Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!
" letter of happiness? "
Dokter Nia berhenti menulis di notesnya dan menatapku dengan tertarik. Aku tersenyum gugup dan mengangguk.
" itu tema projectnya. Tapi..sejujurnya saya sendiri tidak mengerti apa arti kebahagiaan. Apakah kebahagiaan itu sesuatu yang saya rasakan saat sedang..manic? "
" menurut saya, kalau kita mendefinisikan kebahagiaan saat sedang berada dalam fase manic saja, itu adalah definisi yang..terlalu sempit, "
" kalau begitu, kebahagiaan itu_"
Kata –kataku terpotong oleh suara ketukan di pintu ruang praktek Dokter Nila. Seorang perawat membuka pintu dan meletakkan status medis pasien berikutnya di atas meja. Dokter Nila melirik jam tangannya dengan dahi berkerut.
" pasien berikutnya sudah menunggu ya, Dok? " aku menebak.
Dokter Nila tersenyum penuh sesal, " maaf ya Nasha. Apa masih ada hal – hal yang ingin Nasha sampaikan? "
Aku menggeleng, " untuk saat ini belum ada, Dok "
Dokter Nila mengangguk mengerti dan menulis resep untukku. Aku memperhatikan saat ia dengan cepat menggoreskan berbagai nama obat dan dosisnya di atas secarik kertas persegi panjang, dan menyerahkannya padaku. Aku menjabat tangannya yang terulur.
" sampai ketemu bulan depan, "
" sampai ketemu bulan depan, Dok "
***
Puluhan lampu belakang mobil yang berwarna merah seperti membakar mataku saat kendaraan – kendaraan itu mengantri di jalanan yang padat. Beberapa mobil membunyikan klakson dengan tidak sabar. Pejalan kaki berseliweran di pinggir jalan, masa bodoh dengan kekacauan kecil di samping mereka.
" Bali sekarang sudah seperti Jakarta ya, Mbak "
Supirku, Pak Tono, berkomentar sambil berdecak kesal. Jalanan yang seperti inilah yang menyebabkan aku malas menyetir sendiri ke rumah. Selain kaki pegal, hati juga pegal melihat kemacetan ini.
Ponselku berdering. Nama dan foto Ibu muncul di layar. Aku buru – buru mengangkat telepon itu.
" Assalamualaikum Nasha. Kamu dimana, Nak? " suara ibu terdengar dari seberang sana. Aku membayangkan raut wajahnya yang khawatir.
" masih di jalan, Bu. Baru saja selesai dari rumah sakit. Kok Ibu tahu Nasha belum sampai rumah? "
" Setengah jam yang lalu ibu telepon Pak Tono, Nash. Kata Pak Tono kamu belum selesai dari dokter, "
" iya Bu, setengah jam yang lalu Nasha masih tunggu obat di apotek, " aku menjelaskan.
Pikiranku melayang ke percakapanku dengan Dokter Nila tadi. Tanpa sadar aku memotong kata –kata Ibu.
" Bu, buat Ibu kebahagiaan itu apa sih? "
Hening sesaat. Sama seperti aku yang kaget karena sudah memotong kata – kata Ibu, Ibu juga sepertinya kaget karena aku tiba – tiba bertanya seperti itu.
" kebahagiaan buat Ibu dan Ayah adalah keberadaan Nasha. Ada apa kok tiba – tiba bertanya seperti itu, Nak? "
Aku tergagap menjawab, " o..oh nggak bu. Nasha Cuma tanya aja. Sudah ya Bu. Nasha capek, mau tidur. "
Aku mematikan ponselku. Dari sudut mataku aku bisa melihat Pak Tono mengintip lewat kaca tengah mobil dengan wajah khawatir. Aku memasukkan ponselku ke dalam tas dan kembali menatap ke jalanan yang mulai lancar. Mataku kembali terasa panas, kali ini bukan karena puluhan pasang lampu belakang mobil yang berwarna merah, tapi karena kata – kata Ibu barusan.
Ibu berbohong. Mana mungkin Ibu bahagia dengan keberadaan Nasha?
Mana mungkin orang tua bahagia punya anak sakit jiwa?
***
Aku menapaki jalan kecil yang dibatasi rumput di kedua sisinya. Langit berwarna biru keunguan dengan semburat jingga, memberi kesan menenangkan. Ditambah dengan penerangan dari lampu – lampu berwarna kekuningan di tempat – tempat makan berbentuk gubuk – gubuk lesehan yang nyaman, menjadikan restoran ini luar biasa nyaman.
" Nasha! Nasha! "
Aku menoleh dan melihat Tania menghampiriku dengan berlari – lari kecil. Rambut panjangnya yang hanya ditahan bando berkibar tertiup angin laut. Dia telah melepaskan blazernya, memperlihakan kemeja putih dengan style yang manis. Derap high heelsnya memecah suasana menenangkan yang tadi membuaiku.
" pesanannya sudah di antar. Kau mau jalan – jalan sampai kapan? "
" o ya? " aku tertawa sembari mengikutinya ke tempat duduk kami, sebuah ruangan yang menghadap ke laut dengan meja – meja lesehan yang nyaman, lengkap dengan tempat duduk berwarna biru yang terlihat empuk. Di meja, Sarah sudah menunggu dengan tenang dengan secangkir teh di hadapannya. 2 piring nasi dengan lauk bebek yang tampak garing menggiurkan tertata di meja kami. Sepiring cake coklat yang tampak menggiurkan terhidang di sisi meja tempat Tania duduk.
" bagaimana jalan – jalannya? " Sarah menarik piring ke arahnya, sementara Tania memainkan minuman berwarna menarik yang disajikan dalam gelas tinggi.
" menyenangkan sekali. Aku tidak tahu ada tempat makan seindah ini di Bali, " wajahku berseri – seri.
" ah, Temanku. Kau sangat kurang bergaul, " Sarah menggeleng – geleng dengan raut wajah prihatin yang dibuat – buat. Aku melempar gulungan tisu ke wajahnya yang dielakkannya dengan mudah.
" apa nama restoran ini? "
" ini Bebek Bengil di The Bay Bali, Nasha! " Tania memotong cakenya dengan lembut dan mengangsurkan sepotong padaku. Aku menerimanya dan dibuat tekejut dengan tekstur cake yang lembut di mulutku. Rasanya sangat pas. Manis, tapi tidak membuat mual. Untuk kali ini Tania sang sweet-holic berhasil membuatku kagum dengan pilihan makan malamnya.
" kau harus mencoba bebeknya, " saran Sarah. Dia sudah menghabiskan setengah bagiannya, dan kelihatannya tidak keberatan untuk menambah satu porsi lagi dan melupakan rencana dietnya.
Aku mengikuti saran Sarah dan langsung memelototi sahabatku itu dengan takjub, " oke Sar, ini bebek terenak yang pernah aku makan sepanjang aku tinggal di Bali! "
" i know, " Sarah sang tea-holic mengangkat cangkirnya dan tersenyum, " cheers for the best dinner?"
" cheers! " aku dan Tania menyentuhkan ujung gelas kami ke cangkir teh Sarah. Kami menikmati makan malam kami dalam diam. Suara debur ombak dan hembusan angin laut seperti lagu nina bobo yang membuaikan.
" kita harus datang di siang hari, " aku menatap laut yang gelap dari tempatku duduk. Debur ombaknya yang tenang membuatku tiba – tiba ingin berenang.
" kita akan datang untuk lunch, next time. " Sarah mengangguk setuju.
" dan beach activities untuk weekend, " Tania mengangguk bersemangat, " pasti menyenangkan. Bagaimana kalau bulan depan tanggal 10? "
Refleks, aku mengambil ponselku dan melihat aplikasi kalender. Sesi terapiku dengan dokter Nila selalu di tanggal 10, kecuali kalau tanggal 10 jatuh di hari Minggu. Aku mengerutkan kening, " sorry, aku nggak bisa kalau tanggal 10, "
Tania dan Sarah berpandangan penuh makna. Mungkin mereka ingin memberi kode satu sama lain, tapi mustahil bagiku untuk tidak menyadari kode rahasia mereka, karena aku duduk tepat di depan mereka.
" ada apa? " aku menatap Tania dan Sarah bergantian dengan penasaran.
Tania menatapku dengan ragu – ragu. 6 bulan kami bersahabat di kantor, aku mengenal pribadinya yang kekanak – kanakan dan sangat halus. Jelas sekali ada yang ingin dia katakan padaku, tapi kemungkinan besar hal itu akan membuatku tersinggung. Kali ini aku menoleh pada Sarah.
" sorry Nash. Kami berdua Cuma bingung. 6 bulan kita sahabatan, tapi kamu nggak pernah cerita kenapa kamu selalu ada jadwal setiap bulan, " dia menambahkan saat aku membuka mulut untuk membantah, " setiap tanggal 10, "
" kebetulan? " aku memberi alasan yang benar – benar lemah. Tania mengerang di seberang meja, sementara Sarah yang berwatak lebih keras, menatapku tajam.
" Natasha, tanggal 10 setiap bulan itu bukan kebetulan, "
" jadi sekarang aku lagi diinterogasi? " aku masih mencoba bercanda, tapi kedua sahabatku tidak bergeming.
" ada apa, Nasha? " kali ini Tania yang angkat bicara, " apa Nasha baik – baik saja? "
" kenapa kau berpikir aku tidak baik- baik saja? " kali ini gantian aku yang menatap mereka dengan curiga.
" karena kami menemukan ini terjatuh dari notes kerjamu 2 minggu yang lalu, "
Sarah merogoh tasnya dan mendorong secarik kertas ke hadapanku. Aku langsung mengenalinya sebagai copy resep obatku dari Dokter Nila.
" kenapa...Nasha punya obat dari psikiater? " Tania menatapku dengan mata coklat bulatnya yang besar dan lugu
Pandanganku terpaku pada kertas resep itu. Kenapa aku bahkan tidak menyadari kalau kertas ini menghilang dari notesku? Bodoh, Natasha! Bodoh sekali!
" Nash, kamu... " suara Sarah yang tertahan membuatku merasa semakin terpojok.
" iya! Iya gue gila! Lo berdua puas?! " aku menyambar kertas resep itu, meremasnya dengan geram, " iya, gue ke psikiater setiap tanggal 10, setiap bulan! Gue Bipolar dan ini obat – obat gue! "
Tania dan Sarah menatapku, tapi aku terlalu marah dan malu untuk menatap mereka. Rentetan kata – kata mulai keluar dari mulutku, seperti air bah.
" gue di mutasi dari Jakarta karena kinerja gue di kantor pusat jelek banget. Penyakit ini bikin mood gue nggak stabil. Gue sering nggak masuk. Kadang – kadang gue ngamuk di kantor, kadang – kadang gue bolos dari kantor karena gue depresi. Terakhir, mereka kirim gue ke sini karena ini! " aku menggulung lengan bajuku dan memperlihatkan bekas luka 5 cm di pergelangan tanganku.
" gue depresi, gue coba bunuh diri. Gue dibawa ke psikiater di Jakarta dan gue di diagnosa bipolar. Teman – teman kantor gue nggak mau punya partner kerja orang gila. Mereka minta gue di mutasi. Jadi sekarang gue di sini, " mataku kembali terasa panas. Aku menyambar tasku dan berdiri, menatap Tania dan Sarah yang menatapku dengan pandangan yang tak bisa kuartikan, " iya, gue gila. Gue tahu lo berdua jijik punya teman orang gila. Jangan salah, gue juga jijik kok sama diri gue sendiri! "
Dan dengan kata – kata itu, aku meninggalkan kedua sahabatku tanpa menoleh lagi.
***
Apa itu kebahagiaan?
Perasaan senang meluap – luap saat mood sedang naik berlebihan, itukah bahagia?
Walaupun Ibu dan Ayah bilang keberadaanku berarti, itukah bahagia?
Persahabatan dengan Tania dan Sarah, itukah bahagia?
Apa itu 'bahagia'?
Aku menatap pergelangan tanganku, lalu menatap cutter di tanganku yang lain.
Apa perasaan ini juga disebut 'bahagia'?
Aku menggoreskan cutter itu ke pergelangan tanganku.
Slice demi slice,
Kejijikan demi kejijikan,
Kamu gila Natasha! Kamu tidak pantas untuk bahagia!
Tidak cukup dalam untuk membunuh, tapi cukup menyakitkan untuk membuatku baal. Rasa sakit yang menetes bersama butir – butir darah dari luka di tanganku seperti menyedot semua sakit di hatiku. Seperti kabut putih, membersihkan diriku dari semua perasaan negatif. Perasaan baal yang kurasakan ini..
Inikah 'bahagia'?
Dering telepon rumahku membuyarkanku dari keheningan. Aku membiarkan sang penelepon berhadapan dengan mesin penjawab telepon. Suara 'piiiip' tanda rekaman dimulai mengawali sebuah monolog yang membuatku tertegun.
" Mbak Nasha, ini Pak Tono. Waktu itu kan Mbak Nasha sempat tanya sama Ibu, kebahagiaan itu apa. Kalau saya boleh berpendapat, kebahagiaan itu adalah sebuah perasaan nyaman yang kita rasakan saat kita bicara pada Tuhan lewat doa.. Kebahagiaan itu adalah saat kita dimengerti. Lalu siapa yang dapat mengerti manusia selain penciptanya? Kebahagiaan itu adalah saat sesuatu tepat mengisi hati kita. Tapi tidak akan ada hal yang tepat untuk mengisi hati kita selain Tuhan. Kenapa? Karena Tuhan yang membuat hati kita, Tuhan juga pasti tahu persis bagaimana mengisinya dengan pas. kebahagiaan yang Mbak Nasha cari, sebenarnya tidak rumit, tidak juga jauh. Karena Tuhan tidak pernah menjauh dari kita. Kita lah yang menjauh dari Nya. Kita lah yang menjauh dari kebahagiaan itu sendiri, "
Ada sesuatu lagi yang menetes. Kali ini bukan cairan merah kental dari luka di tanganku, tapi air bening yang mengalir turun dari pipiku. Kata – kata Pak Tono terngiang di telingaku. Aku melempar cutter di tanganku dan meringkuk, memeluk lututku dan mulai menangis.
Kita lah yang menjauh dari kebahagiaan itu sendiri.
***
Dear God,
I have my happinnes in You. I was searching and questioning about happinness everytime and i always failed to get the answer. I failed because i don't know You are there all along. I seached it in the farthest place i can reached, i asked it to everyone i'd meet. But nothing can fill my heart like You do. You are the happinness i'd been looking for. You accept, understand, and love me as i am, with all of my flaws. You are the eternal happinness.You are more than enough.
Dokter Nila tersenyum dan meletakkan surat kecilku itu di atas mejanya. Aku belum pernah melihat Dokter Nila tersenyum selebar itu dalam sesi terapi bulanan kami.
" jadi, apa itu kebahagiaan menurut Nasha? " Dokter Nila mengembalikan surat itu padaku.
Aku mengambil suratku dan menjawab pertanyaan Dokter Nila dengan mantap.
" Kebahagiaan adalah saat kita menyadari Tuhan mencintai, mengerti, dan menerima diri kita apa adanya, "
Dokter Nila mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku dengan hangat, " saya senang Nasha berhasil menemukan arti kebahagiaan untuk Nasha. Dan arti kebahagiaan bagi Nasha itu sangat indah. Hari ini, Nasha telah memberikan saya satu pelajaran yang sangat berharga, "
Aku merasakan wajahku memerah dan aku menunduk dengan gugup saat Dokter Nila menulis resep obatku. Dering ponsel memecah keheningan ruang praktek Dokter Nila. Aku buru – buru merogoh ponsel di tanganku dan menekan tombol reject. Aku tersenyum minta maaf pada Dokter Nila.
" Nasha sudah ada yang menunggu? " Dokter Nila menyerahkan resepku hari ini.
" i...iya Dok, " aku menerima resepku dan memasukkannya ke dalam tas, " saya ada janji makan malam dengan 2 sahabat saya. Sepertinya mereka sudah menjemput saya di luar ruang Dokter, "
" o ya? Bagus sekali. Have a good dinner Nasha. Sampai bertemu bulan depan, "
" sampai bertemu bulan depan, Dok. "
***



0 komentar:
Posting Komentar