacauan kecil di samping mereka.
" Bali sekarang sudah seperti Jakarta ya, Mbak "
Supirku, Pak Tono, berkomentar sambil berdecak kesal. Jalanan yang seperti inilah yang menyebabkan aku malas menyetir sendiri ke rumah. Selain kaki pegal, hati juga pegal melihat kemacetan ini.
Ponselku berdering.  Nama dan foto Ibu muncul di layar. Aku buru – buru mengangkat telepon itu.
" Assalamualaikum Nasha. Kamu dimana, Nak? " suara ibu terdengar dari seberang sana. Aku membayangkan raut wajahnya yang khawatir.
" masih di jalan, Bu. Baru saja selesai dari rumah sakit. Kok Ibu tahu Nasha belum sampai rumah? "
" Setengah jam yang lalu ibu telepon Pak Tono, Nash. Kata Pak Tono kamu belum selesai dari dokter, "
" iya Bu, setengah jam yang lalu Nasha masih tunggu obat di apotek, " aku menjelaskan.
Pikiranku melayang ke percakapanku dengan Dokter Nila tadi. Tanpa sadar aku memotong kata –kata Ibu.
" Bu, buat Ibu kebahagiaan itu apa sih? "
Hening sesaat. Sama seperti aku yang kaget karena sudah memotong kata – kata Ibu, Ibu juga sepertinya kaget karena aku tiba – tiba bertanya seperti itu.
" kebahagiaan buat Ibu dan Ayah adalah keberadaan Nasha. Ada apa kok tiba – tiba bertanya seperti itu, Nak? "
Aku tergagap menjawab, " o..oh nggak bu. Nasha Cuma tanya aja. Sudah ya Bu. Nasha capek, mau tidur. "
Aku mematikan ponselku. Dari sudut mataku aku bisa melihat Pak Tono mengintip lewat kaca tengah mobil dengan wajah khawatir. Aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan kembali menatap ke jalanan yang mulai lancar. Mataku kembali terasa panas, kali ini bukan karena puluhan pasang lampu belakang mobil yang berwarna merah, tapi karena kata – kata Ibu barusan.
Ibu berbohong. Mana mungkin Ibu bahagia dengan keberadaan Nasha?
Mana mungkin orang tua bahagia punya anak sakit jiwa?
***
Aku menapaki jalan kecil yang dibatasi rumput di kedua sisinya. Langit berwarna biru keunguan dengan semburat jingga, memberi kesan menenangkan. Ditambah dengan penerangan dari lampu – lampu berwarna kekuningan di tempat – tempat makan berbentuk gubuk – gubuk lesehan yang nyaman, menjadikan restoran ini luar biasa nyaman.
" Nasha! Nasha! "
Aku menoleh dan melihat Tania menghampiriku dengan berlari – lari kecil. Rambut panjangnya yang hanya ditahan bando berkibar tertiup angin laut. Dia telah melepaskan blazernya, memperlihakan kemeja putih dengan style yang manis. Derap high heelsnya memecah suasana menenangkan yang tadi membuaiku.
" pesanannya sudah di antar. Kau mau jalan – jalan sampai kapan? "
" o ya? " aku tertawa sembari mengikutinya ke tempat duduk kami, sebuah ruangan yang menghadap ke laut dengan meja – meja lesehan yang nyaman, lengkap dengan tempat duduk berwarna biru yang terlihat empuk. Di meja, Sarah sudah menunggu dengan tenang dengan secangkir teh di hadapannya. 2 piring nasi dengan lauk bebek yang tampak garing menggiurkan tertata di meja kami. Sepiring cake coklat yang tampak menggiurkan terhidang di sisi meja tempat Tania duduk.
" bagaimana jalan – jalannya? " Sarah menarik piring ke arahnya, sementara Tania memainkan minuman berwarna menarik yang disajikan dalam gelas tinggi.
" menyenangkan sekali. Aku tidak tahu ada tempat makan seindah ini di Bali, " wajahku berseri – seri.
" ah, Temanku. Kau sangat kurang bergaul, " Sarah menggeleng – geleng dengan raut wajah prihatin yang dibuat – buat. Aku melempar gulungan tisu ke wajahnya yang dielakkannya dengan mudah.
" apa nama restoran ini? "
" ini Bebek Bengil di The Bay Bali, Nasha! " Tania memotong cakenya dengan lembut dan mengangsurkan sepotong padaku. Aku menerimanya dan dibuat tekejut dengan tekstur cake yang lembut di mulutku. Rasanya sangat pas. Manis, tapi tidak membuat mual. Untuk kali ini Tania sang sweet-holic berhasil membuatku kagum dengan pilihan makan malamnya.
" kau harus mencoba bebeknya, " saran Sarah. Dia sudah menghabiskan setengah bagiannya, dan kelihatannya tidak keberatan untuk menambah satu porsi lagi dan melupakan rencana dietnya.
Aku mengikuti saran Sarah dan langsung memelototi sahabatku itu dengan takjub, " oke Sar, ini bebek terenak yang pernah aku makan sepanjang aku tinggal di Bali! "
" i know, " Sarah sang tea-holic mengangkat cangkirnya dan tersenyum, " cheers for the best dinner?"
" cheers! " aku dan Tania menyentuhkan ujung gelas kami ke cangkir teh Sarah. Kami menikmati makan malam kami dalam diam. Suara debur ombak dan hembusan angin laut seperti lagu nina bobo yang membuaikan.
" kita harus datang di siang hari, " aku menatap laut yang gelap dari tempatku duduk. Debur ombaknya yang tenang membuatku tiba – tiba ingin berenang.
" kita akan datang untuk lunch, next time. " Sarah mengangguk setuju.
" dan beach activities untuk weekend, " Tania mengangguk bersemangat, " pasti menyenangkan. Bagaimana kalau bulan depan tanggal 10? "
Refleks, aku mengambil ponselku dan melihat aplikasi kalender. Sesi terapiku dengan dokter Nila selalu di tanggal 10, kecuali kalau tanggal 10 jatuh di hari Minggu. Aku mengerutkan kening, " sorry, aku nggak bisa kalau tanggal 10, "
Tania dan Sarah berpandangan penuh makna. Mungkin mereka ingin memberi kode satu sama lain, tapi mustahil bagiku untuk tidak menyadari kode rahasia mereka, karena aku duduk tepat di depan mereka.
" ada apa? " aku menatap Tania dan Sarah bergantian dengan penasaran.
Tania menatapku dengan ragu – ragu. 6 bulan kami bersahabat di kantor, aku mengenal pribadinya yang kekanak – kanakan dan sangat halus. Jelas sekali ada yang ingin dia katakan padaku, tapi kemungkinan besar hal itu akan membuatku tersinggung. Kali ini aku menoleh pada Sarah.
" sorry Nash. Kami berdua Cuma bingung. 6 bulan kita sahabatan, tapi kamu nggak pernah cerita kenapa kamu selalu ada jadwal setiap bulan, " dia menambahkan saat aku membuka mulut untuk membantah, " setiap tanggal 10, "
" kebetulan? " aku memberi alasan yang benar – benar lemah. Tania mengerang di seberang meja, sementara Sarah yang berwatak lebih keras, menatapku tajam.
" Natasha, tanggal 10 setiap bulan itu bukan kebetulan, "
" jadi sekarang aku lagi diinterogasi? " aku masih mencoba bercanda, tapi kedua sahabatku tidak bergeming.
" ada apa, Nasha? " kali ini Tania yang angkat bicara, " apa Nasha baik – baik saja? "
" kenapa kau berpikir aku tidak baik- baik saja? " kali ini gantian aku yang menatap mereka dengan curiga.
" karena kami menemukan ini terjatuh dari notes kerjamu 2 minggu yang lalu, "
Sarah merogoh tasnya dan mendorong secarik kertas ke hadapanku. Aku langsung mengenalinya sebagai copy resep obatku dari Dokter Nila.
" kenapa...Nasha punya obat dari psikiater? " Tania menatapku dengan mata coklat bulatnya yang besar dan lugu
Pandanganku terpaku pada kertas resep itu. Kenapa aku bahkan tidak menyadari kalau kertas ini menghilang dari notesku? Bodoh, Natasha! Bodoh sekali!
" Nash, kamu... " suara Sarah yang tertahan membuatku merasa semakin terpojok.
" iya! Iya gue gila! Lo berdua puas?! " aku menyambar kertas resep itu, meremasnya dengan geram, " iya, gue ke psikiater setiap tanggal 10, setiap bulan! Gue Bipolar dan ini obat – obat gue! "
Tania dan Sarah menatapku, tapi aku terlalu marah dan malu untuk menatap mereka. Rentetan kata – kata mulai keluar dari mulutku, seperti air bah.
" gue di mutasi dari Jakarta karena kinerja gue di kantor pusat jelek banget. Penyakit ini bikin mood gue nggak stabil. Gue sering nggak masuk. Kadang – kadang gue ngamuk di kantor, kadang – kadang gue bolos dari kantor karena gue depresi. Terakhir, mereka kirim gue ke sini karena ini! " aku menggulung lengan bajuku dan memperlihatkan bekas luka 5 cm di pergelangan tanganku.
" gue depresi, gue coba bunuh diri. Gue dibawa ke psikiater di Jakarta dan gue di diagnosa bipolar. Teman – teman kantor gue nggak mau punya partner kerja orang gila. Mereka minta gue di mutasi. Jadi sekarang gue di sini, " mataku kembali terasa panas. Aku menyambar tasku dan berdiri, menatap Tania dan Sarah yang menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan, " iya, gue gila. Gue tahu lo berdua jijik punya teman orang gila. Jangan salah, gue juga jijik kok sama diri gue sendiri!  "
Dan dengan kata – kata itu, aku meninggalkan kedua sahabatku tanpa menoleh lagi.
***
Apa itu kebahagiaan?
Perasaan senang meluap – luap saat mood sedang naik berlebihan, itukah bahagia?
Walaupun Ibu dan Ayah bilang keberadaanku berarti, itukah bahagia?
Persahabatan dengan Tania dan Sarah, itukah bahagia?
Apa itu 'bahagia'?
Aku menatap pergelangan tanganku, lalu menatap cutter di tanganku yang lain.
Apa perasaan ini juga disebut 'bahagia'?
Aku menggoreskan cutter itu ke pergelangan tanganku.
Slice demi slice,
Kejijikan demi kejijikan,
Kamu gila Natasha! Kamu tidak pantas untuk bahagia!
Tidak cukup dalam untuk membunuh, tapi cukup menyakitkan untuk membuatku baal. Rasa sakit yang menetes bersama butir – butir darah dari luka di tanganku seperti menyedot semua sakit di hatiku. Seperti kabut putih, membersihkan diriku dari semua perasaan negatif. Perasaan baal yang kurasakan ini..
Inikah 'bahagia'?
Dering telepon rumahku membuyarkanku dari keheningan. Aku membiarkan sang penelepon berhadapan dengan mesin penjawab telepon. Suara 'piiiip' tanda rekaman dimulai mengawali sebuah monolog yang membuatku tertegun.
" Mbak Nasha, ini Pak Tono. Waktu itu kan Mbak Nasha sempat tanya sama Ibu, kebahagiaan itu apa. Kalau saya boleh berpendapat, kebahagiaan itu adalah sebuah perasaan nyaman yang kita rasakan saat kita bicara pada Tuhan lewat doa.. Kebahagiaan itu adalah saat kita dimengerti. Lalu siapa yang dapat mengerti manusia selain penciptanya? Kebahagiaan itu adalah saat sesuatu tepat mengisi hati kita. Tapi tidak akan ada hal yang tepat untuk mengisi hati kita selain Tuhan. Kenapa? Karena Tuhan yang membuat hati kita, Tuhan juga pasti tahu persis bagaimana mengisinya dengan pas. kebahagiaan yang Mbak Nasha cari, sebenarnya tidak rumit, tidak juga jauh. Karena Tuhan tidak pernah menjauh dari kita. Kita lah yang menjauh dari Nya. Kita lah yang menjauh dari kebahagiaan itu sendiri, "
Ada sesuatu lagi yang menetes. Kali ini bukan cairan merah kental dari luka di tanganku, tapi air bening yang mengalir turun dari pipiku. Kata – kata Pak Tono terngiang di telingaku. Aku melempar cutter di tanganku dan meringkuk, memeluk lututku dan mulai menangis.
Kita lah yang menjauh dari kebahagiaan itu sendiri.
***
Dear God,
I have my happinnes in You. I was searching and questioning about happinness everytime and i always failed to get the answer. I failed because i don't know You are there all along. I seached it in the farthest place i can reached, i asked it to everyone i'd meet. But nothing can fill my heart like You do. You are the happinness i'd been looking for. You accept, understand, and love me as i am, with all of my flaws. You are the eternal happinness.You are more than enough.
 
Dokter Nila tersenyum dan meletakkan surat kecilku itu di atas mejanya. Aku belum pernah melihat Dokter Nila tersenyum selebar itu dalam sesi terapi bulanan kami.
" jadi, apa itu kebahagiaan menurut Nasha? " Dokter Nila mengembalikan surat itu padaku.
Aku mengambil suratku dan menjawab pertanyaan Dokter Nila dengan mantap.
" Kebahagiaan adalah saat kita menyadari Tuhan mencintai, mengerti, dan menerima diri kita apa adanya, "
Dokter Nila mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku dengan hangat, " saya senang Nasha berhasil menemukan arti kebahagiaan untuk Nasha. Dan arti kebahagiaan bagi Nasha itu sangat indah. Hari ini, Nasha telah memberikan saya satu pelajaran yang sangat berharga, "
Aku merasakan wajahku memerah dan aku menunduk dengan gugup saat Dokter Nila menulis resep obatku. Dering ponsel memecah keheningan ruang praktek Dokter Nila. Aku buru – buru merogoh ponsel di tanganku dan menekan tombol reject. Aku tersenyum minta maaf pada Dokter Nila.
" Nasha sudah ada yang menunggu? " Dokter Nila menyerahkan resepku hari ini.
" i...iya Dok, " aku menerima resepku dan memasukkannya ke dalam tas, " saya ada janji makan malam dengan 2 sahabat saya. Sepertinya mereka sudah menjemput saya di luar ruang Dokter, "
" o ya? Bagus sekali. Have a good dinner Nasha. Sampai bertemu bulan depan, "
" sampai bertemu bulan depan, Dok. "
 
                                                                      ***