Rabu, 14 Januari 2015

putri peri dan sang raksasa

" nona! nona! anda mau kemana? "
aku menoleh dan mengernyit pada pelayanku, " ssst..berisik! "
" maaf..maaf.. " gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya, " tapi anda mau kemana? "
aku mengendap - endap seperti kucing dan mengintip dari balik semak - semak. barisan pria bersenjata melewatiku dengan tubuh tegap
" dimana dia.. " aku bergumam tidak sabar.
" siapa yang anda cari nona? " pelayanku mendesakkan diri di sampingku, ikut mengintip dari balik semak - semak.
" raksasa sialan itu! mentorku! "
" mungkin dia ada di belakangmu, mengawasimu mengendap - endap daritadi, " suara yang sudah familiar di telingaku menyapa dari belakang. aku tersentak dan menoleh, untuk mendapati mentorku berkacak pinggang dengan satu alis terangkat.
" oh, hai! " aku buru - buru berdiri dan melemparkan cengiran padanya, " kukira kau sudah berangkat! aku berniat untuk mengucapkan selamat tinggal atau sejenisnya, "
pria tinggi di depanku itu mengangkat kedua alisnya, jelas - jelas tidak percaya, " kukira aku baru saja mendengarmu mengataiku raksasa sialan, "
aku nyengir bersalah. sudah menjadi tradisi setiap putri kaum peri untuk berada di bawah pengawasan seorang guru yang berasal dari kaum raksasa. kaum raksasa yang memiliki fisik luar biasa adalah satu - satunya ras yang dapat menandingi sihir kaum peri. sebagai putri pertama kerajaan peri, aku harus bekerja sama dengan mentorku, seorang prajurit raksasa yang keras kepala dan pemberengut. kami selalu bertengkar. aku sendiri tidak mengerti kenapa diantara sekian banyak kaum raksasa terpelajar yang dikirim ke negeri peri, aku malah harus mendapat mentor yang menyebalkan seperti ini.
" kurasa kau saat ini sedang bahagia karena aku akan segera meninggalkan negeri ini, " mentorku menghela napas
" aku tidak bisa berkata aku sedih karena kepergianmu, " aku mengangkat bahu, " tapi akan kupastikan saat kau kembali setidaknya kau akan memberiku satu pujian, "
mentorku tersenyum penuh arti, " kita lihat saja nanti, tuan putri, "


***


aku memandang keluar jendela dengan bosan. sudah seminggu sejak kepergian mentorku. para kaum raksasa dipanggil kembali ke istana mereka di atas gunung untuk berperang dengan kerajaan tetangga mereka. kaum peri juga membantu. istana sekarang sangat sepi. ibu sudah menawarkanku untuk belajar dengan mentor peri lain, tapi entah kenapa belajar tanpa si raksasa pencemberut itu terasa salah.
terasa berbeda.

terdengar suara ketukan di pintu. wajah adikku muncul di ambang pintu
" apa kau mau bermain? "
" tidak, " aku mengabaikannya
" kami ingin berenang di pemandian air panas. ibu bilang kau harus belajar menciptakan ruangan dan gedung dengan sihirmu sendiri, "
" lalu? "
" ibu bilang kau harus belajar arsitektur ruang pemandian, "
yang benar saja! ruang pemandian? apa hebatnya menciptakan ruangan tempat mandi? aku bisa menciptakan sebuah istana. beberapa hari sebelum mentorku pergi, kami telah berhasil mencoba membuat sebuah istana kecil bertingkat dua dengan ruang bawah tanah di dalamnya, berasal dari kehampaan dan kembali ke kehampaan saat aku memerintahkannya. mentorku memberi ide agar istana itu dirahasiakan sampai ulang tahunku yang ke 17 dan akan diperlihatkan pada pesta perayaan ulang tahunku. ayah pasti senang melihatnya.
" tidak ada gunanya kau terus meratapi raksasa itu, " celetuk adikku.
aku merasakan wajahku memerah, " aku tidak memikirkannya sedetikpun, "
" kau menyukainya! mengaku sajalah! " adikku tertawa
" tidak! "
" kalau begitu ayo berangkat ke pemandian! atau aku akan menyebarkan pada semua orang kalau kau sedang meratapi kepergian mentormu tersayang dan mengurung diri di kamar! " adikku membanting pintu. aku mendengar suara tawa adikku dari balik pintu.
aku menghela napas. pikiranku kembali ke beberapa hari yang lalu. saat pertama kali aku dan mentorku mengetahui sejauh mana kekuatanku bisa menciptakan sesuatu dari kehampaan, kami mengeksplorasi istana itu, memasuki setiap ruangan di dalamnya. saat kami sampai di ruang bawah tanah, mentorku mengambil sebuah kunci yang tergantung di sel yang kubuat dan mengacungkannya di depanku.
" ini satu - satunya rincian yang bisa kau buat di istana suram ini, "
aku menyambar kunci itu dengan marah, " setidaknya aku bisa membuatnya! kau kaum raksasa tidak pernah melihat sihir kaum peri dengan cukup! "
" karena sihirmu memang belum cukup! " mentorku menggeleng, " sekarang berikan kunci itu dan kita lihat apa yang bisa kulakukan dengan istana ini..."


***


pemandian itu sesak dan penuh dengan wanita - wanita telanjang yang menyabuni tubuh mereka di bawah pancuran. aku duduk di pojok ruangan dengan bosan. aku bahkan tidak menanggalkan pakaianku, hanya mengamati adikku dan teman - temannya bermain air. wanita di sebelahku mematikan pancurannya dan masuk ke ruang ganti. aku mendengar wanita lain masuk ke ruang ganti dan suara obrolan mereka dari balik bilik.
" kudengar raja akan memutuskan hubungan kerjasama dengan kaum raksasa, "
" bukankah putri pertamanya masih melanjutkan studi dengan mentor raksasanya? "
" mentor itu telah diperintahkan pergi. peperangan kaum raksasa adalah muslihat. raja yang mengaturnya. di perjalanan raja akan menyerang kaum raksasa dan membunuh mereka semua. "
" astaga! itu ide yang sangat bagus! sudah lama aku bosan melihat pria - pria raksasa berkeliaran di sekitar istana! mereka barbar! kita bangsa peri tidak seharusnya bekerja sama dengan makhluk rendah seperti mereka! kapan penyerangan akan dilakukan? "
" para raksasa itu akan kembali hari ini ke wilayah kita. mereka akan dihabisi beberapa jam lagi. tidakkah itu bagus? "
aku merasakan darahku seperti mendidih. ayah! ayah merencanakan untuk membunuh semua kaum raksasa! dan mentorku! aku tidak bisa membiarkannya!
aku berlari keluar, menerobos kerumunan dan pengawal - pengawal. beberapa orang mengenaliku, memanggil namaku. sebagian yang lain hanya mengenaliku sebagai anak perempuan aneh yang berlari kesetanan keluar. aku mencari kereta kuda yang tadi mengantarku ke pemandian. dimana mereka saat dibutuhkan?!
dari tempatku berdiri aku bisa melihat kepulan asap di udara. para prajurit istana sedang berderap keluar wilayah! aku menyambar kuda yang tertambat di dekat tempatku berdiri dan menaikinya. nyaris mustahil sampai lebih dulu ke tempat para raksasa dibanding prajurit istana yang memang sudah dilatih untuk membunuh para raksasa. percuma aku mencoba untuk memperingatkan mentorku. aku tahu! tapi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, mati karena perbuatan jahat ayahku!
aku tidak bisa!


***


" aku akan menulis namaku di sini, " dengan kunci itu mentorku menggoreskan namanya di dinding penjara bawah tanah
" hei, kau merusak properti ciptaanku! " aku memprotes
" lalu aku akan menuliskan namamu di sampingnya, " mentorku mengabaikanku. dia melemparkan kunci itu padaku, " cobalah hapus detail ini, dimulai dengan namamu, lalu namaku. saat kau belajar untuk menghapus detail dalam ciptaanmu, kau akan dengan sendirinya belajar untuk menambahkan detail dalam ciptaanmu ini, "
aku menatap nama kami berdua dalam temaramnya ruang bawah tanah
" hei, kurasa nama kita berdua tidak buruk juga kalau disandingkan, "
mentorku mengangkat alis, " memang tidak, "


***


asap dan api.
darah dan mayat.
saat kaum peri dan raksasa berperang, selalu jatuh banyak korban dari kedua pihak.
tapi daritadi aku belum menemukan mayat mentorku. memegang sebuah harapan dia masih hidup, aku terus mencari di sisa - sisa pertempuran itu. lelah dan belepotan tanah, aku menyusuri tanah peperangan itu dan mulai meneriakkan namanya.
sesuatu menjegalku dan menyeretku ke sebuah lubang. aku membuka mulut untuk berteriak, tapi mengurungkan niat saat melihat mentorku yang membekapku. aku menghembuskan napas lega.
" apa yang kau lakukan di sini?! "
" aku mencarimu! " aku menatap mentorku. dia terlihat baik - baik saja, hanya sedikit terluka. mataku langsung berair karena lega.
" kau bisa terbunuh! ini medan perang! " mata mentorku mengeras, " pergi! "
" kau juga bisa terbunuh! ayo kita pergi dari sini! " aku mengamit tangannya, tapi mentorku menggeleng
" ayahmu mengkhianati perjanjian dengan kaumku. aku tidak bisa kembali ke negerimu lagi. aku akan kembali ke negeriku, "
" aku ikut, " aku merasakan suaraku berubah serak, " aku tidak mau meninggalkanmu! "
mentorku menatapku dengan terkejut, kemudian pandangan matanya melembut, " pergilah ke ruang kehampaan dan selamatkan dirimu, "
" tapi_ "
suara jeritan dan raungan perang pecah di atas sana. seseorang melongokkan kepalanya ke lubang persembunyian kami dan menyerukan sesuatu. suara panah adalah suara terakhir yang kudengar sebelum aku terlempar ke ruang kehampaan.
dengan sisa kekuatannya, raksasa pemberengut itu telah menyelamatkan nyawaku.


***


aku menyentuh goresan namaku di samping goresan namanya.
aku tidak bisa menghapusnya.
bahkan dengan semua kekuatan peri yang kupunya, aku lebih memilih menghancurkan istana ini daripada menghapus namanya.
aku menghapus air mataku dan melangkah keluar istana itu.
ibu dan ayahku menatap istana itu dengan kagum dan memelukku.
" kau mempunyai kekuatan yang menakjubkan! " ibuku tersenyum senang
" ayah bangga padamu! "
" tapi detail di istana ini kurang, " ibu mengomentari, " dan apa yang menyebabkanmu begitu lama melihat ruang bawah tanah? seorang tuan puteri di hari ulang tahunnya tidak pantas menghabiskan waktu begitu lama di ruang suram seperti itu! "
" ayo kita pergi, " ayah mengangguk padaku.
aku meninggalkan istana itu, membiarkan istana itu menghilang seperti kabut di belakangku.
kembali ke kehampaan.

0 komentar: