alkisah sebuah desa di luar sana. penduduknya tidak akur, dan memiliki kebiasaan untuk melakukan debat kusir setiap minggu, membahas permasalahan desa yang berakhir dengan membahas permasalahan pribadi setiap warganya, saling tuduh, bergosip, dan hal - hal buruk lainnya.
di saat semua warga desa telah hidup dengan mental yang sangat buruk itu, anak - anak muda di desa itu mencoba untuk melakukan pembaruan, meredakan ketegangan di desa mereka. mereka mulai membuat sebuah lomba untuk menghias aula desa yang sudah lama tidak digunakan.
setiap bagian desa harus turut serta.
anak - anak muda di desa itu bekerja dengan sangat bersemangat. mereka mengirim anggotanya ke kota untuk mencari benda untuk mempercantik desa mereka.
dan disinilah ceritanya akan dimulai...
alkisah seorang anak autis yang lamban mendapatkan tugas untuk pergi ke kota malam itu.
perlombaan akan di mulai besok dan seorang temannya yang bossy memaksanya untuk mencari beberapa barang yang hanya ada di kota terdekat.
akhirnya dengan menumpang mobil yang akan berangkat ke kota, anak autis itu berangkat.
di kota dia sampai di sebuah pusat perbelanjaan yang mewah. dia tidak menyukai keramaian dan takut akan keramaian itu sendiri.
dia mulai bertanya - tanya kenapa temannya memintanya untuk ke kota sendirian malam itu. dia bahkan tidak tahu harus pulang dengan apa malam itu.
tapi dia melaksanakan tugasnya dengan baik.
saat kebingungan akan pulang, dia melihat beberapa orang mengobrol di balik tiang pualam pusat perbelanjaan yang mewah itu. secara instingtif dia menghampiri orang - orang itu untuk menanyakan jalan.
ada seorang wanita dengan rambut pendek yang berwajah ceria, seorang pria yang ramah, dan seorang pria yang terlihat lebih tua dari teman - temannya dan terlihat sangat tegang.
wanita berambut pendek yang ceria itu menyadari pandangan ingin tahu anak autis itu dan mengundang anak itu untuk mengobrol dengan mereka.
malam semakin larut dan mall besar itu akan di tutup.
wanita itu terlihat tegang. dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan berkata pada anak autis itu:
" bersembunyilah di sini. apapun yang akan terjadi, tetaplah di sini"
" apa yang akan terjadi? " tanya anak autis itu.
" maaf sudah melibatkanmu dalam hal ini, " pria yang ramah itu tersenyum.
dia mengeluarkan benda yang sama dengan yang wanita itu keluarkan. mereka mulai mengendap - endap keluar dari balik tiang.
terdengar suara tembakan dan ledakan. anak autis itu menutup telinganya denga ketakutan.
rentetan tembakan, dan dia melihat teman - teman barunya mulai menembak orang - orang berkostum hitam di sebrang mereka.
pria yang lebih tua terlihat marah padanya, " apa yang kau lakukan?! bergabunglah dengan mereka dan bunuh mereka sekarang! "
" aku tidak bisa membunuh! " anak autis itu benar2 ketakutan.
"kau bisa membunuh! kau adalah pembunuh bayaran. kami meminta pemerintah untuk mengirimkan pembunuh terbaik untuk membunuh mata2 dari negara lain dan mereka mengirimkan kau pada kami! "
" aku bukan pembunuh! aku dari desa, temanku menyuruhku membeli bahan2 untuk perlombaan besok! " kali ini anak itu benar - benar menangis.
" tidak, kau adalah pembunuh bayaran. pemerintah menghapus ingatanmu dan mengirimmu ke desa untuk bersembunyi. kau bisa membunuh mereka. kau hanya melupakan bagaimana caranya! "
terdengar suara teriakan dan anak itu melihat salah satu temannya_pria dengan wajah ramah_tertembak. pria yang lebih tua terlihat geram dan mendorong anak itu ke bawah meja, menjejalkan sebuah senapan di tangan anak itu dan berkata " ingatlah bagaimana cara membunuh. hanya kau harapan kami, ", sebelum dia menghilang membantu wanita berambut pendek yang mulai kewalahan dihujani rentetan peluru.
anak itu terdiam dalam persembunyiannya, menatap senapan di tangannya dengan ketakutan.
menyusuri bentuk senapan itu, dia menyadari dia pernah menggunakannya.
ya, dia ingat bagaimana menembakkan benda itu, dia ingat bagaimana dia dilatih sebagai seorang pembunuh.
dia ingat bagaimana dia di kurung di sebuah lab, orang - orang dengan jubah putih menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya. sejak itu dia bisa bergerak cepat. dia bisa menembak siapapun di hadapannya.
dia ingat.
tapi dia tidak ingin melakukan itu lagi.
bagaimana dia merindukan desanya yang jauh dari mana - mana.
dia merindukan menghias aula, bagaimana dia tidak sabar untuk perlombaan besok.
dia tidak ingin ingat.
bagaimana cara membunuh.
sebuah tangan yang kasar menariknya keluar dari persembunyian. mereka meringkusnya dengan cepat, mengamankan senapan di tangannya. dia melihat wanita berambut pendek tadi di perlakukan dengan sama. pria tua itu diikat dalam keadaan tidak sadar.
" kalian adalah tawanan. kalian akan melihat bagaimana negara kalian di hancurkan. karena kami besok akan datang dan melakukan penyerangan, "
seorang wanita dengan wajah jahat tertawa puas di hadapan dia dan teman barunya.
orang - orang dengan kostum hitam itu menyeretnya dan teman barunya, melemparkan mereka ke dalam sebuah van berwarna putih. van itu di jalankan dan mereka berdua dalam keadaan terikat, saling memandang dengan wajah putus asa.
" kenapa kau tidak mengingatkanku begitu aku menghampiri kalian tadi? " tanya anak itu.
wanita berambut pendek itu tersenyum. wajahnya penuh memar dan dia terlihat lelah, " karena melihat senyummu, aku tahu kau tidak akan ingin membunuh lagi, "
" benarkah mereka akan menyerang negara ini? "
" ya, mereka akan melakukannya. tugasku dan tim ku adalah menghabisi mata - mata dari negara lain agar perang tidak dimulai. kurasa kami gagal, "
" lalu sekarang bagaimana? "
van itu tiba2 berhenti dan terdengar suara perkelahian dari luar. tiba2 pintu van terbuka dan pria dengan wajah ramah itu berdiri di hadapan mereka. dia terlihat senang.
" aku senang kalian masih hidup, " dia maju dan memotong tali yang mengikat anak itu dan rekannya.
" kupikir kau sudah mati! " wanita itu terlihat sangat terkejut.
" oh, aku tidak akan mati secepat itu hanya karena satu tembakan, " pria itu tertawa santai, " tapi kurasa kita benar2 sedang dalam masalah serius. kita harus segera memberi tahu pemerintah bahwa mereka akan menyerang pagi ini. kita harus mengumpulkan sebanyak mungkin pasukan. mereka akan segera bergerak, "
" aku tahu dimana tempat kita bisa memperoleh pasukan, " wanita itu terlihat bersemangat.
maka mereka bertiga membawa van itu ke sebuah perkampungan kumuh. dimana mereka melihat sekumpulan pemuda sedang memancing.
" siapa mereka? " anak itu bertanya.
" mereka adalah mantan narapidana. mereka bersumpah untuk membela negara saat negara dilanda peperangan sebagai penebusan atas kesalahan yang sudah mereka lakukan di masa lalu. mereka akan menjawab panggilan kita, " wanita itu menjawab dengan sangat yakin. dia menghampiri kumpulan pemuda itu dan berteriak, " siapa pemimpin di sini? "
seorang pemuda berkepala botak dengan pakaian robek berdiri dan menghampiri wanita itu. dia hanya menatap dengan wajah sedih dan bertanya, " apakah kami sudah harus pergi? "
" ya. penuhi sumpah kalian dan berjuanglah membela negara kita, "
para pemuda di sekeliling kolam itu mulai berdiri. mereka terlihat bersemangat sekaligus tegang. tapi pemimpin mereka tetap terlihat sedih.
" sekarang kami telah memiliki kehidupan. kami memiliki apa yang kami ingin lakukan. haruskah itu semua kami tinggalkan? "
beberapa pemuda mulai terlihat ragu2 mendengar kata2 pemimpin itu. tapi beberapa orang tetap terlihat teguh dengan pendiriannya.
" penuhilah sumpah kalian! " wanita itu mengeraskan suaranya.
pemimpin itu menoleh kepada anggota2 nya dan berkata " aku tidak akan memaksa. penuhilah sumpah yang kalian buat. tapi bila kalian tidak bisa, tetaplah di sini, "
seorang pemuda menghampiri pemimpinnya. wajahnya terlihat mantap.
" ibumu akan sangat kehilanganmu, " pemimpin itu mengingatkan. pemuda itu tersenyum dan menggeleng, " sumpah adalah sumpah. ibuku akan bangga karena aku membela negaraku sendiri"\
mendengar kata2 pemuda itu, teman2 nya yang tadinya terlihat ragu mulai tersenyum dan memasang wajah mantap. wanita itu mengangguk dan mengucapkan selamat tinggal pada pemimpin itu dan mereka mulai melanjutkan perjalanan melalui jalanan kampung yang kecil dan sempit, mengajak sebanyak mungkin orang untuk berjuang.
kelompok kecil itu mulai bertambah, dan setiap orang semakin bersemangat.
matahari mulai terbit dan mereka mulai sampai di tempat pertempuran: pegunungan kapur di pinggir kota.
jauh di atas gunung kapur itu terlihat sekumpulan prajurit musuh, membawa panji - panji negara mereka.
wanita itu berbalik dan berkata dengan tenang, " kita akan maju dan kita akan mati. tapi pastikan kematian kita tidak sia - sia. bunuh sebanyak mungkin, jangan biarkan musuh mencapai ibu kota. habisi mereka di sini. korbankan nyawa kalian. di sini! "
anak itu menyadari mereka kalah jumlah, mereka akan mati.
saat mereka bergerak maju, anak itu memisahkan diri.
tidak, dia tidak akan membunuh dari depan. dia akan mencari jalan memutar dan membunuh dari belakang.
dia tidak akan menyia - nyiakan hidupnya.
dia akan menang, tapi dia tidak boleh mati.
karena dia harus kembali ke desanya lagi.
dia menemukan jalan memutar, tapi dia di cegat oleh sekumpulan robot putih; senjata pembunuh musuh yang tidak kenal ampun.
mereka menembakinya, dia berkelit dengan cepat. robot2 itu mengtirimkan misil dan meledakkan diri untuk mengenainya. mereka semua berkumnpul dengan satu misi: membunuhnya.
satu tembakan menghempaskannya ke belakang dan dia tidak bisa lagi bergerak.
dia diam, menantikan ajalnya.
ya, dia akan mati.
tapi dia telah membantu kawan2 nya.
keberadaannya telah memanggil robot2 pembunuh itu untuk menyerangnya. kawan2nya tidak akan menghadapi robot2 itu lagi.
biar robot2 itu di sini untuk meledakkan diri di sini, untuk meledakkannnya.
sesuatu mencengkeramnya, dan menghempaskannya ke sebuah pesawat kecil.
diantara kesadarannya yang semakin menipis, dia mendengar suara seorang pria tua.
" robot2 bodoh. dia sudah mati. apalagi yang kalian cari? pergi! "
dia bisa melihat dari sudut matanya robot2 pembunuh yang tersisa itu berhenti bergerak dan mulai kembali ke pos masing2.
pria tua itu menghembuskan nafas kesal dan menatapnya, " berterima kasihlah karena aku sudah menolongmu anak muda bodoh, "
lalu semuanya menjadi gelap...
saat dia membuka mata, dia seperti merasakan de javu.
dia berada di sebuah lab kecil. dan pria tua di depannya sedang merakit sesuatu yang terlihat rumit.
dia merasa sangat lemah, tapi dia berhasil mengeluarkan sebuah suara yang cukup untuk membuat pria tua itu menoleh padanya.
" ah, jadi kau sudah bangun? "
" siapa kau? dan kenapa kau menolongku? "
" aku? apa kau melupakan orang yang sudah menciptakanmu? "
" kau? menciptakan manusia? apa kau tuhan? "
" manusia? " pria tua itu tertawa, " sejauh mana pemerintahmu merusak program yang kubuat dalam kepalamu sampai kau melupakan dirimu sendiri? "
" apa maksudmu? "
" kau bukan manusia. kau adalah hasil karyaku yang terbaik. robot pembunuh nomor 1. pemerintahmu mencuri kau dari negaraku dan mengubah sistem ingatanmu. mereka menanamkan bahwa kau adalah manusia. tidak sayangku, kau bukan manusia. kau adalah buatanku yang terbaik. tidakkah kau pernah bertanya kenapa kau begitu ahli dalam membunuh? karena itulah tujuanku membuatmu! " pria tua itu tertawa seperti orang gila, " kudengar pemerintahmu menjadikan kau sebagai pembunuh bayaran. tidak heran. kau begitu sempurna. buatanku yang begitu sempurna, "
" tapi mereka membuatku tinggal di sebuah desa. dan di sana aku tidak lagi membunuh..."
" ya, aku mendengar kabar itu. mereka menyembunykanmu di desa itu. mereka menyembunyikanmu dari ku! mereka lagi2 mengubah ingatanmu. aku memeriksa ingatan terbarumu dan mereka merendahkan hasil karyaku dengan mengubah sistemmu menjadi mode 'anak tolol yang lamban dan tidak bisa melakukan apapun'! betapa rendah apa yang pemerintahmu lakukan padamu, karya besarku! "
anak itu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. kebenaran yang mana yang harus dia percaya?
siapa dia?
anak autis dari sebuah desa nun jauh di sana? atau kah mantan pembunuh bayaran yang di istirahatkan pemerintah? atau sebuah robot pembunuh dari negara lain yang mengalami modifikasi ingatan?
satu hal..
dia merindukan sungai dan pegunungan di desanya.
dia tidak ingin..
membunuh lagi...
dia tidak tahu berapa lama dia berada di rumah pria tua itu.
tapi hari2 yang dia lewatkan di sana, membuatnya semakin sadar.
dia mengenali pria itu,
anehnya, dia menyayangi pria itu.
pria itu adalah sosok ayah yang pernah dia kenal.
mungkin seseorang telah mengubah ingatannya sedemikian rupa sehingga dia melupakan pria itu tp dia tidak pernah bisa melupakan betapa pria tua itu telah membuatnya begitu nyaman.
saat ini, dia tidak peduli seberapa banyak ingatan palsu yang di tanamkan di otaknya.
karena saat ini, dia telah mendapatkan rumah tempat untuk kembali.
" selama kau di sini, perang telah berakhir, "
dia menoleh dari lamunannya saat pria tua itu mendekat dengan tertatih - tatih, sambil menghisap cerutu.
" siapa yang menang? dan siapa yang kalah? "
pria itu mengepulkan asap cerutunya, " negaramu menang. dan mereka mencarimu, "
" apakah mereka tahu aku berada di sini? "
" oh, tentu mereka akan curiga. kita hanya bisa menghitung mundur sampai mereka mengobrak abrik rumah ini dan mengambilmu kembali, "
" apa kau akan kehilangan aku? "
pria tua itu tidak menjawab. dia menghisap cerutunya dalam diam.
maka anak itu kembali ke dalam lamunannya.
" aku memiliki cucu yang kusayangi. besok dia akan datang ke sini untuk menjengukku, "
anak itu menoleh dan melihat pria itu telah mematikan cerutunya.
" jika tentara negaramu datang, pergilah bersama cucuku. pergilah yang jauh, "
" aku akan melakukannya, "
" sekarang kembalilah ke lab. aku akan melakukan beberapa perubahan pada programmu. untuk persiapan besok, "
" baiklah, "
anak itu bangkit berdiri dan mulai berjalan perlahan.
dia tidak mengharap untuk disayangi.
bagaimanapun, dia hanyalah mesin pembunuh.
dia tidak ingat perubahan apa yang dilakukan pria tua itu padanya semalam, tapi saat membuka mata, dia melihat seorang anak perempuan yang tampak seumuran dengannya, sedang memeluk pria tua itu. mereka mengobrol dengan sangat seru, sampai - sampai dia tidak tega untuk memotong pembicaraan mereka.
tiba - tiba sebuah alarm berbunyi, mengirimkan ketegangan di seluruh penjuru rumah kecil itu.
tanpa banyak kata, pria tua itu menggendong cucu nya yang ketakutan dan meletakkannya dalam pelukan anak itu. dia membuka jendela dan berkata dengan tenang
" bawa cucuku pergi. sekarang kau bisa terbang, dan kau bisa menghilang untuk beberapa waktu. pergilah, dan mulailah hidup yang baru, "
anak perempuan itu mulai menangis dan berusaha meraih kakeknya, tapi anak itu menahannya.
terdengar suara pintu di rusak dan suara orang berteriak - teriak dengan kasar di luar ruangan.
" pergilah kalian berdua! "
anak itu memeluk erat cucu perempuan pria tua itu dan merasakan dorongan pada kedua kakinya. dia mulai melayang.
saat dia melesat keluar dari jendela, dia mendengar orang - orang meringkus pria tua itu.
dan kata - kata terakhir pria tua itu membuatnya meneteskan air mata.
" anak bodoh, aku menyayangimu. aku menyayangi kalian berdua! "
***
and me, woke up, and felt so desperate...
hope that boy and girl can survive wherever they are now...
Kamis, 16 Januari 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar